Di antara hiruk pikuk semangat sepak bola Haris dan Zayn, Zoya, sang sulung, menjalani dunianya yang berbeda namun tak kalah menantang. Sebagai mahasiswi di Central Saint Martins, salah satu perguruan tinggi seni dan desain paling prestisius di dunia, Zoya berada di garis depan benturan budaya, ideologi, dan ekspresi diri.
Pagi itu, Zoya sedang berada di studio kampusnya, di distrik King's Cross yang trendi. Ruangan besar yang dipenuhi kanvas, cat berserakan, dan mahasiswa dengan gaya busana eksentrik, adalah habitat Zoya. Di sana, ia sedang mengerjakan tugas akhir semester: sebuah proyek seni kontemporer yang harus merefleksikan identitas pribadi dalam konteks masyarakat urban London.
Dosen pembimbingnya, Profesor Albright, seorang seniman konseptual kawakan Inggris yang terkenal kritis, berdiri di depan karya Zoya. Karya itu berupa instalasi kain yang dibentuk menyerupai hijab raksasa, dengan sulaman benang emas yang membentuk peta jaringan transportasi London Tube.
"Menarik, Zoya," komentar Profesor Albright dengan aksen Inggris yang kental, menopang dagunya. "Sebuah komentar tentang mobilitas dan pembatasan? Atau mungkin tentang bagaimana iman membungkus identitas di kota yang serba cepat ini?"
Zoya, mengenakan smock lukis yang menutupi blusnya, menjelaskan visinya. "Ini tentang keterhubungan, Profesor. Bagaimana identitas saya sebagai Muslimah di London tidak terisolasi. Hijab ini bukan pembatas, tapi justru konektor. Setiap jalur Tube mewakili interaksi saya dengan budaya yang berbeda setiap hari—dari Brent yang multikultural, ke King's Cross, lalu mungkin ke Notting Hill."
Profesor Albright mengangguk pelan. "Ideologinya kuat. Tapi secara estetika, terlalu... literal. Terlalu nyaman. Seni kontemporer yang bagus seharusnya menantang, Zoya. Seharusnya membuat penonton tidak nyaman. Di sini, saya hanya melihat keindahan yang aman."
Kritik itu menghantam Zoya. "Aman" adalah kata yang paling ia hindari. Ia ingin karyanya jujur, tapi ia juga tidak ingin mengorbankan keyakinannya demi sensasi seni. Beberapa teman kuliahnya sering membuat karya yang provokatif, bahkan cenderung vulgar atau menyinggung agama. Zoya bertekad menunjukkan bahwa seni Islami bisa kuat tanpa harus melucuti nilai-nilai kesopanan.
Malam harinya, di rumah, Zoya menuangkan kegelisahannya saat makan malam.
"Profesor Albright bilang karyaku terlalu 'nyaman'. Dia mau aku lebih menantang," cerita Zoya, memainkan nasinya.
Haris berhenti mengunyah rendang. "Menantang bagaimana maksudnya? Disuruh pakai bikini di tengah Trafalgar Square sambil teriak 'Allahu Akbar'?"
Aisyah mencubit lengan Haris pelan. "Hus, Abi! Jangan sembarangan. Profesornya pasti punya maksud artistik, Zoya. Mungkin dia mau kamu keluar dari zona nyaman representasi visual yang sudah umum."
Zayn, yang biasanya hanya peduli soal MU, ikut berkomentar. "Profesornya mungkin gak paham kali, Kak, kalau hidup jadi Muslim di London itu sudah tantangan tersendiri. Gak perlu bikin karya seni yang aneh-aneh."
Hana, si pakar cilik, menyela, "Mungkin Profesor Albright itu fans Liverpool, Kak. Makanya seleranya jelek."
Haris tertawa terbahak-bahak mendengar hipotesis Hana. Tapi Zoya tetap murung.
"Aku cuma mau nunjukin kalau Muslimah di London itu keren, punya suara, dan bisa berdaya, tanpa harus jadi orang lain. Tapi di dunia seni, hal yang 'indah dan nyaman' sering dianggap lemah," keluh Zoya.
Haris menatap putrinya dengan serius. "Zoya, tujuanmu berkarya seni itu untuk siapa? Untuk Profesor Albright? Atau untuk dirimu sendiri dan untuk menunjukkan keindahan Islam?"
"Untuk diriku sendiri, Abi," jawab Zoya lirih.
"Kalau begitu, jangan biarkan orang lain mendikte identitasmu. Karyamu adalah suaramu. Kalau mereka anggap 'aman', biarkan saja. Stand your ground. Sama seperti MU yang harus tetap teguh dengan gaya bermain menyerangnya, meskipun dikritik sana-sini," nasihat Haris, kembali ke analogi favoritnya.
Nasihat Haris, meskipun dibungkus metafora sepak bola, menyentuh hati Zoya. Ia sadar, London adalah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri: seorang seniman Muslimah yang bangga dengan hijabnya, yang cintanya pada seni sekuat cintanya pada keluarga dan, ya, Manchester United.
Zoya tersenyum. Sebuah ide baru muncul di benaknya. Ia akan membuat karyanya lebih berani, bukan dengan menyingkirkan identitasnya, tapi dengan merayakan kerumitan dan kontradiksi hidup di London sebagai seorang Muslimah modern. Proyek seninya tidak akan lagi "aman," tapi akan menjadi representasi jujur dari "Hijrah Hati di London" yang ia dan keluarganya jalani setiap hari.
