Angin sore Banjarmasin berhembus melalui celah jendela rumah kontrakan kecil di kawasan Sungai Jingah, membawa serta aroma khas air sungai dan sedikit asap dari warung pentol keliling. Di dalam, suasana tegang terasa pekat, mengalahkan kelembapan udara kota seribu sungai.
Lev Ryley, seorang pemuda berusia 29 tahun dengan kacamata minus yang bertengger rapi di hidungnya, duduk bersila di atas sajadah usai salat Ashar. Jantungnya berdebar kencang, menyaingi irama mesin pompa air tetangga. Di pangkuannya, sebuah laptop usang menyala, menampilkan portal resmi Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang diaksesnya berulang kali sejak pagi.
"Mas, sudah jam empat sore. Kalau belum keluar juga, mending kita mandi dulu. Aisyah sudah rewel minta main air," tegur Anindya Putri, istrinya yang jelita dengan jilbab instan berwarna dusty pink, sambil menggendong Aisyah Humaira, putri semata wayang mereka yang baru berusia lima tahun. Aisyah, dengan pipi gembulnya yang merona dan rambut ikal yang mulai mengering karena keringat, tampak asyik memasukkan jari kakinya ke dalam gelas plastik berisi air putih.
Lev tidak bergeming. Matanya terpaku pada layar. "Sebentar lagi, Nindya. Pengumumannya live hari ini. Perasaan Mas nggak enak nih."
"Nggak enak kenapa? Perasaan Mas kan selalu pesimis duluan," balas Anindya, meletakkan Aisyah di karpet. "Ayo Aisyah, kita lihat ikan di kolam depan, yuk?"
Aisyah langsung melompat kegirangan. "Ikan! Ikan Umi!"
Tepat ketika Anindya hendak melangkah keluar, sebuah notifikasi pop-up muncul di layar Lev. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Tangannya yang sedikit berkeringat gemetar saat mengklik tautan "Hasil Akhir Seleksi CPNS Formasi 2024".
"Astaghfirullahaladzim..." desis Lev.
Anindya yang mendengar itu langsung berbalik, wajahnya pucat. "Kenapa, Mas? Kamu nggak lolos?"
Lev menahan napas. Dia memasukkan NIK dan nomor pendaftaran. Layar memuat ulang selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. Akhirnya, sebuah halaman baru muncul dengan background hijau terang.
"SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL..."
Mata Lev memanas. Hampir lima tahun ia berjuang, mengikuti berbagai tes di berbagai daerah, demi satu tujuan: status PNS untuk menafkahi keluarga kecilnya dengan lebih mapan.
"Mas, kamu...?" suara Anindya tercekat, matanya berkaca-kaca.
Lev tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mengangguk pelan, air mata haru mulai membasahi pipinya.
Anindya menjerit kecil, bukan karena panik, tapi karena bahagia luar biasa. "Allahu Akbar! Alhamdulillah, Mas! Alhamdulillah!" Ia berlari memeluk suaminya, diikuti Aisyah yang bingung tapi ikut-ikutan memeluk kaki ayahnya sambil tertawa.
Suasana rumah kontrakan yang tadinya tegang berubah menjadi penuh kebahagiaan dan tangis haru. Mereka bersujud syukur bersama di atas karpet.
Malam harinya, setelah makan malam dengan lauk ikan patin bakar khas Banjar yang terasa nikmat luar biasa malam itu, Lev duduk di sofa sambil menyeruput teh hangat. Pikirannya melayang pada sebuah janji lama.
"Mas, kamu ingat waktu kita pacaran dulu?" tanya Anindya tiba-tiba, seolah membaca pikiran suaminya.
Lev tersenyum. "Ingat, Nindya. Di Menara Pandang, saat gerimis."
"Bukan itu," potong Anindya. "Ingat waktu Mas bilang, kalau Mas lulus PNS, Mas mau ngapain?"
Lev terdiam. Ingatan itu muncul kembali. Bertahun-ta
hun lalu, di masa-masa sulit mereka, Lev pernah berujar, "Kalau Allah izinkan Mas lulus PNS dan punya rezeki mapan, Mas mau ajak kamu dan anak kita ziarah. Ke kubur orang alim, dari Guru Sekumpul sampai Wali Songo di Jawa. Nazar Mas untuk menenangkan hati dan bersyukur."
"Kamu ingat?" tanya Lev, memastikan.
Anindya mengangguk mantap. "Tentu saja ingat. Jadi, kapan kita berangkat?"
Lev menatap istrinya, lalu beralih menatap Aisyah yang sudah tertidur pulas di kamar sebelah. Wajahnya yang kelelahan seketika dipenuhi tekad baru.
"Insya Allah, setelah semua urusan administrasi beres. Kita akan berangkat, Nindya. Menunaikan nazar kita."
Anindya tersenyum, senyum paling indah yang pernah dilihat Lev. Perjalanan ini bukan sekadar liburan, tapi sebuah perjalanan spiritual, sebuah nazar yang harus ditunaikan. Sebuah petualangan yang akan mengubah hidup keluarga kecil mereka selamanya, dimulai dari tanah Banjarmasin yang basah.
