Udara Banjarmasin di pagi hari selalu memiliki aroma khas: perpaduan antara uap sungai, sedikit bau pasar basah, dan aroma kopi robusta yang menguar dari warung-warung di tepi jalan Kayu Tangi. Di salah satu rumah bercat krem dengan halaman penuh tanaman hias, Vania Larasati menyesap teh hangatnya perlahan. Usianya baru 27 tahun, tetapi sorot matanya menyimpan kedewasaan yang mendalam, sisa-sisa perjuangan panjang melawan penyakit langka yang menggerogoti tubuhnya selama dua tahun terakhir.
Vania adalah guru bahasa Inggris di salah satu SMA favorit di kota itu. Cantik, cerdas, dan ramah—kombinasi yang membuatnya dicintai murid-murid dan rekan kerja. Namun, kecantikan fisik itu kini sedikit memudar digantikan oleh kulit yang lebih pucat dan tubuh yang lebih kurus. Diagnosis dokter sudah jelas, dan Vania menerimanya dengan senyum ikhlas yang sering membuat orang tuanya, Pak Arifin dan Bu Fatma, menangis diam-diam.
Pagi itu, Vania merasa luar biasa ringan. Tidak ada lagi nyeri menusuk di dada, tidak ada lagi pusing berdenyut.
"Bu, Vania mau ke teras belakang ya, mau lihat Sungai Martapura," ujarnya lembut kepada Bu Fatma yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Iya, Nak, hati-hati," jawab Bu Fatma, hatinya sedikit teriris melihat langkah putrinya yang semakin rapuh.
Vania duduk di kursi kayu favoritnya di teras belakang, menghadap langsung ke aliran sungai yang tenang. Perahu-perahu kecil—kelotok—mulai hilir mudik, mengangkut barang atau penumpang. Vania tersenyum. Inilah slice of life yang akan ia rindukan. Suara azan Subuh masih menggema samar dari masjid seberang.
Pikirannya melayang pada Lev Ryley, kekasihnya. Lev, seorang arsitek muda blasteran yang memilih menetap di Banjarmasin karena jatuh cinta pada budaya dan Vania. Dua tahun ini, Lev adalah pilar kekuatannya, selalu mendampingi ke rumah sakit, membawakan bunga anggrek pensil khas Kalimantan, dan membacakan buku di samping ranjangnya. Vania tahu, kepergiannya nanti akan sangat menghancurkan Lev.
"Ya Allah, mudahkanlah urusan mereka setelah aku tiada," bisiknya.
Tiba-tiba, rasa kantuk yang luar biasa menyerang. Matanya terasa berat. Bukan kantuk biasa, ini adalah ketenangan absolut. Nyeri yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya menghilang sempurna, digantikan oleh kehangatan yang merambat ke seluruh tubuh. Vania bersandar, memejamkan mata, dan napasnya melambat, sangat lambat. Diiringi suara kelotok dan azan yang hampir selesai, Vania Larasati berpulang dengan damai.
Di ruang tamu, suasana berubah drastis beberapa menit kemudian. Tangisan Bu Fatma pecah saat mendapati putrinya sudah terbujur kaku di kursi teras, dengan senyum tipis di bibirnya. Pak Arifin memeluk istrinya erat, mencoba tegar meski hatinya hancur berkeping-keping.
Berita menyebar cepat. Sore harinya, rumah Vania di Kayu Tangi dipenuhi pelayat. Karangan bunga memenuhi halaman. Para murid menangis tersedu di gerbang.
Lev Ryley tiba dengan wajah pasi. Matanya merah, seolah sudah menangis berjam-jam. Dia berdiri di samping jenazah Vania, yang terlihat begitu damai seolah tertidur. Hatinya menjerit, janji-janji masa depan yang mereka ukir bersama kini sirna ditelan takdir.
"Kamu bilang mau lihat sunset di Jembatan Barito sama-sama, Van," bisik Lev lirih, mengecup kening Vania untuk terakhir kali sebelum jenazah ditutup kain kafan.
Di tengah kerumunan duka, sesuatu yang ajaib terjadi. Vania "terbangun".
Ia berdiri di sudut ruangan, melihat jasadnya sendiri dikelilingi orang menangis. Ia menyentuh lengannya, mencoba mencubit, tetapi tidak merasakan apa-apa. Tubuhnya terasa ringan, transparan.
"Astaghfirullah, apa ini?" Vania panik. Ia berlari ke arah ibunya, mencoba memeluk, tetapi tangannya menembus tubuh Bu Fatma. Ia mencoba memanggil Lev, tetapi suaranya hanya desiran angin yang tidak didengar siapa pun.
Kesedihan Vania sebagai roh memuncak. Ia tersesat di antara dua alam, bingung, takut, dan diliputi kerinduan yang baru saja dimulai. Ia hanya ingin tahu: bagaimana mereka bisa hidup tanpanya? Apakah mereka akan baik-baik saja? Babak baru perjalanan Vania di alam yang tak dikenal baru saja dimulai, dengan satu tujuan: mengintip kehidupan yang ditinggalkannya di Banjarmasin.
