Di bawah langit Stockholm yang cerah namun dingin, Lev dan Anatasya berjalan menyusuri trotoar. Setelah Lev menjelaskan dengan canggung tentang makanannya, Anatasya merasa tidak enak. "Maaf ya, Lev. Aku benar-benar tidak kepikiran," ujarnya sambil sesekali melirik Lev.
"Tidak apa-apa, Anatasya. Aku juga belum terbiasa di sini," jawab Lev mencoba menenangkan.
Anatasya lantas menyarankan sebuah restoran kebab di ujung jalan. "Dengar-dengar pemiliknya orang Turki, jadi harusnya halal," katanya penuh keyakinan. Lev setuju. Ia sangat lapar dan perutnya sudah berbunyi sejak pagi.
Sesampainya di restoran, mata Lev memindai setiap sudut. Di dinding, terpajang foto-foto pemandangan Turki yang indah. Bau rempah-rempah yang lezat segera menyambut indra penciumannya. Setelah duduk, Lev merasa lega. Ini adalah tempat yang tepat.
Saat Anatasya hendak memesan, Lev dengan sigap menghentikannya. "Tunggu, Anatasya. Biar aku saja yang pesan," ucap Lev.
Anatasya tersenyum. "Kenapa? Kamu takut aku salah pesan lagi?" tanyanya menggoda.
Lev menggaruk-garuk kepalanya. "Bukan begitu... Aku hanya... lebih nyaman saja."
Ketika gilirannya tiba, Lev maju ke konter. Ia mencoba berbicara dengan pelayan dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. "Saya... ingin... kebab," katanya sambil menunjuk gambar di menu.
Pelayan itu, seorang pria dengan kumis tebal, menatap Lev dengan bingung. "Kebab... kyckling atau nötkött?" tanyanya dalam bahasa Swedia.
Lev mengerutkan kening. Ia tidak mengerti. "Maaf, bisa pakai bahasa Inggris?"
Pelayan itu menghela napas, lalu mencoba berbicara dalam bahasa Inggris yang kurang fasih. "Chicken or beef?"
"Oh, beef!" jawab Lev lega. "Dan... apa ada... saus?"
Pelayan itu mengangguk, lalu menunjuk beberapa pilihan saus. "Saus... stark?" tanyanya, sambil menggerakkan tangannya seolah-olah mengisyaratkan sesuatu yang pedas.
Lev yang tidak tahu artinya, mengangguk saja. "Ya, ya, saus..."
Anatasya yang melihat dari meja, tidak bisa menahan tawanya. "Lev, stark itu artinya pedas!" katanya.
Lev segera panik. "Oh! Not stark! Not stark!" ucapnya panik kepada pelayan, yang kini menatapnya dengan ekspresi bingung.
Anatasya menghampiri Lev dan membantu memesan. Dengan bahasa Swedia yang fasih, ia menjelaskan pesanan Lev. Lev merasa malu, namun Anatasya hanya tertawa. "Tidak apa-apa, Lev. Kamu pasti akan terbiasa," hiburnya.
Setelah pesanan datang, mereka menikmati kebab mereka. Kebab itu terasa lezat, tapi Lev tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Anatasya yang makan dengan lahap.
"Kenapa, Lev? Apa ada yang salah?" tanya Anatasya sambil mengunyah.
"Tidak, tidak ada," jawab Lev. "Hanya... aku kagum kamu bisa makan secepat itu."
Anatasya tersenyum. "Aku lapar sekali. Kamu tahu, di sini cuacanya dingin, jadi perut cepat kosong."
Mereka mengobrol ringan sambil makan, membahas pekerjaan, perbedaan budaya, dan hal-hal sepele lainnya. Lev merasa nyaman berada di dekat Anatasya. Ia tidak merasa canggung lagi. Perbedaan agama mereka tidak terasa menjadi penghalang. Anatasya sangat menghormati keyakinan Lev, dan Lev menghargai keterbukaan Anatasya.
Saat pulang, Anatasya menawarkan untuk mengantarkan Lev pulang. "Aku bisa berjalan kaki saja, Anatasya," tolak Lev halus.
"Tidak apa-apa, Lev. Aku harus melewati daerah itu," jawab Anatasya.
Saat mereka berjalan, Anatasya melihat ke arah Lev. "Kamu terlihat lebih baik, Lev," katanya.
"Terima kasih," jawab Lev. "Aku berusaha."
"Kamu bisa cerita apa saja, Lev. Aku akan mendengarkan," Anatasya menawarkan.
Lev terdiam. Ia menatap ke langit. "Aku... merindukan seseorang."
Anatasya mengangguk. "Aku tahu. Tapi, hidup harus terus berjalan, Lev."
Kata-kata Anatasya terasa menusuk, namun juga menenangkan. Lev tahu ia harus melupakan masa lalunya, tapi ia tidak tahu bagaimana. Ia harus menemukan cara untuk melanjutkan hidup, tanpa melupakan kenangan indah bersama Vania.
Ketika mereka sampai di apartemen Lev, Lev berterima kasih pada Anatasya. "Terima kasih, Anatasya."
Anatasya tersenyum. "Sama-sama, Lev. Sampai jumpa besok!"
Lev melambaikan tangannya, lalu masuk ke dalam apartemen. Ia melihat foto Vania di meja samping tempat tidur. "Aku akan baik-baik saja, Vania," bisiknya. "Aku akan berusaha. Aku janji."
Babak baru kehidupannya di Stockholm memang berat, tetapi dengan kehadiran Anatasya, Lev merasa tidak lagi sendirian. Ia tahu, ia harus berjuang untuk kebahagiaannya sendiri, dan ia akan melakukannya.
