Pagi itu, garasi bawah tanah kediaman Al-Fassi menjadi saksi bisu dilema kecil seorang Zayn Al-Fassi. Garasi ber-AC dengan lantai epoksi mengkilap itu bukan sekadar tempat parkir; itu adalah sebuah showroom pribadi yang menampung koleksi otomotif bernilai jutaan dolar.
Zayn berdiri di depan tiga pilihan utamanya hari ini. Di sebelah kiri, Rolls-Royce Cullinan yang mewah dan understated—SUV ultra-mewah yang sempurna untuk perjalanan bisnis formal dan melaju mulus di lalu lintas kota Casablanca. Di tengah, Lamborghini Aventador SVJ Roadster oranye menyala—simbol kecepatan, gairah, dan mid-life crisis yang belum usai. Dan di sebelah kanan, Mercedes-Benz Maybach S 680 yang baru tiba minggu lalu—lambang kemewahan Jerman yang tenang dan berkelas.
Hari ini Zayn ada pertemuan penting dengan investor hotel bintang lima di pusat kota. Logika bisnis menuntut Maybach atau Cullinan. Namun, inner child Zayn berteriak menginginkan Lamborghini.
"Hmm," gumam Zayn, mengusap dagunya yang licin setelah bercukur menggunakan pisau cukur GilletteLabs premium. Dia sudah mengenakan setelan tiga potong Brioni yang dijahit khusus, kemeja Thomas Pink, dan sepatu kulit Salvatore Ferragamo yang mengkilap sempurna.
Dari arah belakang, Tariq muncul, siap berangkat sekolah internasional. Dia mengenakan jaket varsity Louis Vuitton edisi kolaborasi terbaru dan membawa ransel RIMOWA aluminium.
"Abi, kalau mau pamer horsepower mending pakai Lambo. Kalau mau pamer kenyamanan pakai Maybach," saran Tariq, dengan gaya santai khas remaja kaya. "Tapi kalau mau pamer status absolut, pakai Rolls-Royce, dong."
Zayn tertawa kecil. "Saranmu tidak membantu sama sekali, Tariq."
"Kenapa nggak pakai Porsche 911 Turbo S yang di pojok sana? Kan Abi belum sering pakai," usul Tariq lagi, menunjuk ke arah mobil sport Jerman berwarna biru safir yang jarang tersentuh.
"Terlalu kecil untuk membawa berkas-berkas penting, Nak." Zayn akhirnya mengambil keputusan. Dia menekan tombol kunci Maybach S 680. Mobil sedan super mewah itu merespons dengan lampu LED yang berkedip elegan.
"Pilihan berkelas, Bi," puji Tariq. "Aku berangkat duluan pakai sopir, ya. Jangan lupa sniping sepatu Supreme x Tiffany-ku!"
"Siap, Bos Muda," balas Zayn.
Zayn masuk ke dalam Maybach. Aroma kulit Nappa eksklusif langsung menyergap indra penciumannya. Dia menyalakan mesin V12 twin-turbo yang bergemuruh halus. Musik klasik lembut dari sistem audio Burmester 4D surround sound otomatis memenuhi kabin. Kursi pijat elektriknya aktif begitu Zayn menyesuaikan posisi duduknya.
Ini bukan sekadar mobil. Ini adalah kantor berjalan, ruang spa berjalan, dan pernyataan kesuksesan yang berjalan.
Saat Maybach meluncur keluar gerbang Anfa yang megah, Zayn melirik arloji Audemars Piguet Royal Oak Selfwinding Chronograph miliknya. Bezel oktagonalnya yang ikonik menangkap sinar matahari pagi Casablanca. Waktu menunjukkan pukul 08:30 pagi.
Perjalanan menuju pusat kota adalah sebuah tontonan kontras. Maybach melaju di jalanan yang ramai dengan lalu lintas padat Maroko—beberapa taksi tua petit berwarna merah, gerobak dorong, dan motor yang lincah. Di dalam mobil kedap suara itu, Zayn merasa terisolasi dalam kepompong kemewahan absolut. Orang-orang di luar hanya bisa melirik dengan kagum (atau mungkin sedikit iri) pada sedan Jerman ultra-eksklusif itu.
Zayn menggunakan waktu perjalanan untuk melakukan panggilan bisnis bebas genggam melalui sistem MBUX canggih mobilnya. Dia membahas detail kontrak, angka, dan logistik dengan para eksekutifnya di kantor pusat.
"Pastikan semua berkas dipresentasikan dengan font yang rapi. Kita ingin mitra Four Seasons terkesan," instruksinya via telepon.
Ketika Maybach akhirnya tiba di lobi gedung pencakar langit tempat kantornya berada, seorang petugas parkir berlari sigap untuk membukakan pintu belakangnya—Zayn jarang menyetir sendiri jika di kantor.
Zayn keluar dari mobil dengan langkah penuh percaya diri. Setelan Brioni-nya pas sempurna, arloji AP-nya berkilau, dan dia siap menaklukkan hari bisnis di Casablanca. Mobilnya, si Maybach S 680, hanya salah satu alat dalam gudang senjatanya—sebuah alat yang sangat, sangat mahal, tetapi membuatnya merasa di puncak dunia.
