Malam minggu di Banjarmasin biasanya diramaikan dengan hilir mudiknya muda-mudi di sepanjang Jalan Sudirman, atau nongkrong santai di Menara Pandang, menikmati indahnya lampu kota. Namun, malam minggu bagi Vania, Mia, dan Sarah adalah malam kumpul-kumpul di rumah Vania. Ritual ini sudah berlangsung sejak mereka kuliah, dan tradisi ini tidak pernah berubah, bahkan setelah mereka punya pekerjaan masing-masing.
"Nah, ini dia menu malam ini!" seru Mia, memasuki kamar Vania dengan membawa nampan berisi camilan dan dua mangkuk besar es buah. "Es buah spesial bikinan Mia, rasa cinta yang tak kunjung datang."
"Duh, Mia! Kenapa bawa-bawa jodoh, sih?" keluh Vania, yang sedang sibuk menyambungkan laptopnya ke proyektor. "Aku sudah download film yang katanya bagus banget. Judulnya, Lelaki Pembawa Kebaikan."
Sarah, yang sudah duduk manis di karpet dengan bantal di pangkuannya, tersenyum. "Asyik! Aku suka film yang begini. Romantis tapi tetap Islami."
"Tapi kan romance-nya cuma seperempatnya doang, Sarah," protes Mia. "Sisanya dakwah, dakwah, dan dakwah. Aku mau yang kayak Ayat-Ayat Cinta!"
"Hus! Film itu juga dakwah, Mia. Tapi ya sudahlah, malam ini kita nonton film pilihan Vania. Lain kali, kita nonton film pilihanmu," kata Sarah, menengahi.
"Janji ya?" Mia mengangkat jari kelingkingnya.
Vania dan Sarah tertawa melihat tingkah Mia. Mereka pun memulai maraton film mereka. Suasana di kamar Vania sangat nyaman. Lampu dimatikan, hanya menyisakan sorotan proyektor ke dinding putih. Sesekali, terdengar tawa mereka saat adegan-adegan lucu muncul, atau rengekan Mia ketika adegan romantisnya kurang berkesan.
"Gini, nih, enaknya malam mingguan di rumah," kata Vania, sambil menyendok es buah ke mulutnya. "Bisa bebas, mau pakai daster juga bebas."
"Kalau di luar kan harus dandan dulu, ribet," timpal Sarah. "Apalagi kalau lagi bokek, kan enak di rumah aja, hemat."
"Itu poin pentingnya!" seru Mia. "Tapi, ngomong-ngomong, Van. Tadi kamu bilang pria itu tegap? Mirip cowok yang main di film ini nggak?" Mia menunjuk ke layar.
Vania menggeleng. "Tidak. Jauh. Pria itu auranya lebih... kalem."
"Duh, makin penasaran!" Mia menggigit sendok es buahnya. "Kenapa dia bisa lari begitu aja, sih? Padahal kan kamu cantik, Van. Apalagi kalau nggak lagi dikejar bebek."
"Mungkin dia lagi buru-buru, Mia," Vania mencoba berpikir positif.
"Atau jangan-jangan dia sudah punya istri," celetuk Sarah.
Vania dan Mia langsung menatap Sarah dengan mata melotot.
"Sarah! Jangan ngomong begitu, dong! Kan kita sudah cari-cari info!" protes Mia.
"Kan cuma mungkin, Mia," Sarah mengangkat bahunya. "Lagipula, Vania kan jodohnya di tangan Allah. Tidak usah terlalu dipikirkan."
Vania terdiam. Perkataan Sarah ada benarnya. Ia memang tidak seharusnya terlalu berharap pada pertemuan yang singkat itu. Tapi, ia juga merasa ada sesuatu yang aneh. Sejak pertemuan itu, ia merasa ada yang berubah dalam dirinya. Ia jadi lebih sering tersenyum, lebih sering melamun. Ia merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.
"Iya, Sarah benar. Aku nggak mau terlalu berharap," kata Vania, mencoba menenangkan dirinya. "Lagipula, aku juga belum tahu namanya."
"Itu masalah mudah!" seru Mia, tiba-tiba semangat lagi. "Nanti kita bikin spanduk aja, di dekat Jembatan Barito. 'Dicari: Pahlawan Ratu Bebek'. Dijamin besok langsung viral!"
Vania memijit pelipisnya. "Mia! Kamu mau aku dipecat, hah?!"
"Ya kan siapa tahu, Van! Kan sudah zamannya viral!"
Malam itu, mereka menghabiskan sisa malam minggu dengan membahas ide-ide konyol Mia, mulai dari membuat video klarifikasi insiden bebek, sampai membuat lagu khusus untuk si pria misterius. Di balik kekonyolan mereka, Vania tahu sahabat-sahabatnya selalu ada untuknya, menghibur di saat ia merasa kesepian, dan membantu di saat ia membutuhkan. Meskipun terkadang bantuan mereka lebih banyak dramanya daripada solusinya.
Vania menatap layar laptop yang kini menampilkan adegan romantis sepasang kekasih. Ia menghela napas. Mungkin Mia benar, ia harus membuka hati lagi. Mungkin sudah saatnya ia tidak hanya menjadi guru bagi murid-muridnya, tapi juga menjadi ratu bagi seseorang yang tepat. Ia hanya bisa berdoa, semoga jodohnya tidak lagi harus ia temukan dengan cara dikejar bebek.
