Dua minggu berlalu dalam hiruk pikuk administrasi. Berkas demi berkas Lev urus, dari tes kesehatan hingga sumpah janji PNS. Akhirnya, SK penempatan keluar, dan ia resmi menjadi bagian dari dinas di lingkungan Pemprov Kalimantan Selatan. Gaji pertama yang ditransfer ke rekening terasa seperti mimpi. Nazar itu kini bukan lagi angan-angan, melainkan sebuah rencana nyata yang siap dieksekusi.
Malam itu, meja ruang tamu kontrakan disulap menjadi markas komando perjalanan. Sebuah peta besar Pulau Kalimantan dan Jawa terhampar, dipenuhi coretan spidol merah dan biru.
"Oke, timeline kita dua minggu," ujar Lev penuh semangat, menunjuk peta Kalsel dengan pulpen. "Prioritas utama di Kalsel: Guru Sekumpul di Martapura, Guru Zuhdi di Banjarmasin, dan Datu Kelampayan di Banjarbaru. Setelah itu, kita terbang ke Surabaya, lanjut darat keliling Jawa Timur, Tengah, dan Barat."
Anindya, yang sedang sibuk menyortir pakaian Aisyah, mendengarkan dengan separuh hati. Pikirannya lebih terfokus pada logistik. "Mas, ini perjalanannya road trip kan? Pakai mobil?"
"Ya, mobil sewaan, biar lebih fleksibel," jawab Lev.
"Fleksibel apanya?" Anindya mulai panik. "Mas, ini bawa anak umur lima tahun, lho. Bukan backpacking zaman kita kuliah dulu. Kita butuh car seat, stroller, persediaan popok, susu, snack lima jenis berbeda, boneka kesayangan Aisyah yang nggak bisa dicuci, dan P3K lengkap."
Lev tersenyum optimis. "Tenang, Nindya. Sudah Mas catat semua di excel. Semua terencana."
Tiba-tiba, Aisyah Humaira, sang subjek logistik, muncul dari kamarnya dengan wajah cemberut. Di tangannya, sebuah spidol permanen berwarna hitam.
"Umi, Abi, Aisyah mau ikut coret-coret," rengeknya.
Sebelum Lev sempat bereaksi, Aisyah sudah menorehkan garis tebal melintang di tengah-tengah peta Pulau Jawa yang baru saja dibeli Lev.
"Aisyah! Ya ampun, peta Abah!" Lev refleks kaget.
Aisyah bukannya takut, malah tertawa geli. "Jalan tol baru, Abah! Biar cepat sampai!"
Anindya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi panik suaminya dan hasil karya seni Aisyah. Rencana matang Lev yang baru berumur lima belas menit sudah berantakan secara harfiah.
"Tuh kan, Mas. Rencana kita nggak akan pernah matang kalau ada Aisyah," kata Anindya sambil menggendong putrinya. "Kita butuh fleksibilitas yang sesungguhnya, bukan cuma di atas kertas excel."
Lev menghela napas, menatap coretan spidol permanen di peta. Dia tahu Anindya benar. Perjalanan ini akan penuh improvisasi.
Keesokan harinya, persiapan berlanjut ke tahap yang lebih serius: packing. Ini adalah babak komedi tersendiri. Lev mencoba menerapkan metode packing minimalis, sementara Anindya menganut paham "lebih baik bawa daripada kurang".
"Mas, kita cuma dua minggu di Jawa," protes Lev saat Anindya memasukkan empat pasang sepatu yang berbeda model ke dalam koper besar.
"Ini buat kondangan kalau ada undangan mendadak, ini buat ke pantai, ini buat ziarah, ini buat jalan-jalan santai," Anindya membela diri.
"Kapan kita ke pantai di tengah ziarah wali, Nindya?"
"Siapa tahu ada waktu luang di Tuban!"
Drama packing berlangsung selama tiga jam. Akhirnya, mereka berhasil mengemas dua koper besar, satu koper kabin, satu tas punggung Lev, dan satu tas khusus perintilan Aisyah. Total lima bagasi untuk tiga orang.
Saat mereka beristirahat, Lev teringat sesuatu. Dia membuka laci, mengambil sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada tasbih digital dan buku saku doa ziarah. Dia menyerahkannya pada Anindya.
"Apapun yang terjadi selama perjalanan nanti, semoga niat kita lurus, Nindya. Ini semua demi nazar, demi mencari berkah para aulia, dan yang terpenting, demi mengajarkan Aisyah tentang sejarah Islam di negeri ini," ucap Lev lembut.
Anindya menerima benda-benda itu. Wajahnya yang tadi penuh gurauan berubah serius. "Iya, Mas. Semoga Allah mudahkan perjalanan kita."
Di luar, azan Isya berkumandang merdu dari musala terdekat. Keluarga kecil itu beranjak untuk mengambil wudu. Rencana di atas kertas mungkin berantakan, tetapi rencana hati mereka sudah tertata rapi. Petualangan sesungguhnya akan dimulai esok pagi, meninggalkan kenyamanan Banjarmasin menuju tanah para alim.
