Sore itu, Emily menerima pesan singkat dari ibunya. Sesaat setelah membaca, ia menoleh pada Lev dengan senyum sumringah. "Ibuku mengajak kita makan malam. Beliau bilang, 'teman barumu harus mencicipi makanan rumahan yang sesungguhnya, bukan kebab jalanan terus'."
Lev yang sedang sibuk mengulas hasil fotonya, mengangkat kepala. "Oh, benarkah? Aku akan senang sekali."
Mereka naik taksi menuju distrik lain di Ankara, sebuah area pemukiman yang terlihat lebih tenang dan hijau. Apartemen keluarga Emily terletak di lantai tiga sebuah bangunan yang sederhana namun terawat baik. Saat pintu terbuka, Lev disambut oleh pelukan hangat seorang wanita paruh baya dengan senyum yang meneduhkan, ibu Emily, Ayla Hanim. Di samping Ayla Hanim berdiri seorang lelaki dengan kumis rapi dan mata ramah, ayah Emily, Mustafa Bey.
Suasana di dalam apartemen terasa begitu akrab. Ruangan tamu dihiasi dengan karpet bermotif khas Turki, bantal-bantal warna-warni, dan sebuah rak buku penuh dengan buku-buku. Aroma masakan yang lezat memenuhi seluruh ruangan, membuat perut Lev keroncongan.
"Silakan, Lev," kata Ayla Hanim, menunjuk ke sofa. "Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri."
Emily menerjemahkan ucapan ibunya, dan Lev mengangguk. "Terima kasih banyak, Ayla Hanim. Apartemen kalian sangat nyaman."
Sambil menunggu makan malam siap, Mustafa Bey mengajak Lev berbincang. Meskipun bahasa Inggrisnya tidak terlalu lancar, dengan bantuan Emily sebagai penerjemah, mereka saling bertukar cerita. Mustafa Bey adalah seorang pensiunan guru sejarah, dan Lev sangat antusias mendengarkan kisah-kisah tentang Ankara dari sudut pandang seorang penduduk lokal.
"Kota ini seperti buku yang tak pernah selesai," ujar Mustafa Bey, dengan tangan yang melambaikan isyarat besar. "Setiap jalan, setiap sudut, punya ceritanya sendiri. Kamu harus memotret lebih dari sekadar monumen, Nak. Kamu harus memotret rohnya."
Lev mengangguk, terkesan. Kata-kata Mustafa Bey persis seperti apa yang ingin ia capai. "Itu yang aku coba, Mustafa Bey. Aku ingin menangkap esensi kehidupan sehari-hari di sini."
Emily, yang duduk di samping Lev, berbisik, "Tuh kan, aku bilang juga apa. Orang tua itu bijak."
Makan malam akhirnya dihidangkan. Meja makan dipenuhi dengan hidangan Turki yang menggugah selera: mercimek çorbası (sup lentil), dolma (sayuran isi), pilav (nasi mentega), dan menemen (orakarik telur khas Turki). Lev, yang terbiasa makan cepat, merasa takjub dengan ritual makan malam keluarga ini. Mereka makan dengan perlahan, sambil terus berbincang dan tertawa.
Di tengah makan malam, Lev mencoba mencicipi dolma. Sayuran isi yang terbuat dari daun anggur itu terasa nikmat, tetapi ada satu dolma yang terasa berbeda. Ia mengunyahnya dengan hati-hati, berusaha menikmati rasanya. Namun, saat ia melihat ke arah Emily, Emily malah menahan tawa, wajahnya sudah memerah.
Lev memandang Emily dengan bingung. "Ada apa?"
"Kamu... kamu makan dolma yang tidak bisa dimakan," bisik Emily.
"Maksudnya?"
"Itu... yang ada di piringmu itu, batu," kata Emily, dengan suara bergetar karena menahan tawa.
Lev menatap piringnya, dan benar saja, ada sebuah batu kecil di samping dolma yang lain. Ia baru menyadari bahwa ada satu dolma yang tidak diisi, melainkan diisi dengan batu, sebuah tradisi lucu yang dilakukan di beberapa keluarga Turki untuk menggoda tamu mereka.
Wajah Lev langsung memerah, dan ia ikut tertawa. Ayla Hanim dan Mustafa Bey juga ikut tertawa, senang melihat Lev tidak tersinggung.
"Tenang saja, Nak," kata Ayla Hanim, sambil menepuk pundak Lev. "Itu hanya lelucon kecil. Kamu lulus ujian."
Setelah makan malam, mereka minum teh Turki yang disajikan dalam gelas kecil. Emily dan Lev membantu Ayla Hanim membersihkan meja, dan mereka kembali duduk bersama di ruang tamu.
Lev mengeluarkan kameranya dan menunjukkan beberapa foto yang ia ambil di Ankara. Ia menunjukkan foto kakek penjual ara, anak-anak bermain sepak bola, dan tentu saja, foto-foto lucu Emily.
Ayla Hanim dan Mustafa Bey sangat menyukai foto-foto Lev. Mereka memuji hasil jepretan Lev dan menyarankan beberapa tempat lain yang bisa ia kunjungi di Ankara.
"Kamu punya mata yang bagus," kata Mustafa Bey, melihat foto Emily yang sedang tertawa. "Kamu menangkap esensi kegembiraan di dalam momen sederhana."
Malam itu, Lev merasa bahwa ia tidak hanya mengunjungi sebuah kota, tetapi juga menjadi bagian dari sebuah keluarga. Keramahan mereka, tawa mereka, dan lelucon kecil mereka telah mengajarkannya bahwa keindahan sebuah tempat tidak hanya terletak pada arsitektur atau sejarahnya, tetapi juga pada orang-orang yang tinggal di sana.
Saat mereka pulang, Lev merasa hatinya hangat. Ia menyadari bahwa ia telah menemukan lebih dari sekadar foto yang bagus. Ia telah menemukan sebuah persahabatan, sebuah keluarga baru, dan sebuah cerita yang akan ia ingat seumur hidup.
