Tiga pahlawan itu kini bergerak maju, meninggalkan pegunungan Neander yang terjal. Mereka tidak lagi bergerak dalam ketegangan yang sama, meskipun kewaspadaan tetap ada. Peta kuno Brokk kini menjadi panduan utama, sebuah gulungan kulit kayu yang penuh dengan simbol-simbol kuno. Kael memegangnya, gema kartunya terus beresonansi, memastikan mereka berada di jalur yang benar. Lyra berjalan di sisinya, matanya yang tajam mengamati sekeliling, mencari jebakan atau tanda-tanda kehadiran musuh. Brokk berjalan di belakang, mengawasi punggung mereka, memastikan mereka tidak diikuti.
Mereka menuruni tebing, memasuki lembah yang semakin gelap dan lembap. Pepohonan yang tadinya kuat dan kokoh kini menjadi rapuh dan layu. Tanah menjadi becek, dan bau busuk mulai tercium di udara. Ini adalah wilayah Mortii, tempat di mana kematian dan kehancuran berkuasa. Kael bisa merasakan gema yang sangat berbeda dari kartu Elara. Bukan lagi gema ketakutan, melainkan gema yang penuh kegelapan dan keputusasaan.
"Kita hampir sampai," kata Lyra, suaranya pelan. "Aku bisa merasakan sihir kegelapan Mortii di mana-mana."
"Aku juga merasakannya," kata Kael. "Ini... berbeda dari sebelumnya. Ini jauh lebih kuat."
Brokk mengangguk. "Aku bisa mencium bau darah dan kematian. Mereka telah membunuh di sini."
Tiba-tiba, Kael merasakan gema yang sangat kuat. Bukan hanya dari kartu Elara, tetapi juga dari sumber lain. Ia menoleh, dan melihat di kejauhan, sebuah patung aneh berdiri. Patung itu terbuat dari batu hitam, dengan ukiran yang menggambarkan sebuah wajah yang mengerikan. Patung itu memancarkan aura kegelapan yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Itu adalah patung kegelapan," kata Lyra. "Mortii menggunakannya untuk memperkuat sihir mereka."
"Kita harus menghancurkannya," kata Brokk, mengambil kapaknya.
"Tidak," kata Kael. "Terlalu berbahaya. Kita harus mengabaikannya. Kita harus terus maju. Pintu masuknya ada di depan sana."
Mereka terus berjalan, melewati patung-patung kegelapan yang semakin banyak. Kael merasa mual, gema yang ia rasakan terlalu kuat. Ia merasa seperti jiwanya sendiri sedang ditarik ke dalam kegelapan. Lyra juga merasa tidak nyaman. Ia bisa merasakan sihirnya melemah, seolah-olah ditarik oleh sihir Mortii. Brokk juga terlihat cemas, cengkramannya pada kapaknya semakin kuat.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah gua besar. Pintu masuknya tertutup oleh batu besar yang diukir dengan simbol-simbol Mortii. Kael merasakan gema yang sangat kuat dari pintu masuk itu. "Ini dia," katanya.
"Bagaimana cara membukanya?" tanya Lyra.
Kael menyentuh pintu itu, dan gema dari kartu Elara beresonansi dengan simbol-simbol Mortii. Simbol-simbol itu mulai bersinar dengan cahaya merah yang mengerikan, dan pintu batu itu mulai bergerak, perlahan-lahan terbuka.
"Ayo!" kata Kael.
Mereka bertiga masuk ke dalam gua, dan pintu itu kembali tertutup di belakang mereka. Di dalam, gelap gulita. Hanya ada satu cahaya, sebuah obor yang diletakkan di tengah ruangan. Kael merasakan gema dari kartu Elara, dan ia merasa gema itu menuntunnya ke arah obor. Ia menyentuh obor itu, dan obor itu mulai menyala dengan cahaya hijau, cahaya sihir Fae.
"Ini adalah jebakan," kata Brokk. "Mereka telah menunggu kita."
"Tidak," kata Lyra. "Ini adalah ujian. Ujian bagi kekuatan kita. Mereka ingin melihat apakah kita layak masuk."
Kael melihat sekeliling, dan ia melihat empat patung lain di dalam gua. Patung itu juga diukir dengan simbol fraksi. Patung Human, Fae, Neander, dan Mortii. Kael merasakan gema yang kuat dari setiap patung.
"Kita harus menyalakan obor ini," kata Kael. "Obor ini akan menunjukkan jalan."
Lyra mengambil obor dari Kael, dan menyentuh patung Fae. Patung itu bersinar dengan cahaya hijau yang lembut. Brokk mengambil obor dari Lyra, dan menyentuh patung Neander. Patung itu bersinar dengan cahaya merah yang kuat. Kael mengambil obor dari Brokk, dan menyentuh patung Human. Patung itu bersinar dengan cahaya kuning yang terang.
Namun, saat mereka menyentuh patung Mortii, obor itu mati. Ruangan kembali gelap gulita. Tiba-tiba, suara-suara dari kegelapan mulai terdengar, suara-suara mengerikan yang membuat Kael ketakutan.
"Apa yang terjadi?" teriak Kael.
"Ini jebakan!" teriak Brokk.
Lyra mencoba menggunakan sihirnya, tetapi sihirnya tidak berfungsi. "Mereka memblokir sihir kita," katanya.
Kael merasa panik. Mereka dikepung oleh kegelapan, dan mereka tidak bisa melihat apapun. Ia memfokuskan gema dari kartu Elara, mencoba mencari jalan keluar. Ia merasakan gema yang sangat kuat dari suatu tempat di dalam gua.
"Ikuti aku!" teriak Kael. Ia berlari ke arah gema itu, dan Lyra dan Brokk mengikutinya.
Mereka berlari dalam kegelapan, menghindari suara-suara yang mengerikan. Akhirnya, mereka tiba di sebuah pintu yang tertutup. Kael menyentuh pintu itu, dan gema dari kartu Elara kembali beresonansi. Pintu itu terbuka, dan mereka masuk.
Mereka mendapati diri mereka berada di sebuah ruangan yang terang benderang. Di tengah ruangan, sebuah piala bercahaya berdiri di atas sebuah altar. Ini adalah Heart of the Sanctuary. Tetapi, yang membuat Kael terkejut, di depan altar, Lord Malakor, pahlawan Mortii, berdiri. Dan di sebelahnya, Elara, adiknya, berdiri.
"Kau terlambat, Kael," kata Lord Malakor. "Kami sudah menunggu kalian."
Dan Kael, Lyra, dan Brokk menyadari bahwa mereka telah jatuh ke dalam jebakan yang dirancang dengan sempurna.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
