Kata Kunci SEO untuk Bab ini: Bab 2 Novel Lensa Satwa, Vania Larasati summoner, Anatasya ahli biologi, Pertemuan di Siring Banjarmasin, Artefak Kuno Indonesia.
Lev Ryley mengayuh sepedanya secepat mungkin menyusuri jalanan Brigjen Hasan Basri menuju kawasan Siring Kota Banjarmasin. Pikirannya kalut. Di tasnya, kamera tua kakeknya terasa memberat, dan kartu pipit tadi diselipkannya aman di dompet. Apakah ia gila? Atau dunia yang baru saja berubah?
Setibanya di area Siring Nol Kilometer, pusat keramaian kota di tepi Sungai Martapura, Lev segera mencari dua temannya. Kerumunan mahasiswa fotografi sudah terlihat, sibuk dengan tripod dan kamera digital mereka, membidik patung bekantan raksasa yang menjadi ikon kota.
Lev melihat Vania dan Anatasya berdiri di bawah pohon rindang, sedikit menjauh dari kerumunan kelas. Vania, dengan rambut cepak khasnya dan kaus olahraga, sedang serius mengamati gelang batu akik berwarna merah darah di pergelangan tangannya. Di sebelahnya, Anatasya, gadis kalem berhijab dengan ransel penuh buku, tampak memegang sebuah liontin perak berbentuk tetesan air.
"Woy, Lev! Setengah jam lo telat!" sambut Vania begitu Lev mendekat. Ia melipat tangannya di dada, memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk dari latihan bela diri rutin.
"M-maaf, Van! Macet," Lev mencoba berbohong, nafasnya terengah-engah.
"Macet apaan? Lo kan naik sepeda, Lev," balas Vania sinis. "Lagian, lo bawa tas kamera segede gaban gitu kok bisa telat."
Lev mengabaikan sindiran Vania dan langsung menatap Anatasya. "Tasya, Van, gue... gue serius soal tadi."
Anatasya menatap Lev dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Soal summon burung gereja itu, Lev? Kamu yakin cuma halusinasi?"
"Nggak! Dia nyata! Bentar," Lev merogoh dompetnya dan mengeluarkan kartu transparan pipit tadi.
Vania dan Anatasya mendekat. "Ini beneran kartu, bukan foto," ujar Anatasya sambil mengamati kartu itu dengan seksama.
"Tadi dia muncul di meja gue persis kayak gini wujudnya," tambah Lev, "Tapi bisa disentuh dan ngeluarin angin pas terbang."
Vania menyeringai. "Oke, gue percaya. Soalnya gue juga ngalamin hal yang sama."
Lev dan Anatasya serentak menoleh ke Vania. "Seriusan?"
Vania mengangguk. Ia mengangkat pergelangan tangannya yang berhiaskan gelang batu akik merah darah. "Ini gelang warisan dari nenek gue. Tadi pagi, pas gue mau berangkat, batunya panas banget. Terus tiba-tiba muncul notifikasi aneh di pikiran gue, kayak... 'Artefak Aktif: Gelang Sang Petarung'."
Anatasya membuka mulutnya terkejut. "Notifikasi? Di pikiran?"
"Iya," lanjut Vania. "Terus gue iseng, gue sentuh seekor kucing oren yang lagi tidur di depan rumah. Wush! Kucingnya ngilang, terus muncul kartu kayak punya Lev, tapi warnanya merah!"
Vania mengeluarkan kartu merah dari sakunya. "Spesies: Kucing Domestik (Felis catus). Rank: E. Skill: Cakaran Lincah."
"Gue coba summon dia lagi, dan dia muncul! Lincah banget, langsung manjat pohon mangga gue dalam sekejap. Tapi sama kayak punya Lev, dia kayak hologram tapi nyata," jelas Vania bersemangat.
Lev dan Anatasya saling pandang. Dunia mereka benar-benar sudah berubah.
"Kalian berdua punya artefak aktif dan bisa summon binatang?" tanya Anatasya pelan, tangannya memegang liontin perak miliknya. Liontin itu terasa dingin dan bergetar halus.
"Jangan bilang lo juga, Tasya?" tanya Lev penasaran.
Anatasya mengangguk ragu. "Liontin ini... kata Ibu ini peninggalan buyut yang seorang tabib hutan legendaris. Tadi pagi, liontin ini bersinar hijau. Ada tulisan 'Artefak Aktif: Lensa Pengetahuan'."
"Lensa Pengetahuan?" ulang Vania. "Punya lo nggak ada skill summon?"
"Sepertinya fungsi artefak kita berbeda," Anatasya mulai berpikir secara ilmiah, naluri biologinya muncul. "Punya Lev kameranya menangkap, punya Vania gelangnya mengendalikan fisik, dan punya gue... menganalisis."
Tiba-tiba, Pak Dosen Killer, Prof. Rahmat, berdehem keras di dekat mereka. "Baik, mahasiswa! Tugas kalian hari ini adalah menangkap esensi alam Kota Banjarmasin. Bidiklah objek yang paling unik, yang merepresentasikan kearifan lokal kita!"
Semua mahasiswa bubar mencari objek foto. Trio Lev, Vania, dan Anatasya tetap di tempat.
"Oke, kita harus coba ini. Sesuatu yang lebih besar dari pipit atau kucing," bisik Vania, matanya tertuju pada patung bekantan raksasa yang berdiri gagah.
"Jangan patungnya, Van! Binatang aslinya!" bisik Anatasya.
Mata Lev tertuju ke arah pohon besar di dekat pagar Siring. Di dahan paling atas, seekor Bekantan jantan berhidung mancung khas Kalimantan sedang duduk santai sambil makan buah.
"Itu targetnya," kata Lev.
Vania menyeringai. "Ayo tangkap dia!"
Dengan Anatasya sebagai pemandu ilmiah, Vania sebagai pengalih perhatian (ia mulai melompat-lompat aneh di bawah pohon), dan Lev sebagai juru potretnya, babak kedua petualangan mereka dimulai. Mereka belum tahu, upaya "menangkap" Bekantan ini akan menjadi awal dari kekacauan komedi terbesar di Siring Nol Kilometer hari itu, menarik perhatian organisasi jahat yang diam-diam mengawasi setiap pergerakan summoner baru di Banjarmasin.
