Hari-hari Lev Ryley di Ankara terasa berjalan begitu cepat. Setiap sudut kota, setiap tawa, dan setiap cerita telah ia abadikan dalam foto-fotonya. Namun, yang paling berkesan bukanlah monumen bersejarah, melainkan persahabatan yang ia jalin dengan Emily. Mereka telah menjelajahi gang-gang sempit, berdebat tentang sejarah di museum, dan tertawa bersama di rumah keluarga Emily.
Kini, saatnya tiba untuk melanjutkan perjalanan. Lev harus terbang ke Manchester, kota berikutnya dalam daftar perjalanannya. Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan yang sama, tempat mereka pertama kali bertemu, menuju terminal bus yang akan membawa Lev ke bandara.
"Jadi, ini perpisahan?" tanya Lev, suaranya terdengar sedikit sedih.
"Hanya sementara," jawab Emily, dengan senyum yang menenangkan. "Aku akan menyelesaikan penelitianku di sini, tapi aku berjanji akan menyusulmu di Manchester."
Lev tersenyum. "Aku pegang janjimu."
Mereka berdua berhenti di sebuah kafe kecil, memesan teh Turki terakhir mereka di Ankara. Lev mengeluarkan kameranya dan memotret Emily, yang sedang tersenyum sambil memegang cangkir tehnya. Foto itu, Lev tahu, akan menjadi salah satu favoritnya.
"Aku akan merindukan... uhm... obrolan konyolmu," kata Lev.
"Aku akan merindukan... uhm... kegagalanmu dalam membaca peta," balas Emily.
Mereka tertawa, mengenang kembali saat pertama kali bertemu. Lev merasa beruntung karena kesialan kecilnya saat itu telah membawanya pada Emily, seorang teman yang membuat perjalanannya terasa jauh lebih berarti.
Saat mereka tiba di terminal, Lev mengambil kopernya dan memeluk Emily. "Terima kasih untuk semuanya, Emily. Kamu membuat perjalananku di Ankara jadi tak terlupakan."
"Sama-sama, Lev," kata Emily, balas memeluknya. "Tapi tunggu dulu!"
Emily mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas kado berwarna cerah. "Ini... untukmu," katanya.
Lev menerima kotak itu dengan bingung. "Apa ini?"
"Buka saja saat kamu sudah di pesawat," jawab Emily, dengan seringai jahil. "Anggap saja hadiah perpisahan yang lucu."
Lev mengangguk, lalu naik ke bus yang sudah menunggu. Ia melambaikan tangan kepada Emily, yang balas melambaikan tangan sampai busnya melaju meninggalkan terminal.
Di dalam bus, Lev duduk di dekat jendela, memandang kota Ankara yang perlahan menjauh. Ia mengambil kotak hadiah dari Emily dan membukanya. Di dalamnya, ada sebuah boneka kelinci yang kusam, persis seperti yang ia lihat di toko mainan kuno beberapa hari yang lalu. Di bawah boneka itu, ada sebuah catatan kecil dari Emily:
Untuk Lev, petualang yang tersesat.
Jangan lupa, bahkan semua orang pun bisa lelah.
Sampai jumpa di Manchester!
Lev tersenyum, hatinya menghangat. Ia menyadari bahwa perjalanannya belum berakhir. Ankara mungkin sudah ia tinggalkan, tetapi persahabatan yang ia temukan akan selalu menemaninya. Dan dengan boneka kelinci sebagai pengingat, ia tahu bahwa petualangan selanjutnya akan menjadi lebih menarik.
