Setelah adegan haru di taman, Maimunah, Zainab, dan Sergei mengantar Vasily pulang. Pria tua itu tampak jauh lebih muda setelah beban di hatinya terangkat. Di depan pintu apartemennya yang sederhana, Vasily tersenyum tulus.
"Terima kasih, anak-anak," ucapnya, "Kalian telah mengajarkan saya bahwa persahabatan itu lebih berharga dari ego."
Maimunah balas tersenyum. "Sama-sama, om." Ia merasa bangga. Setidaknya, ia tidak hanya menjadi beban bagi Zainab dan Sergei. Ia juga bisa berguna.
Di perjalanan pulang, mereka bertiga bertemu Adam. Adam menyambut mereka dengan senyum hangat. Ia melirik Maimunah, lalu tersenyum geli. "Kamu habis nangis?" tanyanya.
Maimunah berdecak. "Nggak! Tadi cuma kelilipan salju."
Adam hanya tertawa. Ia tahu, Maimunah memang suka menyembunyikan perasaannya.
"Malam ini, kalian semua makan di apartemen saya," ajak Adam, "Sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu Vasily."
Maimunah langsung berbinar. "Masak apa?"
"Spesial buat kamu, cokelat panas," jawab Adam.
Maimunah langsung setuju. Zainab dan Sergei juga tidak menolak. Mereka penasaran dengan kehidupan Adam. Apalagi, Adam terlihat sangat berbeda dengan orang Rusia pada umumnya. Ia sangat ramah, dan ia juga memakai gamis.
Apartemen Adam terletak di pusat kota, tidak jauh dari universitas mereka. Apartemennya terlihat modern, dengan jendela besar yang menghadap ke kota Moskow yang diselimuti salju. Adam memang terlihat kaya. Maimunah merasa terkejut.
"Kamu beneran teman Ayah, Dam?" tanya Maimunah, ragu.
"Kenapa? Kamu nggak percaya?" Adam tersenyum, "Ayahmu itu dulu punya bisnis sama aku. Dia bantu aku bangun bisnis di Rusia."
Maimunah terdiam. Ayahnya memang seorang pengusaha, tapi ia tidak pernah menyangka, ayahnya memiliki koneksi dengan orang Rusia.
Adam menyajikan cokelat panas yang lezat, lengkap dengan marshmallow di atasnya. Maimunah langsung menyeruputnya. "Enak banget, Dam! Kalo jualan, pasti laku."
"Tentu saja," Adam tersenyum, "Ini resep rahasia keluarga."
"Kalian ini, hobi banget punya resep rahasia," sindir Maimunah, "besok aku mau bikin resep rahasia juga. Resep indomie dicampur keju."
Zainab mendengus. "Itu bukan resep, Mun. Itu namanya percobaan aneh."
Maimunah tidak peduli. Ia terus meminum cokelat panasnya.
Setelah selesai makan, Adam meminta Maimunah untuk membaca surat dari ayahnya. Maimunah membuka surat itu, dan membacanya. Isinya, pesan-pesan dari ayahnya yang menasihati Maimunah untuk selalu menjaga diri, dan selalu percaya pada Allah.
"Ayah tahu, kamu itu suka cari masalah," Ayahnya menulis, "Tapi Ayah juga tahu, kamu itu anak yang baik. Kamu itu punya hati yang tulus. Makanya, Ayah minta Adam buat jagain kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya. Ayah harap, kamu bisa lebih dewasa. Dan jangan lupa, selalu sholat."
Maimunah menitikkan air mata. Ayahnya memang selalu tahu segalanya.
Adam tersenyum. "Ayahmu itu orang yang baik, Mun. Dia selalu peduli sama kamu."
Maimunah mengangguk. "Aku tahu, Dam."
Maimunah merasa, kedatangan Adam ke Moskow bukan hanya untuk menjaganya, tetapi juga untuk mengingatkannya pada keluarganya. Ia merasa, ia tidak sendirian di Moskow. Ada banyak orang yang peduli dengannya.
Malam itu, mereka berempat duduk bersama, mengobrol, dan tertawa. Maimunah menceritakan kisah-kisahnya di Moskow, dan Adam mendengarkannya dengan seksama. Zainab sesekali meluruskan cerita Maimunah yang suka melebih-lebihkan.
"Jadi, kamu beneran mau jadi detektif?" tanya Adam, sambil tertawa.
"Nggak," jawab Maimunah, "aku mau jadi food blogger. Aku mau bikin review makanan di Moskow."
Zainab mendesah. "Mun, itu kan rencanamu yang lain lagi."
Maimunah hanya tersenyum. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi ia tahu, ia akan selalu bersemangat.
Keesokan harinya, Maimunah mengajak Adam untuk berkeliling Moskow. Mereka mengunjungi tempat-tempat wisata, dan Maimunah tidak lupa mengambil banyak foto. Ia bahkan sempat meminta Adam untuk mengambil fotonya dengan pose aneh di depan Basil's Cathedral.
"Dam, fotoin aku dong! Posenya gini," Maimunah mencontohkan pose anehnya.
Adam hanya tertawa. "Kamu itu ada-ada aja, Mun."
Maimunah tidak peduli. Ia tahu, ia adalah dirinya sendiri. Dan ia tidak akan pernah berubah.
To be continued...
