Menempa Impian: Kisah Cinta Mahasiswa ULM, Lev dan Vania, di Banjarmasin.
Setelah berhasil melewati konflik percintaan pertama mereka, hubungan Lev Ryley dan Vania Larasati semakin kuat. Mereka belajar untuk saling memahami dan menghargai perbedaan. Namun, babak baru dalam kisah cinta mereka kembali hadir, kali ini dalam bentuk tantangan yang tak terhindarkan: kesibukan akademik dan impian masa depan.
Semester baru telah dimulai. Lev semakin tenggelam dalam tugas-tugas akhir sebagai mahasiswa pustakawan ULM. Proyek-proyek penelitian, inventarisasi koleksi langka, dan magang di perpustakaan kota menyita sebagian besar waktunya. Ia semakin jarang bisa meluangkan waktu untuk Vania, si mahasiswa PGSD ULM yang juga sedang disibukkan dengan tugas mengajar praktik di sekolah dasar di Banjarmasin.
"Aku minta maaf, Vania. Aku benar-benar tidak bisa ikut ke pameran senimu yang berikutnya. Ada laporan yang harus aku selesaikan," ucap Lev melalui telepon suatu malam.
Suara Vania di ujung telepon terdengar sendu. "Tidak apa-apa, Lev. Aku mengerti. Aku juga sibuk sekali. Anak-anak di sekolah sangat butuh perhatian."
Mereka berdua mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanyalah fase yang harus mereka lalui. Namun, intensitas pertemuan yang berkurang mulai membuat hubungan mereka terasa hambar. Percakapan mereka sering kali hanya seputar tugas dan jadwal yang padat. Romantisme yang dulu mereka temukan di Pantai Takisung dan Siring Sungai Martapura perlahan memudar, tertelan oleh rutinitas sebagai mahasiswa yang sibuk.
Suatu hari, Lev menemukan sebuah novel lama di perpustakaan. Judulnya Cinta di Tengah Kesibukan. Ia membaca setiap kalimatnya dengan saksama. Novel itu bercerita tentang sepasang kekasih yang harus berjuang mempertahankan cinta mereka di tengah kesibukan masing-masing.
"Mungkin ini yang harus aku lakukan," gumam Lev. "Mungkin aku harus lebih berusaha."
Malamnya, Lev mengirim pesan pada Vania.
Lev: Vania, aku tahu kita sibuk. Tapi aku merindukanmu. Besok, setelah kamu selesai mengajar, bagaimana kalau kita bertemu sebentar di taman tempat kamu biasanya mengajar anak-anak? Aku akan membawakanmu kopi. Kita tidak perlu bicara banyak, cukup menikmati senja bersama.
Vania membalas dengan cepat.
Vania: Aku akan ada di sana. Aku juga merindukanmu, Lev.
Keesokan harinya, Lev datang ke taman dengan membawa dua gelas kopi. Vania sudah menunggu. Setelah anak-anak pulang, mereka duduk di bangku taman yang sama, menikmati senja yang perlahan turun. Mereka tidak banyak bicara, tapi kehadiran satu sama lain sudah cukup. Lev merasa hangat. Vania merasa damai.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa ULM di Banjarmasin, mereka menemukan cara untuk tetap bersama. Kompromi bukan hanya soal menerima perbedaan, tapi juga soal meluangkan waktu, sesempit apa pun itu. Kisah cinta mahasiswa mereka terus ditempa, menjadi semakin kuat di bawah tekanan.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Bagaimana Lev Ryley dan Vania Larasati menghadapi tantangan jarak dan kesibukan?
Ikuti terus kelanjutan novel romantis ini, dan saksikan bagaimana kisah cinta mereka terus berkembang di Banjarmasin.
Cinta sejati akan selalu menemukan jalan. #MahasiswaULM #Banjarmasin #NovelRomantis #KisahCinta #UjianHubungan
