Pagi itu, Kayu Tangi diselimuti kabut tipis yang merayap dari sungai Barito. Suasana kota masih sunyi, berbeda jauh dari gemerlap semalam. Gusti Inu Kertapati, atau Antasari, sudah bersiap di dermaga pribadi di belakang istana. Ia mengenakan pakaian yang lebih sederhana, terbuat dari kain yang kuat, bukan lagi sutra mahal para pangeran. Di tangannya, sebilah keris pusaka milik ayahnya terselip, satu-satunya benda yang ia bawa sebagai pengingat akan jati dirinya.
Di sampingnya, berdiri seorang pria setengah baya berwajah keras, namun matanya memancarkan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ia adalah Tumenggung Surapati, seorang panglima perang kepercayaan yang telah mengabdi pada keluarga Antasari selama beberapa generasi. Surapati tahu, keputusan Antasari untuk meninggalkan istana bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan awal dari sebuah misi yang penuh risiko.
"Apa yang akan kita lakukan, Pangeran?" tanya Surapati dengan suara rendah. "Apakah kita akan kembali ke kampung halaman, menunggu waktu yang tepat?"
Antasari menggeleng. "Tidak, Surapati. Kita tidak akan menunggu. Waktu yang tepat itu tidak akan pernah datang dengan sendirinya. Kita akan menemui mereka yang dilupakan istana. Mereka yang masih memiliki kehormatan dan semangat juang."
Antasari menunjuk ke arah hulu sungai. "Kita akan ke pedalaman. Menemui saudara-saudara kita, para pemimpin Dayak. Mereka adalah penjaga sejati tanah ini. Mereka juga korban dari keserakahan Belanda."
Perahu kecil mereka melaju membelah sungai yang tenang. Mereka melewati pasar yang mulai ramai, melihat wajah-wajah rakyat yang dipenuhi beban hidup. Para saudagar Banjar menghela napas panjang saat kapal-kapal Belanda bersenjata lengkap berpatroli, mengawasi setiap pergerakan. Di mata rakyat, Antasari melihat campuran ketakutan dan harapan. Harapan akan datangnya seorang pemimpin yang berani menentang kegelapan.
Semakin jauh mereka bergerak ke hulu, pemandangan kota yang padat perlahan tergantikan oleh hutan lebat yang menjulang. Suara riuh manusia berganti dengan kicauan burung dan suara monyet yang saling bersahutan. Di sinilah, di jantung rimba yang tak tersentuh, kekuatan sejati Kalimantan bersembunyi.
Setelah berlayar selama beberapa hari, mereka tiba di sebuah perkampungan Dayak yang tersembunyi di balik jeram. Kedatangan mereka disambut dengan waspada. Seorang pria tua dengan tato rumit di tubuhnya, kepala suku yang disegani, menghampiri mereka. Namanya Tumenggung Pandan.
"Kenapa seorang pangeran istana datang ke tempat kami, Tumenggung?" tanya Pandan dengan nada penuh curiga. "Apakah Banjar sudah tidak memiliki tempat lagi untukmu?"
Antasari turun dari perahu, menunjukkan keris pusakanya. "Aku datang bukan sebagai pangeran dari istana yang lemah, Tumenggung. Aku datang sebagai Gusti Inu Kertapati, putera dari Pangeran Mas'ud. Aku datang untuk mencari sekutu, bukan pengikut."
Mendengar nama Pangeran Mas'ud, mata Pandan melembut. "Ayahmu adalah pejuang sejati. Ia sering datang kemari, menjalin persahabatan dengan kami. Duduklah, anak Pangeran Mas'ud."
Di pondok Tumenggung Pandan, Antasari menceritakan semua yang terjadi di istana. Intrik Belanda, kelemahan sebagian bangsawan, dan bagaimana kehormatan Banjar telah dijual murah. Pandan mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk.
"Kami juga merasakan dampaknya," kata Pandan. "Para saudagar Dayak tidak bisa lagi menjual hasil hutan kami dengan harga pantas. Belanda memaksakan harga yang rendah. Jika kami melawan, mereka mengirim pasukan bersenjata."
"Aku ingin menyatukan semua kekuatan, Tumenggung," kata Antasari. "Kekuatan Dayak dan Banjar. Kita harus bersatu, jika kita ingin merebut kembali apa yang menjadi hak kita."
Pandan menatap Antasari. Ia melihat api perjuangan yang sama seperti yang ia lihat di mata ayah Antasari. "Jalanmu akan sulit, Pangeran. Belanda memiliki senjata api dan kapal besi. Mereka kuat."
"Tapi mereka tidak mengenal rimba kita. Mereka tidak memiliki semangat juang seperti yang kita miliki. Mereka lemah di darat, dan kita akan memanfaatkan kelemahan itu," balas Antasari penuh keyakinan.
Setelah mendengar tekad Antasari, Tumenggung Pandan akhirnya tersenyum. "Kau adalah pangeran yang berbeda. Kau layak mendapat dukungan kami." Sebuah aliansi terlahir. Bukan aliansi politik yang rapuh, melainkan aliansi persaudaraan, antara seorang pangeran dari istana dan para penjaga rimba. Aliansi ini akan menjadi mimpi buruk bagi Belanda, karena mereka telah meremehkan kekuatan yang sesungguhnya: kekuatan persatuan.
Antasari meninggalkan perkampungan Dayak itu dengan hati yang penuh keyakinan. Ia tahu, jalan di depannya penuh rintangan, tetapi ia tidak lagi sendirian. Di belakangnya, berdiri ribuan prajurit Dayak dan Banjar yang siap mengorbankan segalanya demi merebut kembali tanah mereka. Perang akan segera dimulai. Dan kali ini, perlawanan akan datang dari jantung rimba yang tak terduga.
