Misi Sahur Fajar dan Fatimah (Kisah Anak Muslim tentang Bulan Puasa
Suara bedug maghrib belum lagi terdengar, tapi Fajar sudah tidak sabar menunggu. Hari ini adalah hari pertama puasa di bulan Ramadan. Fajar dan Fatimah, bersama teman-teman di Kampung Amanah, telah berjanji untuk puasa penuh. Bagi Fajar, itu adalah tantangan besar.
“Kak, nanti sahur, bangunkan aku ya!” pinta Fajar.
“Insyaallah, Jar,” jawab Fatimah sambil tersenyum. “Tapi kamu juga harus berusaha bangun sendiri. Itu namanya belajar mandiri.”
Fajar mengangguk, tapi dalam hati ia khawatir. Ia takut terlambat bangun dan tidak bisa sahur. Jika tidak sahur, bagaimana ia bisa kuat berpuasa seharian? Malam itu, Fajar memasang alarm di jam mainannya. Ia menaruh jam itu di samping tempat tidurnya, berharap suara alarmnya bisa membangunkannya.
Pukul 03.00 pagi, alarm jam mainan Fajar berbunyi nyaring. Kring! Kring! Kring! Fajar terbangun dengan kaget. Ia melihat ke sekeliling, masih gelap. Ia merasa sangat mengantuk. Tapi ia teringat janjinya. "Misi sahur!" bisiknya.
Fajar segera membangunkan Fatimah. "Kak, bangun! Alarmku bunyi!"
Fatimah, yang sudah lebih dulu terbangun, hanya tersenyum. "Alhamdulillah, kamu berhasil bangun sendiri, Jar!"
Mereka berdua lalu membangunkan Ibu dan Ayah. Fajar merasa bangga karena ia bisa bangun sahur tanpa harus dibangunkan. Di meja makan, Ibu sudah menyiapkan makanan sahur yang lezat. Fajar makan dengan lahap.
“Fajar, makan yang banyak ya, biar puasanya kuat,” kata Ibu.
Fajar mengangguk sambil tersenyum.
Di tengah kesibukan sahur, Fajar mendengar suara anak-anak dari luar. Ternyata, Rizal dan Budi sedang berkeliling kampung, membangunkan warga untuk sahur dengan menggunakan kentongan. Mereka memukul kentongan dengan irama yang riang, ditemani beberapa anak lainnya.
“Sahur! Sahur! Sahur!” teriak mereka.
Fajar merasa senang. Ia melihat Fatimah. "Kak, besok aku mau ikut Rizal bangunin sahur, ya!"
Fatimah mengangguk, “Boleh, Jar. Itu perbuatan baik.”
Setelah sahur, mereka semua melakukan salat Subuh berjamaah di masjid. Hati Fajar terasa tenang. Ia merasa senang karena berhasil menjalani sahur pertamanya.
Keesokan harinya, Fajar ikut bersama Rizal dan Budi berkeliling kampung. Ia memukul kentongan dengan semangat. Ia tidak lagi merasa sahur adalah sebuah beban, tapi sebuah petualangan seru yang dilakukan bersama teman-teman.
Sepanjang hari, saat puasa, Fajar merasa lapar, tapi ia teringat betapa semangatnya ia saat sahur. Ia mengingat janji yang telah ia buat pada dirinya sendiri. Ia belajar bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga tentang menepati janji, melawan rasa malas, dan bersemangat dalam beribadah.
Pada saat maghrib tiba, azan berkumandang, dan Fajar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ia telah berhasil menyelesaikan puasa hari pertamanya. Dan ia tahu, masih banyak petualangan Ramadan yang akan ia jalani bersama Fatimah dan teman-temannya.
