Kepulangan dari misi "Ketupat Kandangan" terbaik menyisakan kebahagiaan dan perut kenyang. Sore harinya, rumah keluarga Rahmat dihebohkan oleh ambisi baru Sarah. Sebagai mahasiswa kuliner, Sarah merasa tertantang untuk menguasai resep kue tradisional yang kian langka: Kue Rangai.
Kue Rangai adalah camilan khas Banjar yang terbuat dari tepung sagu, kelapa parut, dan gula merah, dicetak dalam cetakan khusus, dan dipanggang hingga kering dan renyah. Sekilas tampak sederhana, namun Sarah tahu betul, makanan tradisional seringkali menyimpan trik tersendiri.
"Oke, Bu, Sarah mau coba bikin Kue Rangai," umum Sarah di dapur, tangannya sibuk menyiapkan bahan.
Ibu Salma yang sedang santai membaca majalah, menoleh. "Oh, Kue Rangai. Resep Nenek ada di laci itu, Nak. Kelihatannya gampang, tapi perlu kesabaran ekstra."
"Gampang kok, Bu. Sarah kan calon chef profesional," jawab Sarah percaya diri.
Aisyah yang baru selesai live TikTok, ikut nimbrung. "Aku bantu, Kak! Aku bagian dokumentasi, angle dari atas, bawah, samping, biar estetik!"
Zaki juga tak mau kalah. "Zaki bagian nyicipin, Kak!"
Dengan semangat empat lima, Sarah mulai mengadon. Tepung sagu pilihan, kelapa parut segar, dan gula merah yang dihancurkan dicampur menjadi satu. Masalah pertama muncul saat adonan terasa terlalu kering dan sulit menyatu.
"Kok enggak bisa kalis ya?" Sarah mulai panik.
"Mungkin kurang kelapa parutnya, Kak," saran Zaki polos.
Sarah menambahkan kelapa parut lagi, tapi adonan malah jadi terlalu basah dan lengket. Ia mencoba menyesuaikan takaran berdasarkan instingnya sebagai mahasiswa kuliner, mengabaikan resep tertulis dari neneknya yang memang hanya berisi takaran bahan tanpa instruksi detail.
"Sarah, resep nenek itu pakainya feeling. Enggak bisa cuma dikira-kira," tegur Ibu Salma lembut, mencoba membantu Sarah yang mulai frustrasi.
Setelah perjuangan mengadon, tiba saatnya memanggang. Sarah menuang adonan ke dalam cetakan Rangai tradisional yang sudah dipanaskan di atas kompor. Aroma kelapa panggang dan gula merah mulai memenuhi dapur, menjanjikan kenikmatan.
Namun, saat proses pencetakan dan pemanggangan selesai dan Sarah mencoba mengeluarkan kue dari cetakan... krak! Kue Rangai yang seharusnya utuh dan cantik, malah hancur berantakan. Bentuknya tidak karuan, lebih mirip remahan kue kering daripada kue utuh.
Ayah Rahmat yang baru masuk ke dapur karena mencium aroma harum, langsung terhenti melihat pemandangan di meja dapur. Kue Rangai hancur berserakan di piring.
"Wah, ini Kue Rangai varian 'Hujan Meteor' ya, Nak?" celetuk Ayah Rahmat dengan wajah serius yang dibuat-buat, langsung memancing tawa Aisyah dan Zaki.
"Ayah ih!" Sarah merengut sebal, wajahnya memerah karena malu.
Aisyah tak bisa menahan tawanya. "Gagal total, guys! Epic fail bikin Kue Rangai!" Aisyah merekam remahan kue itu.
"Ini bukan gagal, Aisyah. Ini... ini seni abstrak kuliner!" bela Sarah.
Ibu Salma mendekat, mengambil sepotong remahan kue dan mencicipinya. "Rasanya sudah enak, Sarah. Cuma teksturnya saja yang kurang pas dan teknik pencetakannya. Besok coba lagi pelan-pelan sama Ibu ya?"
Meskipun gagal, Sarah merasa sedikit lega karena rasanya tidak seburuk penampilannya. Zaki dengan lahap memakan remahan kue itu, "Enak kok, Kak! Kayak cookies kelapa!"
Kegagalan Sarah menjadi bahan candaan keluarga selama makan malam. Namun, di balik tawa itu, ada pelajaran berharga. Sarah belajar bahwa menguasai kuliner, terutama yang tradisional, membutuhkan kerendahan hati untuk belajar dari pengalaman orang tua dan kesabaran. Di dapur keluarga Rahmat, gagal bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari tawa dan kesempatan untuk mencoba lagi bersama-sama. Sarah bertekad, lain kali dia pasti berhasil membuat Kue Rangai yang sempurna.
