Transisi dari duka mendalam ke kehidupan sehari-hari memang canggung, dan Vania, dari alam barzakh, menemukan hiburan yang tak terduga dalam momen-momen kikuk tersebut. Fokus Vania sering tertuju pada Lev Ryley, pria blasteran yang masih mencoba memahami cara kerja emosi orang Banjar yang terkadang ekspresif namun mendalam.
Teman-teman dekat Vania dan Lev—Rian si ahli IT yang kaku, dan Sari si guru seni yang ceria—memutuskan bahwa Lev perlu disibukkan. Rencana mereka adalah memasak besar bersama di dapur rumah Vania, sebuah kegiatan yang biasanya dipimpin oleh Vania sendiri.
Vania menyaksikan dari "kursi penonton" spiritualnya. Cahaya yang dipancarkan Rian dan Sari menunjukkan niat baik mereka yang tulus.
"Oke, Lev, hari ini kita bikin Soto Banjar spesial buat sarapan besok. Biar semangat!" seru Sari penuh energi, sambil mengenakan celemek motif sasirangan.
Lev, yang hanya mahir memasak mi instan dan steak ala Barat, mengangguk pasrah. "Baik, Sari. Apa yang harus kulakukan?"
"Potong bawang merah ini sampai halus," instruksi Sari.
Vania menahan tawa rohnya. Lev yang tampan dan klimis itu tampak kesulitan memegang pisau dapur biasa, apalagi menghadapi bawang merah lokal yang ukurannya kecil. Belum lagi uap pedas bawang yang langsung membuat matanya berair.
"Astaga, Lev," gumam Vania.
Rian, yang bertugas mengulek bumbu, juga tidak kalah canggung. Dia mengulek dengan semangat berapi-api, tetapi bumbunya malah mental ke mana-mana, termasuk mengenai kemeja putihnya.
"Rian! Pelan-pelan!" Sari memekik, sementara Vania tergelak tanpa suara. Momen ini—pertama kalinya dia tertawa sejak meninggal—memberinya kelegaan luar biasa. Kehidupan terus berjalan, lengkap dengan kekonyolan manusianya.
Puncak komedi terjadi saat Lev diminta menuangkan santan kental dari panci ke dalam kuah soto. Karena lengah, dia malah menumpahkan hampir setengah liter santan ke lantai dapur. Bu Fatma yang sedang melintas hanya bisa menggeleng pasrah, meskipun ada senyum kecil di bibirnya.
"Maaaf, Bu! Ya Allah, licin sekali!" Lev panik, sementara Rian dan Sari berusaha membersihkan lantai yang kini seperti arena ice skating dadakan.
Vania, melihat cahaya tulus dan niat baik mereka di balik kekacauan dapur, merasakan kehangatan yang mendalam. Mereka melakukan ini demi menghilangkan kesedihan, dan cara mereka yang kikuk justru berhasil menghadirkan tawa di rumah duka itu.
Di alam barzakh, Syekh yang mendampingi Vania tersenyum. "Kau lihat, Vania? Allah memberikan hiburan dalam bentuk yang tak terduga. Komedi adalah bagian dari slice of life yang mengobati duka. Cahaya mereka bersinar lebih terang sekarang."
Vania mengangguk. Dia menyadari bahwa fokusnya yang terus-menerus pada kesedihan telah menghalangi pandangannya terhadap momen-momen pemulihan ini. Dia berdoa dalam hatinya, mendoakan agar Soto Banjar mereka berhasil dan agar Lev segera move on dari kecanggungan dapurnya.
Malam itu, meskipun Soto Banjar mereka rasanya agak hambar karena santan yang tumpah, mereka makan bersama sambil sesekali tertawa mengingat insiden dapur. Vania menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang lebih ringan. Ikatan mereka, persahabatan mereka, tidak luntur oleh kepergiannya.
