Fajar di Banjarmasin selalu istimewa. Bukan karena gemerlap gedung tinggi, melainkan karena denyut kehidupan yang dimulai dari aliran Sungai Martapura. Di salah satu sudut kota, tepatnya di sebuah rumah kayu ulin minimalis yang asri, azan Subuh berkumandang merdu, membangunkan keluarga Bapak Rahmat dari lelapnya tidur.
Rahmat, kepala keluarga berusia 45 tahun, sosok pria berperut buncit yang selalu bisa memancing tawa, segera bangkit dari sajadahnya setelah menunaikan salat Subuh berjemaah bersama istri dan si bungsu, Zaki. Istrinya, Salma (43), wanita bersahaja dengan senyum teduh dan tangan ajaib dalam urusan dapur, sudah lebih dulu melenggang ke area belakang rumah, di mana dapur mereka berada.
"Assalamualaikum, Bu Haji," sapa Rahmat sambil terkekeh, memanggil istrinya dengan sebutan sayang.
"Waalaikumsalam, Pak Haji gadungan," balas Salma sambil sibuk memotong-motong bumbu. "Cepat mandi, sarapan sudah mau siap. Zaki, bangunkan kakak-kakakmu!"
Zaki (10), si bungsu yang cerdas dan penurut, segera berlari ke lantai atas. "Kak Sarah! Kak Aisyah! Nasi kuning udah manggil-manggil!" teriaknya riang.
Sarah (20), mahasiswi jurusan tata boga yang cantik dan sedikit tomboi, merengut dari balik selimut. "Iya, Zaki, sabar! Mandi dulu!" Aisyah (17), si tengah yang ekspresif dan kecanduan media sosial, sudah live di TikTok Story-nya dengan filter lucu. "Halo guys, morning vlog dari Banjarmasin! Bentar lagi kita sarapan legend nih!"
Pagi itu, aroma harum bumbu meresap ke seluruh penjuru rumah. Di atas meja makan, hidangan utama sudah menanti dengan gagah: Nasi Kuning Ikan Haruan.
Nasi kuningnya pulen, dimasak dengan santan dan kunyit pilihan, warnanya kuning cerah menggoda. Lauk utamanya adalah ikan gabus (haruan) yang dimasak bumbu habang (bumbu merah khas Banjar), warnanya merah merona dengan kilau minyak kelapa yang menggoda iman. Tak lupa, taburan bawang goreng renyah dan sehelai daun pisang sebagai alas, menambah nuansa tradisional yang kental.
Keluarga Rahmat berkumpul. Sebelum makan, Rahmat memimpin doa. Suasana khidmat sejenak mengheningkan tawa mereka. Setelah doa, barulah hiruk pikuk khas keluarga itu dimulai.
"Wah, Bu, bumbu habangnya kali ini juara!" puji Rahmat, suapan pertamanya sudah penuh di mulut.
"Pastilah, Pak. Resep dari Nenek, enggak pernah salah," jawab Salma bangga.
Aisyah sibuk memotret hidangan dari berbagai sudut. "Sebentar, Bu, aku mau upload ke Instagram. Pakai hashtag #KulinerBanjarmasin #NasiKuningHaruan #MakananIndonesia," ujarnya serius. Dia adalah pemburu makanan sejati, baik tradisional maupun yang sedang viral.
Sarah, sebagai calon koki profesional, mengamati detail bumbu. "Porsi cabai merahnya pas banget, Bu, enggak terlalu pedas, tapi nendang. Sarah suka aftertaste kemirinya."
Zaki, yang paling lahap, hanya mengangguk-angguk setuju dengan mulut penuh.
Di tengah kebahagiaan sarapan, Rahmat tiba-tiba nyeletuk, "Bu, katanya ada yang jual Mi Bangladesh enak banget di pasar sana. Viral di grup WA komplek."
Aisyah langsung tersedak air putih. "Mi Bangladesh? Yang pedasnya level dewa itu, Yah? Aisyah mau coba!" matanya berbinar penuh antusiasme.
Salma menggeleng-gelengkan kepala. "Ada-ada saja makanan zaman sekarang. Dulu zaman Ibu, paling banter ya Ketupat Kandangan atau Lontong Orari. Viral-viralan apaan itu?"
Rahmat tertawa, suasana pagi itu penuh dengan canda tawa dan rencana kuliner selanjutnya. Bagi keluarga Rahmat, makanan bukan sekadar pengisi perut. Makanan adalah bahasa cinta, media berbagi kebahagiaan, dan cara mereka merayakan hidup di kota seribu sungai ini. Pagi di tepi Sungai Martapura itu adalah awal dari petualangan rasa yang penuh hikmah dan tawa.
