Ketenangan yang dirasakan Lev pasca ujian kepercayaan tidak bertahan lama. Malam itu, ia kembali dihantui oleh mimpi buruk. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya di ruang perpustakaan, di hadapan Sombra yang berwujud pria berjubah. Kali ini, pria itu tidak hanya menawarkan kekuatan es, tetapi juga menunjukkan padanya sebuah gambaran. Gambaran itu menunjukkan Vania dan Anatasya sedang berjuang melawan Sombra yang kuat, dan mereka kalah. Tangan mereka terbakar dan mengering, dan air di tubuh mereka menguap. Mereka menjerit kesakitan, dan Lev tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lihat," bisik Sombra, suaranya sedingin es. "Kekuatanmu... ia tidak cukup. Kekuatan bumi hanya bisa melindungimu, tetapi tidak bisa menyelamatkan teman-temanmu. Tetapi, kekuatan es, ia bisa menghancurkan kegelapan. Ia bisa melindungi mereka."
Lev terbangun dengan keringat dingin. Ia duduk di ranjangnya, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu bahwa mimpi itu adalah manipulasi dari Sombra, tetapi gambaran itu terasa begitu nyata. Ia merasa takut, dan ia merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu. Ia harus menjadi lebih kuat, tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa mengkhianati teman-temannya.
Pagi harinya, Lev terlihat lesu. Vania dan Anatasya melihatnya, dan mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Lev, kau baik-baik saja?" tanya Vania, menatapnya dengan khawatir.
"Aku... aku hanya mimpi buruk," jawab Lev, mencoba tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke matanya.
Anatasya, yang sangat peka, tahu bahwa mimpi buruk itu ada hubungannya dengan Sombra. "Kau harus memberitahu kami apa yang terjadi," katanya.
Lev menceritakan mimpinya, dan Vania serta Anatasya terkejut. Mereka tahu bahwa Sombra mencoba memanipulasi Lev, tetapi mereka tidak tahu bahwa Sombra akan menggunakan ketakutan terdalam Lev untuk melakukannya.
"Dia tahu kelemahan kita," kata Vania, wajahnya muram. "Dia tahu bahwa kita saling peduli."
"Dia mencoba memisahkan kita," tambah Anatasya. "Kita harus lebih kuat."
Saat mereka sedang berbicara, pintu asrama mereka diketuk. Di sana berdiri Argus, bersama seorang siswi baru. Siswi itu memiliki rambut hitam panjang, mata yang tajam, dan aura dingin yang mengelilinginya. Ia memegang sebuah kristal es di tangannya.
"Ini adalah Luna," kata Argus. "Ia adalah pewaris elemen es."
Lev, Vania, dan Anatasya terkejut.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa mereka akan bertemu dengan pewaris elemen es. Lev merasa ada perasaan yang aneh. Ia merasa iri, tetapi juga merasa takut. Ia tahu bahwa Luna bisa menjadi kunci untuk mengalahkan Sombra, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa mempercayainya.
Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, dan Anatasya menyadari bahwa kedatangan Luna akan mengubah segalanya. Luna bisa menjadi sekutu, tetapi ia juga bisa menjadi ancaman. Dan di tengah-tengah semua itu, Lev harus menghadapi ketakutannya sendiri, dan ia harus memilih antara kekuatan yang ia dambakan dan persahabatan yang ia miliki.
