Siang itu, Andriy kembali ke toko bukunya. Bangunan itu terletak di sebuah jalan kecil yang tenang, tersembunyi dari hiruk-pikuk pusat kota Chelyabinsk. Dinding batu bata merahnya yang kusam dan papan nama kayu yang sudah usang menambah kesan antik yang memikat. Di dalam, tumpukan buku tua menjulang hingga langit-langit, mengisi ruangan dengan aroma kertas lapuk dan debu. Toko ini adalah satu dari sedikit hal yang konstan dalam hidup Andriy.
Sejak ratusan tahun lalu, Andriy telah menjadi pemilik toko ini. Ia menyaksikannya berubah dari sebuah kedai minum, menjadi toko pandai besi, hingga akhirnya menjadi toko buku. Ia tidak pernah menghapus jejak masa lalu, karena setiap jejak adalah pengingat. Buku-buku di sini adalah saksi bisu dari zaman yang berbeda. Sebuah buku yang dicetak pada masa Perang Dunia II, sebuah novel yang dicetak dengan huruf kuno, atau sebuah buku anak-anak yang kini sudah lusuh.
Andriy duduk di kursi kayu di balik meja kasir, mengusap debu dari buku tua yang baru ia terima. Ia memikirkan Kolya, senyumnya yang keriput, dan kata-katanya yang seperti bisikan perpisahan. Pikiran itu membawanya kembali ke masa lalu, ke masa-masa ketika ia masih remaja, ketika rasnya masih hidup dan berkembang.
"Andriy!"
Suara Ksenia yang ceria mengejutkan Andriy dari lamunannya. Ksenia memasuki toko, dengan pipi memerah karena dingin. "Lagi melamun? Kau bisa melamun kapan saja, Andriy. Tapi aku butuh saran darimu," kata Ksenia, melambaikan kamera vlognya.
Andriy menghela napas, tersenyum kecil. Ksenia selalu tahu kapan harus menginterupsi kesedihannya. "Saran apa, Ksenia?"
"Aku butuh saran tentang video vlog kulinerku selanjutnya. Aku punya ide untuk membuat kue tradisional Rusia dengan resep kuno. Tapi aku butuh referensi resep yang benar-benar tua. Kau punya ide?"
Andriy menunjuk ke arah rak buku yang paling usang di pojok ruangan. "Kau bisa cari di sana. Ada beberapa buku resep kuno yang kudapatkan dari seorang pedagang dari pedalaman. Mungkin ada yang bisa kau gunakan."
Ksenia langsung bergegas ke rak buku itu, matanya berbinar. Andriy hanya tersenyum melihat tingkah laku Ksenia yang bersemangat.
Sambil Ksenia sibuk mencari, Andriy kembali merenung. Kata-kata Kolya kemarin mengingatkannya pada perpisahan lain yang telah ia alami. Perpisahan yang paling menyakitkan adalah dengan keluarganya. Di masa lalu, rasnya menjadi korban dari perburuan besar-besaran oleh manusia. Rasnya tidak memiliki kekuatan magis yang besar, hanya hidup yang panjang dan sedikit kemampuan untuk berinteraksi dengan alam. Mereka adalah ras yang damai, tetapi juga rentan.
Andriy adalah salah satu dari sedikit yang selamat. Ia berhasil melarikan diri ke hutan, bersembunyi selama berabad-abad, hingga akhirnya memutuskan untuk hidup di antara manusia. Ia mengamati peradaban manusia yang terus berubah. Ia melihat perang, revolusi, dan kemajuan teknologi. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah sifat manusia itu sendiri: kegembiraan, kesedihan, dan kerentanan mereka.
Itu adalah ironi pahit baginya. Manusia, dengan hidupnya yang singkat, bisa merasakan emosi dengan intensitas yang tak pernah bisa ia rasakan lagi. Bagi Andriy, emosi telah menjadi sesuatu yang kabur, seperti lukisan yang terlalu sering digores, warnanya menjadi pudar.
Ksenia tiba-tiba berseru, "Dapat! Ini dia, Andriy!" Ksenia memegang sebuah buku resep yang tampak sangat tua, dengan sampul yang sudah robek. "Ini sempurna! Resep pirozhki kuno dengan isian buah-buahan yang sudah tidak ada lagi di pasaran!"
Andriy melihat buku itu, senyumnya sedikit getir. Buku itu mengingatkannya pada ibunya, yang dulu sering membuat pirozhki dengan resep yang sama. Ia memakan pirozhki buatan ibunya, dan kemudian menyaksikan ibunya, dan semua yang ia cintai, lenyap.
"Andriy? Kau baik-baik saja?" tanya Ksenia, melihat ekspresi Andriy yang berubah.
Andriy tersenyum, senyum yang terasa sedikit palsu. "Tentu saja. Aku hanya... teringat sesuatu. Buku ini mengingatkanku pada seseorang."
Ksenia mengangguk mengerti. "Kenangan bisa menjadi hal yang menyakitkan, tapi juga indah. Kenanganmu akan orang itu pasti indah, kan?"
Andriy hanya menatap Ksenia, tidak menjawab. Indah? Ya, kenangan itu indah. Tapi sakitnya perpisahan membuat keindahan itu terasa seperti luka.
"Andriy," kata Ksenia, mendekati Andriy dan meletakkan tangannya di lengan Andriy. "Aku tahu kau sudah hidup lebih lama dari kakekku, bahkan mungkin lebih lama dari kota ini. Aku tahu kau pasti sudah mengalami banyak hal. Tapi kau tidak harus terus menanggung semua itu sendirian. Kau punya aku, dan kakekku. Kami mungkin tidak abadi seperti kau, tapi kami ada di sini. Untukmu."
Kata-kata Ksenia menghantam Andriy. Selama berabad-abad, ia menolak untuk terlalu dekat dengan manusia. Ia takut dengan perpisahan. Tapi Ksenia dan Kolya telah berhasil menembus benteng yang ia bangun.
Andriy menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Ksenia," bisiknya, suaranya parau.
Ksenia tersenyum, senyum yang tulus dan penuh kasih. "Sama-sama. Sekarang, berhentilah melamun. Kau harus membantuku dengan resep ini. Ada bahan-bahan yang tidak bisa kudapatkan, jadi kau harus membantuku mencari substitusinya."
Andriy mengangkat kepalanya, kembali melihat semangat yang menyala di mata Ksenia. Ia menghela napas, dan sebuah senyum yang lebih tulus muncul di wajahnya. "Baiklah. Tapi kau yang harus membersihkan kekacauan di dapur," katanya.
"Deal!" jawab Ksenia, riang.
Mereka berdua berjalan menuju bagian belakang toko, di mana ada dapur kecil. Andriy memandangi jejak kaki Ksenia di salju yang menempel di lantai. Jejak itu akan menghilang. Seperti jejak kaki manusia lainnya dalam kehidupannya. Tapi, kali ini, ia tidak akan membiarkan jejak itu hilang tanpa meninggalkan kenangan yang indah.
Mungkin, keabadian bukanlah sebuah kutukan. Mungkin, keabadian adalah sebuah anugerah, yang memberinya kesempatan untuk mengumpulkan kenangan yang indah, meski pada akhirnya ia harus melepaskan. Babak baru dalam kehidupan Andriy, yang penuh dengan tawa, teh chamomile, dan pirozhki kuno, baru saja dimulai.
