Pagi itu, Lev merasa sedikit cemas. Waktu salat Zuhur sebentar lagi. Ia sudah mengunduh aplikasi penunjuk kiblat dan jadwal salat, tapi ia masih merasa asing dengan lingkungannya. Universitas tempatnya belajar sangat besar, dan ia khawatir akan terlihat aneh jika tiba-tiba menggelar sajadah di tempat umum.
“Hei, Lev! Mau ke mana?” sapa Jessica yang baru keluar dari kelasnya.
Lev yang sedang tergesa-gesa mencari tempat, sedikit terkejut. "Emm, saya mau shalat. Tapi saya tidak tahu di mana tempat yang bisa dipakai," jawabnya jujur.
Jessica mengerutkan kening, wajahnya terlihat berpikir keras. "Shalat? Bukankah kamu sudah melakukannya di kamarmu tadi pagi?"
"Iya, tapi shalat itu ada lima waktu, Jess," jelas Lev. "Shalat Zuhur ini waktunya sekarang."
"Oh, lima kali sehari? Hebat sekali!" seru Jessica kagum. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita cari tempat yang sepi?"
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor universitas. Lev melihat beberapa sudut yang mungkin bisa dipakai, tapi terlalu ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian, apalagi sampai mengganggu orang lain.
"Bagaimana kalau di taman belakang gedung fakultas? Biasanya sepi di sana," usul Jessica.
Mereka menuju ke taman belakang. Memang benar, taman itu sepi. Hanya ada beberapa bangku dan pohon-pohon yang rindang. Lev merasa lega. Ia mengeluarkan sajadah lipat dari tasnya, yang diberikan oleh ibunya sebagai bekal.
Saat Lev mulai menggelar sajadahnya, Jessica duduk di bangku terdekat, mengamati Lev dengan penuh rasa ingin tahu. Lev menghadap ke arah kiblat yang sudah ia tentukan dengan aplikasi di ponselnya, lalu mengangkat tangannya untuk takbir.
Momen lucu terjadi saat Lev mulai rukuk. Jessica, yang tidak pernah melihat ritual ini, mengira Lev sedang sakit perut. "Lev, kamu baik-baik saja? Kamu sakit perut?" bisiknya cemas.
Lev menahan senyum. Ia tidak bisa menjawab, karena dalam shalat ia harus khusyuk. Ia hanya melanjutkan gerakannya, yang semakin membuat Jessica bingung. Saat Lev sujud, Jessica mengira Lev sedang mencari sesuatu yang jatuh. Ia bahkan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat.
"Lev, apa yang kamu cari? Biar aku bantu," katanya dengan nada berbisik yang masih terdengar khawatir.
Lev tetap diam, melanjutkan shalatnya. Setelah salam, Lev membalikkan badannya menghadap Jessica. "Maaf Jess, tadi tidak bisa menjawabmu," katanya sambil tersenyum.
Jessica terlihat lega. "Syukurlah, aku kira kamu kenapa-napa. Aku baru tahu kalau shalat itu gerakannya begitu banyak."
Lev tertawa kecil. "Itu bukan karena sakit perut, Jess. Itu bagian dari gerakan shalat. Ada gerakan rukuk, sujud, dan lainnya. Setiap gerakan itu ada maknanya."
Jessica duduk kembali, mendengarkan penjelasan Lev dengan antusias. Lev menjelaskan arti setiap gerakan dan bacaan dalam salat. Ia juga menjelaskan mengapa shalat harus lima waktu, dan mengapa shalat adalah tiang agama.
"Ini membuatku merasa sangat dekat dengan Tuhan," kata Lev. "Salat adalah cara kita berkomunikasi dengan-Nya."
"Jadi, kamu harus melakukan itu lima kali sehari?" tanya Jessica lagi. "Tidakkah kamu merasa lelah? Atau repot?"
"Tidak sama sekali," jawab Lev. "Justru dengan salat, aku merasa tenang. Semua beban di pundakku terasa lebih ringan setelah shalat. Dan ini adalah kewajiban yang harus aku jalankan. Ini adalah cara aku menunjukkan rasa terima kasihku kepada Allah."
Jessica terdiam, mencerna semua penjelasan Lev. Wajahnya menunjukkan kekaguman. "Kamu orang yang sangat religius, Lev," katanya dengan suara lembut. "Aku kagum dengan keteguhanmu."
Lev tersenyum. "Terima kasih, Jess. Tapi aku hanya menjalankan apa yang sudah diajarkan padaku sejak kecil."
Setelah itu, mereka berdua kembali ke kelas. Pengalaman mencari tempat shalat di tengah hiruk pikuk kota dan kesalahpahaman lucu Jessica membuat Lev semakin menyadari betapa pentingnya ia tetap berpegang teguh pada imannya. Ia juga menyadari bahwa dengan cara yang tepat, ia bisa berbagi keindahan Islam kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk sahabat barunya yang tulus, Jessica. Pertemanan mereka semakin kuat, tidak hanya karena tawa dan keceriaan, tapi juga karena saling menghargai dan memahami.
