Rumah di Sungai Jingah mendadak terasa seperti markas komando militer, tapi dengan aroma nasi goreng yang masih menguar. Anindya, dengan semangat membara yang khas seorang bendahara pengajian, langsung mengambil alih komando.
"Baik, pasukan Ryley!" serunya, mengumpulkan semua anggota keluarga di ruang tengah setelah sarapan tuntas. Lev masih mencoba menyelesaikan misi rahasianya menyembunyikan paket, tapi gagal total karena Anindya sudah menemukan tumpukan kardus di balik sofa.
"Yah, ini apa?" Anindya menunjuk kardus-kardus itu dengan tatapan mengintimidasi.
Lev tersenyum kikuk. "Ehm, itu... sponsor, Bu. Sponsor untuk perjalanan kita. Biar feed Instagram Ibu makin ciamik."
Anindya mendengus geli, tapi tak mempermasalahkan. Fokusnya kini adalah itinerary. Dia mengeluarkan sebuah papan tulis kecil dan spidol warna-warni. "Oke, agenda kita hari ini: Rapat Persiapan Perjalanan Eropa!"
Aisyah, sang organisatoris ulung, langsung mengeluarkan buku catatannya. "Siap, Bu. Agenda rapat: satu, pembagian tugas; dua, timeline pengurusan dokumen; tiga, riset destinasi."
Lev, sang IT guy yang terstruktur, mengambil laptopnya. "Ayah akan fokus di ticketing dan booking akomodasi. Kita butuh penginapan ramah keluarga yang lokasinya strategis, terutama di Interlaken nanti."
"Bagus, Yah. Team work!" puji Anindya. "Sekarang, tugas anak-anak."
Ghina, si lincah yang tak sabar, langsung angkat tangan tinggi-tinggi. "Ghina mau tugas yang seru! Yang bisa lari-lari!"
"Ghina dan Rayyan, tugas kalian gampang: Jaga kesehatan, makan yang banyak, dan yang paling penting, jangan rewel di pesawat nanti," ujar Lev sambil mengedipkan mata ke Rayyan, yang balas mengangguk polos.
"Dan tugas tambahannya," tambah Anindya, "Ghina, kamu bantu Ibu riset tempat-tempat foto viral di Swiss. Hashtag-nya harus aesthetic dan kekinian. Rayyan, kamu bantu Ayah cari tahu soal kereta api di sana, katanya keren banget!"
Ghina bersorak, sementara Rayyan memandang Ayahnya penuh minat.
Kini giliran Maryam, si pendiam yang sejak tadi sibuk menggambar sketsa pegunungan Alpen yang ia bayangkan. "Maryam mau bantu apa, Bu?" tanyanya lembut.
"Maryam, tugasmu paling penting," kata Anindya serius. "Kamu adalah dokumentator utama kita. Bawa sketchbook terbaikmu. Abadikan setiap momen, setiap pemandangan indah yang nggak bisa ditangkap kamera. Ceritamu akan jadi novel perjalanan kita nanti."
Mata Maryam berbinar. Ia memeluk sketchbook-nya erat. Tugas itu sangat pas dengan minatnya.
Terakhir, Aisyah. "Aku bantu Ibu di riset destinasi detail, terutama yang ada nilai sejarah dan Islamiknya. Dan bantu Ayah urus visa dan paspor semua orang. Aku juga akan buat checklist barang bawaan."
"Sempurna!" Anindya menepuk tangannya. "Rapat selesai. Misi dimulai!"
Selama seminggu berikutnya, rumah keluarga Ryley dipenuhi kesibukan. Ruang tamu yang biasanya tenang kini menjadi pusat logistik dan riset.
Lev, dengan keahlian IT-nya, membuka belasan tab di laptopnya. Mencari tiket pesawat Banjarmasin-Jakarta-Manchester dan Swiss Air yang paling efisien, membandingkan harga hotel di dekat Trafford Centre Manchester dan chalet di Interlaken, sambil sesekali menghela napas melihat harga coklat Swiss di e-commerce.
Anindya, di sela-sela kesibukan majelis taklim dan live TikTok, sibuk membuat daftar belanja perlengkapan musim dingin. "Yah, kita butuh jaket tebal waterproof. Yang ini lucu deh, diskon 50%! Cuma dua juta rupiah!"
"Dua juta rupiah kali enam orang, Bu!" Lev histeris dari kamarnya. "Kita bukan mau hiking ke Everest, cuma liburan!"
Aisyah dengan cekatan mengurus formulir visa Schengen, memastikan semua dokumen lengkap, dari surat keterangan kerja Lev hingga akta kelahiran si kembar dan Rayyan. Dia bahkan membuat grup WhatsApp khusus "Misi Eropa Ryley" untuk koordinasi.
Maryam menghabiskan sore harinya di perpustakaan kota, mencari buku tentang arsitektur kuno dan sejarah Manchester. Ghina dan Rayyan sibuk menonton YouTube tentang tempat-tempat wisata, tertawa-tawa melihat orang bermain salju di Jungfraujoch.
Kehidupan bertetangga di Sungai Jingah pun tak luput dari kehebohan ini. Ibu-ibu pengajian sering mampir, penasaran dengan persiapan "Naik Haji ke Eropa" ala Bu Anindya.
"Masya Allah, Bu Anindya, jauh bener liburannya. Nanti bawain apa dari sana?" tanya Bu RT, tetangga sebelah.
"Doa, Bu, doa! Sama coklat insya Allah ada," jawab Anindya sambil tertawa. "Tapi yang paling penting, kami bawa cerita balik ke sini."
Di tengah kesibukan itu, rasa syukur keluarga Ryley semakin mendalam. Mereka sadar bahwa momen kebersamaan ini adalah rezeki terbesar dari Allah SWT. Tujuh belas tahun lalu, nazar mereka tuntas dengan perjalanan spiritual di tanah air. Kini, di usia pernikahan ulang tahun kita dan ulang tahun Aisyah yang sama-sama menginjak 17, mereka siap menorehkan lembaran baru kisah hidup mereka di benua lain, membawa serta nilai-nilai Islami dan kehangatan khas keluarga Banjarmasin kemanapun mereka pergi. Manchester dan Swiss, siap-siap menerima kehebohan keluarga Ryley!
