Di tengah hiruk pikuk Banjarmasin, sebuah kota yang dialiri sungai Martapura laksana urat nadi kehidupan, hiduplah seorang pemuda bernama lengkap Muhammad Lev Ryley. Namun, sapaan "Muhammad" jarang terdengar; ia lebih dikenal sebagai "Lev Ryley," nama yang terinspirasi dari karakter keren di game kesayangannya. Usianya sudah kepala dua, tapi statusnya masih jomblo akut, sebuah kondisi yang seringkali menjadi bahan ghibah halus di majelis taklim ibu-ibu kompleknya.
Bukannya Lev tidak laku, tapi prioritas hidupnya sedikit melenceng dari standar pemuda Banjarmasin pada umumnya. Jika pemuda lain sibuk mencari jodoh atau merintis usaha sarang walet, Lev justru sibuk menamatkan Final Fantasy VIII (FF8)—game PlayStation 1 klasik yang sudah ia mainkan entah ke berapa kali.
Pagi itu, udara Banjarmasin terasa lembap khas daerah tropis setelah hujan subuh. Azan Subuh telah berkumandang merdu dari Masjid Jami, membangunkan kota dari lelapnya. Lev, bagaimanapun, baru saja merebahkan diri setelah semalaman suntuk mencoba mendapatkan Triple Triad card langka, Minotaur Card, dari salah satu NPC di Balamb Garden.
"Lev! Bangun! Sudah siang ini! Matahari sudah sepenggalah!" suara Hajjah Halimah, ibunda Lev, menggelegar dari dapur. Ia sedang menyiapkan lontong sayur khas Banjarmasin untuk sarapan.
Lev menggeliat di kasurnya yang bersprei gambar Chocobo. "Iya, Bu, lima menit lagi. Boss terakhir belum mati," gumamnya, masih setengah sadar. Tentu saja, bosnya hanyalah bayangan dalam mimpi.
Di mata masyarakat komplek, Lev adalah pemuda baik-baik. Rajin ikut salat Jumat (karena wajib), sopan santun, dan tidak pernah bikin onar. Tapi hobinya yang terlalu mendalam pada dunia fantasi kadang membuatnya terlihat eksentrik. Tetangganya, Pak RT yang bijaksana, pernah menyarankan Lev, "Nak Lev, limit break itu bagus buat boss, tapi jodoh itu side quest yang lebih penting, Nak. Segera tamatkan!"
Kehidupan Lev berputar antara salat lima waktu, membantu sedikit di toko kelontong keluarga, dan melarikan diri ke dunia SeeD dan penyihir Edea. Ruang kamarnya adalah markas besar gaming, penuh dengan poster Squall Leonhart dan Rinoa Heartilly berdampingan dengan kaligrafi ayat Al-Quran. Sebuah kombinasi dekorasi yang unik dan membingungkan.
Setiap hari Jumat, ritual wajibnya adalah mengenakan baju koko terbaiknya, sarung, dan peci haji pemberian almarhum kakeknya, lalu berjalan kaki ke masjid terdekat. Di sana, ia khusyuk mendengarkan khotbah tentang pentingnya ukhuwah (persaudaraan Islam) dan menjauhi ghibah. Ironisnya, saat khotbah berlangsung, pikiran Lev sering melayang ke strategi junction Guardian Force (GF) Bahamut agar stats magic-nya maksimal.
"Astaghfirullah, Lev, fokus!" ia sering memukul pelan dahinya sendiri di tengah khotbah, membuat jamaah di sebelahnya heran.
Suatu sore, saat Lev sedang santai di pinggir Sungai Martapura, menikmati pemandangan perahu klotok yang melintas, dia merenungkan hidupnya. Dia sudah tahu alur FF8 di luar kepala. Dia tahu kapan Seifer akan berkhianat, kapan Rinoa akan jatuh cinta, dan kapan time compression akan terjadi. Tapi dia tidak tahu kapan dia akan mendapatkan jodoh atau kapan dia bisa naik haji.
"Dunia nyata ini game yang paling sulit," keluhnya pada seekor kucing lokal yang sedang santai menjilati bulunya. Kucing itu hanya menatapnya sejenak, mengeong seolah berkata, "Makanya, main side quest jodohnya dong, Bro," lalu pergi.
Lev kembali ke rumah dengan tekad baru. Malam ini, dia akan menamatkan FF8 untuk yang keseratus kalinya, dan besok dia akan mulai fokus mencari jodoh. Tekad seorang gamer sejati.
Di kamarnya yang temaram, dia menyalakan TV tabung lamanya dan konsol PS1 kesayangannya. Kaset FF8 yang legendaris itu berputar. “Liberi Fatali” mulai mengalun, memenuhi kamar dengan nuansa epik. Lev tersenyum.
"Bismillah, misi terakhir dimulai," bisiknya pada dirinya sendiri, sama sekali tidak menyadari bahwa malam itu, realitas Banjarmasin dan fantasi Final Fantasy VIII akan bertabrakan dengan cara yang paling ajaib dan konyol. Kehidupan normalnya sebagai gamer jomblo akut akan segera berakhir, digantikan oleh petualangan yang tak pernah ia bayangkan: menjadi SeeD Banjarmasin di dunia fiksi.
