Temukan pesona Praia da Marinha di Portugal bersama Khalisah dan Rabiatun. Bab 1 novel perjalanan Islami ini menyajikan keindahan tebing kapur, momen shalat di pantai tersembunyi, dan tips wisata halal di Algarve.
Bab 1: Pesona Emas Praia da Marinha, Portugal
Suara alarm subuh yang merdu mengalun dari ponsel Khalisah, memecah keheningan apartemen sewaan mereka di Albufeira, jantung kawasan Algarve, Portugal. Fajar belum sepenuhnya merekah, namun semangat petualangan sudah membara di dada dua sahabat karib itu. Khalisah, dengan jilbab instan berwarna dusty pink, segera membangunkan Rabiatun yang masih bergulat dengan selimut bergambar lumba-lumba.
"Bangun, Bun! Katanya mau lihat sunrise di pantai terindah Eropa? Mataharinya nggak nungguin kita, lho," bisik Khalisah, memanggil Rabiatun dengan panggilan akrabnya.
Rabiatun menggeliat, "Astaghfirullah, iya, iya. Lima menit lagi, Khal."
"Nggak ada lima menit. Pray first, baru play!" Khalisah mengingatkan dengan senyum.
Setelah menunaikan shalat Subuh berjamaah di sudut ruangan yang telah mereka sucikan, mereka berdua bersiap dengan cepat. Khalisah, si perencana ulung, sudah menyiapkan tas pantai berisi handuk mikrofiber, botol air minum infuse water, dan camilan halal yang ia beli di toko Turki kemarin. Rabiatun, si spontan yang ceria, hanya memasukkan kamera mirrorless dan kacamata hitam oversize ke dalam tas jinjingnya.
Tujuan pertama mereka adalah Praia da Marinha, sebuah pantai yang dijuluki salah satu dari sepuluh pantai terindah di Eropa, terkenal dengan formasi batu kapur (karst) yang ikonik dan airnya yang jernih keemasan.
Mereka menyewa mobil kecil untuk menjelajahi Algarve. Pagi itu, jalanan masih sepi. Khalisah dengan cekatan menyalakan GPS, sementara Rabiatun sibuk merekam suasana jalanan pedesaan Portugis yang penuh pohon zaitun dan rumah bercat putih.
"Subhanallah, udaranya segar banget, Khal. Masya Allah, indah sekali ciptaan-Nya," seru Rabiatun dari kursi penumpang, jendela terbuka lebar.
Setibanya di area parkir Praia da Marinha, matahari sudah mulai naik, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan ungu yang memesona. Mereka harus menuruni tangga batu yang cukup curam untuk mencapai bibir pantai.
"Hati-hati, Bun. Tangganya licin," peringat Khalisah.
Tapi Rabiatun sudah melesat lebih dulu, terpesona oleh pemandangan yang tersaji di depan matanya. Tebing-tebing kapur menjulang megah, membentuk lengkungan alami dan pilar-pilar batu yang kokoh berdiri di tengah laut. Air lautnya berwarna biru safir, sangat jernih hingga dasar berpasir terlihat jelas.
"Ya Allah! Ini sih lebih indah dari foto-foto di Instagram!" pekik Rabiatun. Ia segera berlari ke arah salah satu batu karang besar yang menjorok ke laut, mencari sudut terbaik untuk berswafoto.
Khalisah hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia mengeluarkan buku agendanya dan mulai mencatat kesan pertamanya. "Praia da Marinha. Keindahan alam yang menakjubkan. Air jernih. Cocok untuk refleksi alam," ia menulis.
Tiba-tiba, terdengar suara "Aduh!" dari arah Rabiatun. Khalisah menoleh panik. Rabiatun rupanya terpeleset lumut di permukaan batu karang dan nyaris tercebur ke air. Dengan sigap, Khalisah berlari mendekat dan membantu sahabatnya berdiri.
"Kan aku sudah bilang hati-hati!" tegur Khalisah, sedikit panik.
Rabiatun hanya cengengesan, jilbabnya sedikit basah di bagian ujung. "Hehe, maaf, Khal. Keindahan di sini bikin aku khilaf. Untung kameranya nggak ikut nyemplung." Adegan komedi ringan ini memecah suasana tegang dan membuat mereka berdua tertawa lepas.
Mereka memutuskan untuk berjalan lebih jauh ke arah pantai yang lebih sepi, menjauh dari beberapa turis yang mulai berdatangan. Di balik formasi batu besar yang menyerupai huruf M (ikon pantai ini), mereka menemukan area kecil yang tersembunyi.
Waktu menunjukkan pertengahan pagi, dan sudah masuk waktu shalat Dhuhr (mereka menjamak shalat). Mereka membentangkan sajadah tipis di atas pasir yang kering dan bersih. Menghadap kiblat (yang arahnya sudah dicek Khalisah sebelumnya), mereka menunaikan kewajiban mereka di tengah keagungan alam.
"Shalat di tempat seindah ini rasanya beda ya, Khal. Lebih khusyuk, lebih terasa dekat sama Allah," ucap Rabiatun setelah salam.
Khalisah mengangguk setuju. "Betul, Bun. Setiap ciptaan-Nya itu pengingat buat kita. Ini semua nggak sia-sia diciptakan."
Sebelum kembali ke mobil, mereka berinteraksi dengan sepasang lansia lokal yang sedang berjalan santai. Dengan bahasa isyarat dan bahasa Inggris seadanya, mereka mencoba berkomunikasi. Sang kakek dengan ramah menunjukkan formasi batu lain yang tersembunyi dan merekomendasikan sebuah warung makan di desa terdekat yang menyajikan cataplana (hidangan seafood rebus khas Portugal) halal.
"Mereka ramah banget, ya. Nggak nyangka di sini bakal se-terbuka ini sama kita," komentar Rabiatun.
Khalisah tersenyum. "Makanya, jangan gampang suudzon sama tempat baru. Kehidupan bermasyarakat di sini mengajarkan kita tentang toleransi dan menerima perbedaan."
Matahari semakin tinggi, saatnya meninggalkan Praia da Marinha. Babak pertama petualangan mereka sukses besar. Penuh tawa, keindahan alam, dan penguatan iman. Di dalam mobil, Khalisah mencatat beberapa tips penting untuk pembaca: Pantai Praia da Marinha wajib dikunjungi, siapkan alas kaki yang nyaman untuk menuruni tangga, dan jangan lupa bawa bekal air minum.
Destinasi selanjutnya sudah menunggu. Rabiatun menyetel musik nasyid dari playlist mereka, dan mereka pun melaju menuju pantai kedua di Italia.
