Pada tahun kesepuluh kenabian, badai ujian kembali menghantam jiwa Nabi Muhammad SAW, kali ini dari arah yang paling tidak terduga. Bukan lagi berupa teror dari kaum Quraisy, melainkan kehilangan yang menghancurkan hatinya. Tahun itu kemudian dikenal sebagai Amul Huzni, atau Tahun Kesedihan, sebuah periode di mana Rasulullah SAW harus kehilangan dua sosok yang paling ia cintai dan menjadi pilar penopang dalam hidup dan dakwahnya.
Orang pertama yang dipanggil kembali ke hadapan Ilahi adalah paman beliau, Abu Thalib. Meskipun tidak pernah memeluk Islam, Abu Thalib adalah pelindung utama Nabi Muhammad SAW. Dengan pengaruhnya sebagai pemimpin klan Bani Hasyim, ia selalu berdiri di garis depan untuk membela Nabi Muhammad SAW dari setiap ancaman kaum Quraisy. Perlindungannya ibarat perisai yang kokoh, membuat kaum Quraisy tidak berani bertindak terlalu jauh. Kepergian Abu Thalib meninggalkan lubang besar dalam perlindungan Nabi Muhammad SAW. Ia kehilangan pelindung duniawinya, meninggalkan beliau rentan terhadap kekejaman yang tak terbayangkan.
Namun, duka itu belum usai. Beberapa bulan setelah wafatnya Abu Thalib, cobaan lain yang lebih berat datang. Khadijah, istri tercinta yang selalu menjadi sandaran, pendukung setia, dan orang pertama yang beriman, juga berpulang. Wafatnya Khadijah adalah pukulan telak bagi Nabi Muhammad SAW. Khadijah bukan hanya seorang istri, tetapi juga sahabat terbaik, penasihat terpercaya, dan orang yang selalu menghibur beliau di saat-saat tersulit. Kehilangan Khadijah seolah mencabut separuh jiwanya. Beliau merasa sangat sepi, kehilangan kehangatan cinta yang tulus dan dukungan tak terbatas yang selama ini menopangnya.
Nabi Muhammad SAW mengantar sendiri jenazah kedua orang yang dicintainya itu ke pemakaman. Air matanya menetes, bukan karena keputusasaan, melainkan karena perpisahan yang begitu menyakitkan. Di tengah kesedihan yang mendalam, beliau tetap tegar. Beliau tahu, ini adalah takdir dari Allah, dan hanya kepada-Nya lah beliau bersandar.
Dengan wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, kaum Quraisy melihat celah. Mereka merasa kini tak ada lagi yang bisa melindungi Nabi Muhammad SAW. Tekanan dan intimidasi semakin meningkat. Mereka tidak lagi takut untuk melampaui batas. Nabi Muhammad SAW dilempari kotoran, dicaci maki di jalanan, bahkan diancam dibunuh. Kondisi ini membuat para sahabat khawatir, namun mereka tak bisa berbuat banyak.
Di tengah situasi yang semakin genting, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk mencari perlindungan di luar Mekkah. Beliau pergi ke Thaif, sebuah kota di dekat Mekkah, berharap bisa mendapatkan dukungan dari kabilah Tsaqif. Namun, perlakuan yang ia terima di sana jauh lebih kejam dari apa yang pernah ia bayangkan. Tidak hanya penduduknya yang menolak dakwah beliau, mereka bahkan mengusir dan memerintahkan anak-anak dan budak mereka untuk melempari Nabi Muhammad SAW dengan batu.
Nabi Muhammad SAW terluka, kakinya berdarah, namun beliau tetap sabar. Dalam kesendirian dan penderitaan, beliau berdoa kepada Allah dengan doa yang menyentuh hati, memohon kekuatan dan pertolongan. Doa itu adalah cerminan dari kesabaran dan cinta yang tak terbatas kepada umatnya, bahkan kepada mereka yang telah menyakitinya. Beliau tidak berdoa agar mereka celaka, melainkan berdoa agar hati mereka dilembutkan oleh iman.
Setelah kembali ke Mekkah, dalam keadaan yang lebih buruk dari sebelumnya, Nabi Muhammad SAW merasakan titik terendah dalam hidupnya. Namun, di tengah kegelapan itu, Allah tidak meninggalkannya. Justru, Allah ingin menunjukkan bahwa Dia adalah pelindung sejati. Allah ingin menghibur kekasih-Nya, menunjukkan kepadanya kemuliaan yang jauh lebih besar dari penderitaan yang ia alami. Tahun Kesedihan adalah ujian yang membersihkan jiwa, menguatkan iman, dan mempersiapkan Nabi Muhammad SAW untuk sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, sebuah perjalanan yang akan mengubah duka menjadi anugerah yang tak terhingga.
