Maimunah masih mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung, mencoba menghilangkan aroma bawang putih yang masih melekat kuat di indera penciumannya. Vasily hanya tertawa melihat tingkah konyol Maimunah. Setelah berpelukan dengan Sergei dan meluapkan rasa rindu yang sudah lama terkubur, Vasily mengajak mereka duduk di bangku taman.
"Dulu, setiap Alistair marah, dia akan membeli roti dengan bawang putih dari toko roti di seberang jalan ini," cerita Vasily. "Lalu dia akan makan di sini, sendirian. Tanda kalau dia lagi marah. Tapi saya tahu, dia sebenarnya lagi sedih."
Maimunah dan Zainab mendengarkan dengan seksama. Maimunah membayangkan Alistair, seorang arsitek yang terlihat serius, ternyata punya kebiasaan lucu saat marah. Sama kayak aku, pikir Maimunah. Cuma bedanya, aku kalo lagi marah makan bakso, bukan roti bawang putih.
Zainab, di sisi lain, lebih tertarik dengan detil-detil cerita Vasily. Ia mencatat setiap perkataan Vasily di buku catatannya. "Jadi, alasan kalian bertengkar itu apa?" tanya Zainab.
Vasily mendesah. "Ah, konyol. Cuma soal perbedaan pendapat tentang sebuah desain. Dulu kami berdua sama-sama arsitek. Kami mendesain sebuah gedung. Alistair ingin gedung itu terlihat modern, sedangkan saya ingin terlihat klasik. Kami bertengkar, dan sejak saat itu, kami tidak pernah bicara lagi."
Maimunah mengerutkan kening. "Kok bisa, sih? Cuma gara-gara desain?"
Vasily tersenyum. "Kadang-kadang, hal-hal kecil bisa menjadi masalah besar, Mun. Terutama kalau sudah melibatkan ego."
Maimunah mengangguk-angguk. Ia mulai memahami, mengapa Alistair sangat ingin meminta maaf pada Vasily. Bukan karena masalahnya besar, tetapi karena persahabatan mereka lebih berharga daripada ego masing-masing.
Tiba-tiba, mata Maimunah menangkap sesuatu. Di seberang jalan, di depan sebuah toko roti kecil, berdiri seorang pria dengan jaket kulit dan rambut gondrong. Wajahnya terlihat familier. Maimunah memicingkan matanya. Kok kayak pernah lihat?
"Zai, itu bukannya..." Maimunah belum menyelesaikan kalimatnya, tetapi pria itu sudah melihat ke arah mereka. Pria itu tersenyum, lalu melambaikan tangannya.
"Siapa?" tanya Zainab.
"Itu..." Maimunah terdiam. Pria itu berjalan mendekat. Maimunah langsung menutupi wajahnya dengan kupluk.
"Ada apa, Mun?" tanya Zainab, bingung.
"Sstt!" Maimunah berbisik, "jangan sampai dia lihat aku."
Pria itu semakin dekat. Matanya tajam, tetapi senyumnya ramah. Ia berdiri di depan mereka, dan mengulurkan tangannya pada Maimunah.
"Assalamualaikum," sapanya. "Maimunah, kan?"
Maimunah membuka kupluknya sedikit. "Kok kamu bisa tahu nama aku?"
"Ayahmu yang kasih tahu," jawab pria itu.
Maimunah terdiam. Ayahnya? Maimunah menatap Zainab. Zainab juga terlihat bingung. Sergei dan Vasily hanya mengamati.
"Kenalkan, nama saya Adam," kata pria itu, "saya teman ayahmu. Kami bertemu di Masjid Istiqlal."
Maimunah terkejut. "Teman Ayah? Kok aku nggak pernah dengar?"
Adam tertawa. "Ayahmu memang sengaja tidak bilang. Dia mau ini jadi kejutan."
Maimunah semakin bingung. Kejutan apa?
"Saya di Moskow karena ada urusan bisnis," kata Adam, "dan ayahmu bilang, 'Kalau kamu ketemu anakku, tolong jaga dia.' Jadi, saya ke sini buat jagain kamu."
Maimunah terdiam. Ia merasa seperti sedang berada di dalam film. Tiba-tiba, ada seorang pria asing yang mengaku teman ayahnya, dan datang ke Moskow untuk menjaganya.
Zainab, seperti biasa, bersikap rasional. "Bagaimana kami bisa percaya kalau kamu benar-benar teman ayah Maimunah?"
Adam tersenyum. "Ayahmu bilang, kalau kamu tanya hal ini, jawabannya ada di surat ini."
Adam mengeluarkan sebuah surat dari sakunya, lalu memberikannya pada Maimunah. Maimunah membaca surat itu. Isinya, pesan dari ayahnya yang meminta Adam untuk menjaga Maimunah di Moskow. Ayahnya juga bercerita tentang kebiasaan konyol Maimunah, dan bagaimana Maimunah sering membuat masalah.
Maimunah tertawa geli. Ayahnya memang selalu punya cara untuk membuatnya terkejut.
"Jadi, kamu beneran mau jagain aku?" tanya Maimunah.
"Tentu saja," jawab Adam.
Maimunah merasa lega. Ia tidak sendirian lagi di Moskow. Ia memiliki Zainab, Sergei, Vasily, dan sekarang, Adam. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia yakin, hidupnya akan semakin berwarna.
To be continued...
