Mereka memutuskan untuk merayakan keberhasilan misi pertama mereka di penginapan tempat mereka menginap, "The Yawning Dragon Inn" (Penginapan Naga Menguap). Penginapan itu adalah bangunan kayu tua yang nyaman, dengan ruang makan besar di lantai bawah yang selalu ramai oleh petualang lain, pedagang, dan warga lokal.
“Malam ini kita pesta ramen lagi!” seru Vania sambil duduk di meja pojok.
“Aku yang traktir karena kita sukses besar!” tambah Lev dengan bangga, mengeluarkan beberapa koin perak dari kantongnya.
Anastasya duduk di seberang mereka, diam, mengamati menu dengan mata birunya yang tenang.
“Aku mau ramen spesial dengan ekstra daging naga asap!” Vania memesan dengan semangat.
“Daging naga asap? Vania, itu mahal sekali! Itu mungkin naga sungguhan, bukan cuma asap!” protes Lev.
“Sekali-kali kan! Kita petualang sukses sekarang!” Vania memelototi Lev sampai Lev menyerah.
Saat mereka menunggu pesanan mereka, suasana slice of life yang santai menyelimuti. Vania mulai menceritakan kembali momen-momen konyol di gua, terutama saat para slime tergelincir di lendir Sippy yang beraroma mawar.
“Aku harus akui, ide lendir licinmu itu lumayan jenius, Lev,” kata Anastasya, membuat Lev sedikit tersipu. Pujian dari Anastasya itu langka.
Sippy, yang duduk di meja di mangkuk kecil berisi air (permintaan khusus dari Lev), mengeluarkan suara 'kyuu~', seolah memamerkan kemampuannya.
Tiba-tiba, seorang petualang besar bertubuh kekar, dengan janggut lebat dan pedang besar di punggungnya, berjalan melewati meja mereka. Dia terlihat mabuk dan sedikit terhuyung.
“Minggir, anak bawang!” geram petualang itu, tanpa sengaja menyenggol meja mereka, membuat mangkuk air Sippy tumpah sedikit.
Sippy, si siput yang cinta damai, panik dan melesat ke arah kaki Anastasya. Petualang besar itu tertawa terbahak-bahak.
Vania langsung berdiri. “Hei! Jaga sikapmu, paman janggut!”
Petualang itu menoleh, matanya merah karena alkohol. “Apa katamu, pemanah kecil? Mau cari masalah?”
Situasi mulai tegang. Para petualang lain di ruangan itu mulai memperhatikan. Anastasya tetap tenang, ekspresinya datar, tapi Lev melihat jari-jarinya sedikit mengetuk tongkat sihirnya di bawah meja.
Lev mencoba menjadi penengah. “Sudah, paman, kita cuma makan malam. Tidak ada masalah di sini.”
“Masalahnya adalah aku tidak suka ada anak bawang sok jagoan di guild ini!” Petualang itu mengangkat pedangnya sedikit, mengancam.
Anastasya menghela napas. “Aku peringatkan sekali lagi. Jangan berisik.”
Petualang besar itu tertawa terbahak-bahak. “Kau pikir penyihir kecil sepertimu bisa menghentikanku? Serang aku kalau berani!”
Anastasya mengangkat tongkatnya, lingkaran sihir ungu mulai terbentuk di lantai. Vania sudah menyiapkan panahnya. Lev bersiap men-summon Sippy untuk pertahanan darurat.
Tiba-tiba, dari arah dapur, seorang wanita tua bertubuh subur dengan celemek kotor muncul, memegang sendok sayur raksasa. Dia adalah pemilik penginapan, Nyonya Bertha.
“ADA APA INI?! SIAPA YANG BUAT KERIBUTAN DI PENGINAPANKU?!” teriak Nyonya Bertha, suaranya menggelegar melebihi petualang mabuk itu.
Semua orang di ruangan itu langsung diam seribu bahasa. Petualang besar yang tadi sombong langsung pucat pasi. Nyonya Bertha dikenal menakutkan bahkan oleh ksatria paling berani di Aethelgard.
“Paman Janggut! Kau lagi! Berapa kali aku bilang, jangan mabuk dan ganggu tamu lain di sini!” Nyonya Bertha memukul kepala petualang itu dengan sendok sayurnya. BUM!
Petualang besar itu langsung tersungkur pingsan di lantai, sendok sayur Nyonya Bertha terbukti lebih mematikan daripada pedangnya.
Nyonya Bertha kemudian menoleh ke arah meja "Tiga Sekawan". “Kalian baik-baik saja, anak-anak? Maafkan orang tua ini. Dia memang sering begitu.”
Vania, Lev, dan Anastasya hanya bisa mengangguk kaku, masih syok melihat kekuatan Nyonya Bertha.
“Bagus. Ramen spesial kalian sudah siap!” Nyonya Bertha kembali ke dapur sambil menyeret petualang pingsan itu dengan satu tangan.
Suasana kembali normal seolah tidak terjadi apa-apa. Para petualang lain melanjutkan minum mereka.
Ramen spesial mereka datang, mengepul panas dengan aroma daging yang lezat. Mereka makan dalam keheningan yang sedikit canggung setelah insiden tadi.
“Kurasa kita nggak perlu khawatir soal perlindungan diri di penginapan ini,” celetuk Lev, memecah keheningan.
“Nyonya Bertha Level 100, Class: Master Chef Destroyer,” tambah Vania sambil tertawa.
Anastasya akhirnya tersenyum kecil lagi. “Kehidupan di kota petualang memang menarik.”
Malam itu, "Tiga Sekawan" belajar bahwa kehidupan petualang bukan hanya soal dungeon crawler dan monster, tapi juga slice of life yang kacau, momen komedi yang tak terduga, dan sendok sayur yang mematikan. Mereka kembali ke kamar mereka di lantai atas, siap untuk petualangan yang lebih besar di hari-hari berikutnya dalam novel RPG fantasi mereka.
