Emily memutuskan untuk menelepon Antoine lagi. Ia merasa perlu membagi cerita ini secara langsung, bukan hanya melalui pesan singkat. Mereka berjanji bertemu di tepi Sungai Seine saat matahari terbenam. Pemandangan sunset di Paris adalah salah satu hal yang paling romantis, dan Emily merasa sudah siap untuk melihatnya dengan mata yang lebih terbuka. Ia duduk di sebuah bangku, memandangi air sungai yang mengalir tenang. Ia merasakan kedamaian yang sudah lama hilang. Menikmati sunset di Paris adalah pengalaman baru baginya, sebuah pengalaman yang ia nikmati sendirian, tetapi tidak merasa kesepian.
Saat Antoine tiba, Emily sudah menunggunya. Ia menunjukkan cincin yang ia temukan. Antoine terkejut, dan Emily menceritakan kisahnya. Antoine mendengarkan dengan penuh empati. Ia tidak menyela, ia hanya mendengarkan. Setelah Emily selesai bercerita, Antoine berkata, “Adam pasti sangat mencintaimu. Ia ingin kau bahagia, bahkan setelah ia tidak ada.” Kata-kata itu sangat menghibur Emily. Ia menyadari, cara move on setelah ditinggal suami tidak berarti melupakan, tetapi menemukan cara baru untuk mencintai dan dikenang.
Mereka berdua duduk di sana, berbicara tentang banyak hal. Antoine bercerita tentang kehidupannya di Paris, tentang mimpinya untuk menjadi seorang seniman, dan tentang bagaimana ia mengatasi duka setelah kehilangan ayahnya. Emily merasa nyaman. Ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri di depan Antoine, tanpa harus berpura-pura kuat. Ia menyadari, persahabatan di Paris ini adalah bagian penting dari perjalanannya. Antoine adalah seorang teman yang mengerti, seorang teman yang juga pernah merasakan duka, dan seorang teman yang memberinya kekuatan.
Malam itu, mereka berjalan-jalan di sepanjang tepi sungai. Mereka melewati jembatan-jembatan yang indah, dihiasi dengan lampu-lampu yang menyala. Emily merasakan keindahan Paris yang sesungguhnya. Bukan keindahan yang ia lihat di film-film, tetapi keindahan yang ia rasakan di dalam hatinya. Ia menyadari, mengatasi trauma kehilangan adalah proses panjang, dan ia harus terus berjalan. Namun, ia tidak lagi merasa sendirian. Ia memiliki peta Adam, kenangan, dan seorang teman baru, Antoine, yang mengerti perasaannya.
Emily kembali ke apartemennya dengan perasaan yang lebih baik. Ia mengeluarkan buku catatan Adam dan mulai menulis. Ia menulis tentang perjalanannya, tentang Paris yang sesungguhnya, tentang Antoine, dan tentang cincin yang ia temukan. Ia menulis tentang bagaimana ia mulai menemukan cara untuk hidup kembali, bukan untuk Adam, tetapi untuk dirinya sendiri. Ini adalah babak baru dalam novel tentang duka yang ia tulis, babak yang penuh dengan harapan, persahabatan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang, tetapi ia siap menghadapinya.
