Udara dingin Stockholm menusuk hingga ke tulang, membuat Lev harus mengeratkan syalnya. Ia menghela napas, napasnya membentuk gumpalan uap di udara pagi yang cerah. Koper di tangannya terasa berat, bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena beban kenangan yang masih ia bawa. Di sekelilingnya, orang-orang berjalan cepat, terburu-buru seolah tak punya waktu sedetik pun untuk berhenti. Mereka semua tampak asing, dan Lev merasa seperti sebatang pohon tropis yang tiba-tiba ditanam di tengah salju.
Tiba di apartemennya yang minimalis dan didominasi warna putih, Lev merasakan kekosongan yang membingungkan. Tidak ada aroma masakan Vania, tidak ada tawa yang menggema, hanya keheningan yang membeku. Ia membuka koper dan mengeluarkan beberapa barang miliknya, termasuk Al-Qur'an kecil yang selalu dibawanya dan foto Vania. Ia meletakkan foto itu di meja samping tempat tidur, memandangnya sejenak. "Aku akan baik-baik saja," bisiknya, meyakinkan dirinya sendiri.
Hari pertama kerja tiba. Dengan panduan peta di tangannya, Lev berjalan menuju perpustakaan tempat ia akan bekerja. Gedung perpustakaan itu megah, dengan arsitektur klasik yang indah. Di dalamnya, ratusan rak buku berjejer rapi, membentang sejauh mata memandang. Lev merasa sedikit canggung, mengenakan kemeja rapi yang terasa terlalu formal untuknya.
Seorang wanita berambut pirang dengan senyum lebar menghampirinya. "Lev Ryley?" sapanya dengan aksen Swedia yang kental.
Lev mengangguk gugup. "Ya, saya."
"Senang bertemu denganmu! Aku Anatasya. Aku mentor yang akan membimbingmu." Anatasya menjabat tangan Lev dengan erat. "Jangan tegang begitu, Lev. Ini bukan wawancara lagi. Mari, ikut aku!"
Anatasya sangat ramah dan energik, kebalikan dari Lev yang pendiam. Ia mengajak Lev berkeliling perpustakaan, memperkenalkan setiap sudutnya, dari ruang baca yang sunyi hingga area koleksi langka. Saat melewati ruang anak, Anatasya melihat Lev menatap sebuah buku cerita anak.
"Kenapa, Lev? Apa kamu suka buku anak?" tanya Anatasya sambil tersenyum.
Lev buru-buru menggeleng. "Tidak, bukan. Hanya teringat sesuatu."
Anatasya tidak melanjutkan pertanyaan, ia menghormati privasi Lev. Namun, di tengah perjalanan, mereka melewati area kafetaria. Anatasya menawari Lev secangkir kopi.
"Mau kopi?" tawar Anatasya.
"Terima kasih, tapi tidak," jawab Lev. "Saya tidak minum kopi di siang hari."
Anatasya mengangguk, lalu mengambil sebuah donat dari meja. "Kalau begitu, aku ambil donat saja," ujarnya sambil menggigit donat itu.
Lev hanya terdiam, ia teringat Vania yang selalu membuatkan kopi di pagi hari dan menemaninya membaca. Tiba-tiba, mata Lev menangkap sesuatu di leher Anatasya. Ia melihat sebuah kalung salib yang melingkar di leher wanita itu. Seketika, Lev terdiam, ia menyadari perbedaan agama di antara mereka. Sebuah pikiran konyol melintas di benaknya, apakah ia harus menjaga jarak?
Anatasya menyadari perubahan ekspresi Lev. "Ada apa, Lev? Apa ada yang salah?" tanyanya khawatir.
Lev segera sadar dari lamunannya. "Tidak, tidak apa-apa," jawab Lev, mencoba tersenyum. "Hanya... sedikit lelah."
Anatasya tidak begitu saja percaya, tapi ia tidak mendesak. "Baiklah, kalau begitu istirahatlah sebentar. Ruanganmu ada di sana." Anatasya menunjuk sebuah bilik kecil dengan meja kerja dan sebuah kursi.
Setelah Anatasya pergi, Lev duduk di kursinya. Ia merasa cemas. Bukan karena pekerjaannya, tetapi karena mentornya. Apakah ia bisa bekerja dengan baik dengan seseorang yang berbeda keyakinan? Di satu sisi, ia menghargai Anatasya, tetapi di sisi lain, ia merasa canggung. Ia teringat nasihat ayahnya, "Hormati perbedaan, jangan biarkan perbedaan memisahkanmu dengan orang baik."
Di saat ia sedang melamun, seorang rekan kerja lain menghampirinya. "Hai, Lev. Aku Erik." Erik menjulurkan tangannya.
Lev menjabat tangan Erik. "Hai, Erik."
"Kamu jangan terlalu tegang," ujar Erik. "Anatasya memang orangnya seperti itu. Enerjik dan kadang bikin kaget." Erik menunjuk ke arah Anatasya yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan seorang rekan kerja lain.
Lev tersenyum kecil. Ia merasa sedikit lega. Mungkin kecemasannya berlebihan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah awal yang baru. Ia harus fokus pada pekerjaannya, pada tujuan utamanya, yaitu melanjutkan hidup. Ia akan berusaha beradaptasi, meskipun itu sulit.
Saat jam makan siang, Anatasya mengajaknya keluar. "Ayo, Lev. Kita makan siang bersama."
"Di mana?" tanya Lev.
"Ada restoran Italia di dekat sini. Makanan di sana enak sekali!"
"Maaf, Anatasya," jawab Lev. "Saya tidak bisa makan di restoran itu."
Anatasya terkejut. "Kenapa? Apa kamu tidak suka makanan Italia?"
"Bukan begitu," jelas Lev. "Saya... saya punya pantangan makanan." Lev merasa canggung menjelaskan bahwa ia hanya bisa makan makanan halal.
Anatasya menatap Lev sejenak, lalu ia tersenyum lebar. "Oh, aku mengerti! Maaf, aku lupa. Tenang, kita cari restoran lain. Di dekat sini ada restoran yang menyajikan makanan halal."
Lev merasa lega dan terharu dengan pengertian Anatasya. Ia menyadari bahwa perbedaan tidak harus menjadi penghalang. Ia akan belajar banyak dari Anatasya, bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga soal kehidupan. Dengan senyum yang tulus, Lev mengikuti Anatasya. Petualangannya di Stockholm baru saja dimulai, dan ia siap untuk menghadapinya, meskipun dengan sedikit rasa gugup.
