Mentari pagi di Kota Banjarmasin merangkak naik, memantulkan bias keemasan di permukaan Sungai Jingah yang tenang. Aroma khas kota seribu sungai—campuran udara segar, sedikit asap dari dapur tetangga yang mulai mengepul, dan harum kue bingka yang baru matang—menguar lembut ke udara. Di rumah kontrakan sederhana namun penuh kehangatan itu, aktivitas keluarga Lev Ryley dan Anindya Putri sudah dimulai sejak subuh.
Di ruang tamu, Lev, sang kepala keluarga, sedang mencoba menyembunyikan paket-paket kardus berukuran sedang di balik sofa. Keringat tipis membasahi pelipisnya, bukan karena udara panas, tapi karena ketakutan.
"Ayah, kenapa paketnya disembunyikan?" suara polos Rayyan Zuhayr, si bungsu berusia enam tahun, mengejutkan Lev. Rayyan dengan piyama bergambar dinosaurusnya menatap sang ayah dengan mata bulat polos.
Lev tersentak. "Astaghfirullah, Rayyan. Jangan bilang siapa-siapa, ya. Ini... ini kejutan buat Ibu."
"Kejutan? Isinya apa Yah? Mainan pedang-pedangan?" Rayyan mencoba mengintip.
"Bukan, ini... skincare maybe? Atau baju? Ayah nggak tahu persis, yang penting volumenya besar," bisik Lev pasrah. Istrinya, Anindya, memang sedang naik daun sebagai influencer belanja online lokal. Setiap hari pasti ada saja paket datang, membuat Lev si pekerja IT kewalahan dengan manajemen logistik di rumah sendiri.
Di dapur, Anindya sedang sibuk menyiapkan sarapan, sesekali melirik ponselnya yang tak henti-hentinya menampilkan notifikasi grup majelis taklim dan pesanan afiliasi Shopee. Wajahnya yang ceria tak pernah pudar.
"Assalamualaikum, Bu Bendahara!" sapa Aisyah Humaira, putri sulung mereka, yang baru keluar dari kamarnya dengan wajah berseri-seri. Rambutnya dikuncir rapi, siap untuk hari yang besar.
"Waalaikumsalam, Aisyah Sayang. Masya Allah, cerah sekali mukamu pagi ini. Pasti ada kabar baik, kan?" tebak Anindya, mengaduk nasi goreng dengan cekatan.
"Ada dong, Bu! Tapi nanti nunggu Ayah sama yang lain kumpul," jawab Aisyah misterius, matanya berbinar. Di usianya yang ke-17, Aisyah tumbuh menjadi gadis cerdas, organisatoris ulung di sekolahnya, dan kecantikannya mengingatkan orang pada julukan 'Humaira' (pipi merah) yang disematkan Rasulullah SAW pada istrinya, Aisyah RA.
Tak lama kemudian, Maryam Safiya (11 tahun), si pendiam yang berbakat seni, sudah duduk manis di meja makan dengan sketchbook di tangannya, sibuk menggambar sketsa pemandangan luar jendela. Di sebelahnya, Ghina Qalbi (9 tahun), si lincah dan ekspresif, sudah ribut memprotes Maryam yang mengambil tempat duduk favoritnya.
"Maryam, itu kursiku! Aku kan mau lihat kucing di luar!" rengek Ghina.
"Tapi kan kursinya banyak, Ghina. Sama aja pemandangannya," balas Maryam lembut tanpa mengalihkan pandangan dari gambarnya.
"Sudah, sudah, anak-anak. Nanti Ayah yang ganteng ini melerai," Lev muncul dari ruang tamu, berpura-pura batuk untuk menutupi kepanikannya soal paket. "Ayo sarapan, habis ini kita kumpul di ruang tengah. Aisyah punya pengumuman penting."
Semua mata tertuju pada Aisyah. Setelah doa makan dibacakan, suasana tegang (campur penasaran) menyelimuti ruang makan.
"Jadi, Ayah, Ibu, Maryam, Ghina, Rayyan..." Aisyah menarik napas panjang. "Alhamdulillah, berkat doa kalian semua... Aisyah diterima di PGSD ULM!"
"Allahu Akbar!" seru Anindya spontan, langsung memeluk putrinya erat. Matanya berkaca-kaca.
Lev tersenyum bangga, menepuk bahu Aisyah. "Masya Allah, Nak. Barakallahu fiik. Ayah bangga sekali."
Maryam tersenyum tipis dan mengangkat ibu jarinya. Ghina dan Rayyan ikut bersorak, meski tidak begitu paham apa itu PGSD ULM, yang penting ada perayaan.
Suasana haru menyelimuti keluarga kecil itu. Ini adalah buah dari doa dan usaha keras Aisyah. Anindya menyeka air matanya dengan tisu.
"Ini kado terindah, Aisyah," ujar Anindya. "Sekalian kado ulang tahunmu yang ke-17 besok, dan juga kado ulang tahun pernikahan kita, Yah!"
Lev mengangguk. "Tepat dua belas tahun lalu, kita memulai perjalanan hidup kita. Dari nazar ziarah para wali, sampai sekarang keluarga kita jadi ramai begini."
"Kita harus rayakan ini, Yah!" seru Anindya, semangatnya kembali membara. "Pesta di rumah?"
"Terlalu biasa, Bu," timpal Aisyah lembut. "Aisyah punya ide."
Semua mata kembali ke Aisyah.
"Ayah dan Ibu kan dulu ketemu di pesawat menuju Manchester, kan?" Aisyah memulai. "Gimana kalau kita liburan ke Manchester? Sekalian napak tilas cinta pertama kalian, terus lanjut ke Swiss yang alamnya indah banget itu? Aisyah sudah cari di Google, tempatnya family friendly dan banyak spot viral!"
Anindya langsung melototkan matanya, bukan karena marah, tapi karena excited luar biasa. Ide itu sempurna! "Ya Allah, Aisyah! Influencer belanja online mana yang mengajarimu ide sebrilian ini? Ibu setuju seratus persen!"
Wajah Lev langsung pucat pasi. Manchester? Swiss? Enam orang? Anggaran?
"Bu, Aisyah, kita ini keluarga PNS dan influencer lokal, bukan sultan Brunei," bisik Lev, mencoba realistis.
"Ayah, jangan khawatir! Kan ada rezeki dari Allah. Lagipula, ini momen langka. Tujuh belas tahun, Yah! Angka cantik!" Anindya memeluk lengan suaminya, mengeluarkan jurus mautnya.
Ghina dan Rayyan yang mendengar kata "salju" dan "pesawat" langsung melompat kegirangan. Maryam sudah membuka halaman baru di sketchbook-nya, mulai menggambar sketsa gunung bersalju.
Lev menatap wajah bahagia istri dan anak-anaknya. Hatinya luluh. Prinsip-prinsip luhur tentang rasa syukur yang ia petik dari perjalanan ziarah pertamanya dulu kembali terngiang. Kebahagiaan bukan tentang materi semata, tapi tentang momen kebersamaan.
"Baiklah," putus Lev akhirnya, menghela napas pasrah. "Tapi Ayah yang atur itinerary dan budgeting-nya! Tidak ada belanja online dadakan yang aneh-aneh, Bu Anindya!"
Anindya tersenyum penuh kemenangan. "Siap, Pak Lev Ryley! Deal! Banjarmasin, siap-siap ditinggal sebentar. Manchester dan Swiss, kami datang!"
Keluarga kecil di Sungai Jingah itu kini dipenuhi gelombang antusiasme baru. Petualangan baru, penuh hikmah, tawa, dan tantangan logistik khas perjalanan darat-laut-udara (dan kereta api) bersama empat anak, baru saja dimulai.
