Matahari mulai meninggi di Banjarmasin. Setelah sarapan Nasi Kuning Ikan Haruan yang memuaskan, energi keluarga Rahmat terisi penuh. Namun, bagi keluarga ini, satu sesi makan tak pernah cukup untuk menuntaskan hasrat kuliner mereka. Rencana selanjutnya sudah disusun rapi oleh Ayah Rahmat yang antusias: Misi "Ketupat Kandangan" Terbaik.
"Baiklah, pasukan perut lapar!" seru Ayah Rahmat dengan gestur komando, berdiri di ruang tamu. "Misi hari ini: Menemukan Ketupat Kandangan paling mantul (mantap betul) di seantero Banjarmasin!"
"Siap, Yah!" Zaki berteriak semangat, sudah memakai topinya.
"Tapi, Yah, kita kan udah langganan di tempat Nek Ida," protes Sarah, yang lebih suka konsisten pada rasa yang sudah terjamin.
"Ah, Sarah, jiwa petualang kuliner kita harus diasah! Nek Ida memang enak, tapi kita harus riset pasar!" Ayah Rahmat mengedipkan mata, membuat Aisyah cekikikan.
Ibu Salma hanya tersenyum maklum sambil mengenakan jilbabnya. "Ada-ada saja Bapak ini. Ya sudah, ayo berangkat. Tapi ingat, jangan sampai kemalaman, mau magrib kita harus sudah di rumah."
Keluarga Rahmat pun masuk ke mobil keluarga mereka yang sedikit tua tapi terawat. Perjalanan menuju daerah pasar tradisional dimulai. Ayah Rahmat bertugas sebagai navigator dadakan, mengandalkan informasi dari grup WhatsApp dan instingnya sebagai orang Banjar asli.
Mereka menyusuri jalanan Banjarmasin yang mulai ramai. Di sepanjang jalan, aroma khas kota ini tercium: aroma air sungai, aroma asap sate, dan sesekali aroma durian yang mulai musim.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah warung di daerah Pasar Lama yang konon katanya legendaris.
"Katanya di sini kuahnya kental banget, ikannya besar-besar," bisik Ayah Rahmat kepada Ibu Salma setibanya di lokasi.
Mereka duduk, dan empat porsi Ketupat Kandangan segera tersaji. Ciri khasnya jelas terlihat: ketupat yang dipotong kecil-kecil, disiram kuah santan kuning kental yang kaya rempah, dan lauk utama ikan gabus bakar yang diletakkan utuh di atasnya, lengkap dengan sambal terasi yang menggugah selera.
Saat suapan pertama masuk ke mulut, ekspresi Ayah Rahmat langsung berubah. Bukan ekspresi nikmat, melainkan ekspresi sedikit kecewa.
"Gimana, Pak?" tanya Ibu Salma.
"Ehm, enak sih, Bu. Tapi... kurang greget bumbunya," bisik Ayah Rahmat lagi.
Aisyah yang sedang live di TikTok Story dengan angle terbaiknya, menahan tawa. "Review jujur, guys! Ayah bilang kurang greget!"
"Hus! Jangan gitu, Aisyah. Rezeki dari Allah tetap harus disyukuri," tegur Ibu Salma lembut, meskipun beliau sendiri merasa kuahnya memang sedikit hambar.
Mereka menghabiskan porsi dengan cepat—karena memang dasarnya mereka doyan makan lalu membayar dan pamit. Misi belum selesai.
"Oke, next destination!" seru Ayah Rahmat.
Tujuan kedua adalah sebuah warung kecil di pinggir jalan dekat Jembatan Merah. Tempatnya sederhana, hanya beberapa meja plastik, tapi aroma masakannya tercium sampai ke pinggir jalan. Kali ini, mereka hanya memesan dua porsi untuk diicipi bersama.
Di sinilah komedi tawar-menawar terjadi. Ayah Rahmat, dengan gaya khasnya, mulai berinteraksi dengan penjualnya, seorang nenek ramah bernama Nek Jum.
"Nek, Ketupat Kandangan-nya ini bumbu santannya pakai kelapa muda atau kelapa tua, Nek?" tanya Ayah Rahmat sok tahu.
Nek Jum tertawa renyah. "Kelapa yang pas, Pak Ai. Rahasianya kada kawa dibawai bapadah (Rahasia tidak bisa diajak bicara/diberi tahu)."
Saat mencicipi, mata Ayah Rahmat langsung berbinar. Kuahnya pas, santannya gurih, pedasnya nendang!
"Ini dia! Ini dia yang kita cari!" Ayah Rahmat hampir berteriak.
"Jangan keras-keras, Pak, malu dilihat orang," Ibu Salma mengingatkan sambil tersenyum puas.
Akhirnya, misi selesai. Mereka menemukan Ketupat Kandangan terbaik versi mereka hari itu. Mereka membeli beberapa bungkus lagi untuk dibawa pulang. Selama perjalanan pulang, mobil keluarga itu penuh dengan tawa dan obrolan tentang betapa serunya petualangan kuliner mereka.
Bagi keluarga Rahmat, berburu makanan tradisional bukan sekadar soal mengisi perut, tapi soal menjaga warisan budaya dan menciptakan kenangan indah bersama. Nilai-nilai syukur, kebersamaan, dan interaksi sosial yang hangat di pasar tradisional Banjarmasin, semua terbungkus rapi dalam kuah santan nan gurih dari Ketupat Kandangan terbaik versi mereka.
