Purnama memancarkan cahaya keperakan, menerangi permukaan Sungai Barito yang beriak lembut. Di balik keindahan malam, kegelapan menjadi saksi bisu dari rencana Samudra yang telah matang. Puluhan perahu bergerak dalam senyap, menyusuri pinggiran sungai. Di barisan terdepan, Sangkuriang memimpin dengan tatapan tajam, tangannya menggenggam erat pedang. Di tengah-tengah, para prajurit Demak yang disiplin dan terlatih mengayuh perahu mereka dengan serentak, membuat gerakan mereka menjadi satu kesatuan yang mematikan.
Samudra berdiri di atas perahu besar, diapit oleh Gendut dan seorang panglima Demak yang terampil. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena ambisi dan tekad. Ia menatap ke arah Daha, tempat di mana takhtanya direbut. Malam ini, ia akan mengambilnya kembali.
Sementara itu, di tepi sungai yang ramai, pasukan Tumenggung sedang merayakan kemenangan yang mereka yakini sudah mereka raih. Mereka yakin, Samudra dan pasukannya sudah hancur. Mereka minum, tertawa, dan bernyanyi, mengabaikan keamanan mereka.
Samudra memberikan isyarat. Dan tiba-tiba, dari kegelapan hutan, anak panah beracun meluncur, menancap di leher para prajurit Tumenggung yang sedang mabuk. Suara teriakan memenuhi malam, dan pasukan Tumenggung yang terkejut mulai panik.
"Serang!" teriak Sangkuriang, dan pasukannya yang tangguh meluncur ke arah perahu-perahu musuh. Mereka menebas, menusuk, dan membanting prajurit Tumenggung, yang tidak siap menghadapi serangan.
Dari tepi sungai, para gerilyawan Bagus juga menyerbu, menggunakan taktik gerilya mereka yang mematikan. Mereka bergerak cepat, menyelinap di antara pepohonan, menyerang dari belakang, dan menghilang sebelum musuh sempat bereaksi.
Pertempuran sungai pun pecah. Air sungai berubah menjadi merah, penuh dengan mayat-mayat prajurit Tumenggung yang tewas. Namun, pasukan Tumenggung, meskipun terkejut, tidak menyerah begitu saja. Mereka melawan, dan pertarungan sengit pun terjadi.
Samudra, dengan pedang di tangannya, bertarung di garis depan. Ia menghadapi beberapa prajurit Tumenggung, mengayunkan pedangnya dengan lincah, menghindari serangan, dan menebas musuh satu per satu. Ia bertarung dengan semangat membara, tetapi juga dengan kepala dingin, mengingat semua yang telah ia pelajari dari panglima Demak.
Panglima Demak juga menunjukkan keahliannya. Ia memimpin pasukannya dengan strategi yang cemerlang, mengepung pasukan Tumenggung dari segala arah, dan menghancurkan mereka dengan serangan yang terkoordinasi.
Sangkuriang, dengan mata yang liar, bertarung dengan ganas. Ia melompat dari perahu ke perahu, menebas musuh dengan pedang dan pisau, membuat kekacauan di barisan Tumenggung.
Bagus dan pasukannya juga menunjukkan kehebatan mereka. Mereka menyerang dari balik pepohonan, menggunakan panah beracun, dan mundur sebelum musuh sempat mendekat. Mereka adalah hantu di mata musuh, selalu ada, tetapi tidak pernah bisa ditangkap.
Pertempuran berlangsung berjam-jam, tetapi pada akhirnya, pasukan Tumenggung kewalahan. Mereka tidak siap menghadapi serangan mendadak, dan mereka tidak bisa menandingi kekuatan gabungan dari gerilyawan, perompak, dan prajurit Demak. Mereka mundur, meninggalkan medan pertempuran dalam kekalahan.
Setelah pertempuran usai, Samudra berdiri di atas perahu besar, memandang mayat-mayat yang mengambang di sungai. Ia tidak merasa puas. Ia tahu, perang belum berakhir. Daha masih menunggu, dan Tumenggung masih berkuasa.
Bab ini berakhir dengan kemenangan gemilang bagi Samudra dan pasukannya. Mereka telah membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan yang harus diperhitungkan, dan mereka telah membuktikan bahwa keadilan akan selalu menang. Perjalanan mereka masih panjang, tetapi mereka melangkah maju dengan semangat baru, keyakinan yang kuat, dan tekad yang tidak tergoyahkan.
