Dini hari, di istana Daha yang kini sunyi, suasana yang khidmat menyelimuti. Tumenggung telah ditahan di sebuah sel bawah tanah, menunggu pengadilan dari rakyat yang pernah ia tindas. Di aula utama, para pemimpin pasukan, pembesar yang tersisa, dan perwakilan rakyat Banjar berkumpul. Mereka menyaksikan Samudra, mengenakan pakaian sederhana, berdiri di mimbar yang dulunya milik ayahnya.
Khatib Dayyan berdiri di sampingnya. Dengan suara lantang dan penuh wibawa, sang ulama menjelaskan janji yang telah dibuat Samudra di hadapan Sultan Demak. Ia berbicara tentang Islam, tentang keadilan, dan tentang persaudaraan. Ia juga menjelaskan, bahwa perubahan ini bukanlah paksaan, melainkan pilihan untuk masa depan Banjar yang lebih baik.
"Pada hari ini," kata Khatib Dayyan, "Pangeran Samudra akan menjadi Sultan pertama dari Kesultanan Banjar yang baru. Ia akan memimpin dengan ajaran Islam, sebuah ajaran yang menjunjung tinggi keadilan, kemakmuran, dan kedamaian."
Samudra maju, wajahnya memancarkan ketenangan. Ia melihat ke arah Gendut, Bagus, dan Sangkuriang. Mereka mengangguk, memberikan dukungan. Ia melihat ke arah rakyat, yang menatapnya dengan harapan. Ia tahu, tugasnya tidak akan mudah. Ia harus menyatukan kembali Banjar yang terpecah, dan ia harus membangun kembali kepercayaan.
Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, Pangeran Samudra resmi memeluk Islam. Khatib Dayyan kemudian menobatkan dirinya sebagai Sultan pertama Kesultanan Banjar, dengan gelar Sultan Suriansyah. Semua yang hadir bertepuk tangan, bersorak gembira. Mereka memiliki raja baru, seorang raja yang telah berjuang bersama mereka, dan seorang raja yang membawa harapan baru.
Sebagai tindakan pertamanya, Sultan Suriansyah memerintahkan untuk membebaskan semua tahanan politik yang dipenjara oleh Tumenggung. Ia juga mengumumkan pengadilan terbuka untuk Tumenggung, di mana ia akan diadili oleh rakyatnya sendiri. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa ia bukan seorang tiran, melainkan seorang pemimpin yang menjunjung tinggi keadilan.
Tumenggung akhirnya diadili. Di hadapan rakyat, ia mengakui semua kejahatannya. Meskipun beberapa orang menuntutnya untuk dihukum mati, Sultan Suriansyah memutuskan untuk mengasingkannya ke sebuah pulau terpencil. Ia tidak ingin mengawali pemerintahannya dengan darah, tetapi ia juga tidak ingin membiarkan kejahatan Tumenggung tidak dihukum.
Sultan Suriansyah kemudian mengumumkan pembangunan masjid agung di Daha, sebagai simbol dari Kesultanan Banjar yang baru. Ia juga mengumumkan reformasi di bidang pemerintahan, perdagangan, dan sosial. Ia membentuk sebuah dewan penasihat yang terdiri dari para pemimpin suku, para pembesar yang setia, dan Khatib Dayyan.
Di malam hari, setelah semua upacara selesai, Sultan Suriansyah berjalan sendirian di tepi sungai, tempat ia dulu melarikan diri. Ia melihat ke arah bintang-bintang, dan ia tersenyum. Ia telah memenuhi janjinya. Ia telah merebut kembali takhta, dan ia telah membawa perubahan bagi rakyatnya. Namun, ia tahu, perjalanannya belum berakhir. Ia harus menjadi seorang raja yang lebih baik dari yang pernah ada, seorang raja yang akan membawa kemakmuran dan kedamaian bagi Banjar.
Bab ini berakhir dengan kebangkitan Sultan Suriansyah, seorang pangeran yang terusir, kini menjadi seorang raja yang dicintai. Ia telah mengubah takdirnya, dan ia telah mengubah takdir Banjar. Namun, tantangan baru sudah menanti. Banjar adalah kerajaan yang baru, dan ia harus menghadapi ancaman dari luar dan intrik dari dalam. Bab ini adalah akhir dari sebuah perjuangan, tetapi juga awal dari sebuah era baru.
