Toko barang antik Eva, "Memori Abadi", bukanlah sekadar tempat untuk menjual barang-barang lama. Bagi Eva, toko ini adalah sebuah perpustakaan dari kehidupannya yang tak berujung. Setiap barang yang ada di sana adalah sebuah bab dari kisah yang panjang, sebuah halaman yang kadang ia buka kembali, kadang ia biarkan tertutup rapat. Toko ini terletak di sebuah bangunan kayu tua di jalan utama Talkeetna, dengan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pegunungan yang tertutup salju. Di dalamnya, aroma kayu tua, kertas yang lapuk, dan debu yang berbau sejarah, berpadu menjadi satu.
Di rak-rak yang berjejer, terpajang berbagai macam benda dari berbagai era. Sebuah gramofon kuno dengan corong besar, dari masa-masa awal rekaman suara. Sebuah peti kayu berukir dari abad ke-18, yang dulu menyimpan surat-surat cinta yang kini telah berubah menjadi debu. Sebuah gaun pengantin sutra dari tahun 1920-an, yang pernah dikenakan oleh seorang gadis yang penuh harapan. Eva mengenal semua pemiliknya. Ia tahu kisah di balik setiap barang. Setiap keretakan pada boneka porselen, setiap goresan pada bingkai foto, adalah bagian dari cerita yang hanya ia yang tahu secara utuh.
Lief, kucing oranye kesayangan Eva, adalah salah satu penghuni paling setia di toko itu. Lief sering kali meringkuk di atas tumpukan buku kuno, mengawasi setiap pembeli yang datang dan pergi dengan mata malas. Kehadiran Lief, dengan kebiasaan tidurnya yang abadi dan dengkurannya yang menenangkan, adalah satu dari sedikit konstanta dalam hidup Eva, selain keabadiannya sendiri.
Suatu sore, saat Alex tidak sibuk menggantung lukisannya di kedai kopi, ia datang mengunjungi "Memori Abadi". Alex memandang berkeliling dengan mata terperangah. "Astaga, Eva," katanya, "tempat ini seperti museum. Setiap barang di sini punya aura sendiri."
Alex menunjuk sebuah kompas kuno yang terbuat dari kuningan. "Kompas ini... terlihat sangat tua. Dari mana asalnya?"
Eva tersenyum, senyum yang menyimpan ribuan cerita. "Itu milik seorang kapten kapal dagang dari Boston. Aku berteman baik dengannya di awal abad ke-19. Dia mengajariku tentang bintang-bintang dan lautan. Dia selalu membawanya di setiap pelayaran."
Alex mengambil kompas itu dengan hati-hati. "Apa yang terjadi padanya?"
Hati Eva terasa nyeri, sebuah rasa sakit yang tumpul yang selalu ada. "Dia menua. Lalu dia meninggal."
Alex terdiam, menangkap kesedihan yang tak terucap dari nada suara Eva. Ia kembali menaruh kompas itu dengan hati-hati, seolah-olah ia tidak ingin merusaknya atau merusak kenangan yang melekat padanya.
"Maaf," kata Alex, "aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa," potong Eva cepat. "Itu adalah bagian dari hidup. Barang-barang ini... adalah satu-satunya yang tersisa dari banyak kehidupan yang telah kulalui."
Percakapan itu menjadi pengingat bagi Eva bahwa Alex, dengan rasa ingin tahunya yang tulus, bisa saja tanpa sengaja menyentuh kenangan-kenangan yang paling menyakitkan. Toko ini, yang ia jadikan tempat berlindung, juga bisa menjadi sumber luka yang tak terduga.
Alex, mencoba mengalihkan suasana, menunjuk ke sebuah mesin ketik kuno di sudut. "Bagaimana dengan yang itu? Apakah kau juga kenal pemiliknya?"
"Tentu," jawab Eva, kembali memasang topengnya. "Itu milik seorang jurnalis wanita yang sangat ambisius di Chicago. Dia menolak menikah, hanya ingin menulis. Dia percaya pada kekuatan kata-kata. Ia dulu sering mengeluh tentang jari-jarinya yang lelah mengetik, tapi matanya selalu berbinar."
"Itu keren," kata Alex, matanya kembali bersemangat. "Aku suka ide itu. Mengabadikan cerita lewat tulisan."
Eva mengangguk. "Itu sebabnya aku mengoleksi semua ini. Untuk tidak melupakan."
Saat Alex pergi, meninggalkan Eva sendirian dengan barang-barangnya, Eva mengambil sebuah kotak kecil berukir dari rak. Itu adalah kotak musik yang ia sentuh kemarin. Ia memutarnya kembali, dan melodi yang indah memenuhi ruangan. Di dalam kotak itu, ada sebuah surat yang sudah menguning, dengan tulisan tangan yang anggun. Itu adalah surat cinta dari abad ke-18. Surat itu ditujukan untuk dirinya.
Eva membuka surat itu, membacanya lagi, seolah-olah ia bisa mendengar suara sang pengirim di dalam kepalanya. Surat itu penuh dengan janji-janji, dengan harapan akan masa depan. Ironisnya, Eva masih di sini, dan sang pengirim sudah lama terkubur di bawah tanah.
Air matanya menetes di atas kertas yang rapuh. Perpisahan adalah harga yang ia bayar. Namun, ia juga tahu, kenangan-kenangan ini adalah hal yang membuatnya tetap waras. Setiap kali ia merasa sendiri, setiap kali ia merasa seperti anomali yang abadi, ia bisa kembali ke toko ini, dikelilingi oleh memori-memori yang ia koleksi, dan merasa terhubung dengan kehidupan-kehidupan yang pernah ia sentuh.
Di luar jendela, salju mulai turun lagi. Musim dingin yang tak berubah, seperti dirinya. Ia memeluk kotak musik itu, Lief melompat ke mejanya dan mengusap-usapkan kepalanya ke tangannya. Kehangatan Lief, yang begitu nyata, membantunya kembali ke masa kini. Di tengah-tengah semua kenangan ini, ada kehidupan yang masih harus ia jalani. Ada Alex, yang menunggu dengan antusiasmenya. Dan ada Talkeetna, dengan komunitas kecilnya yang hangat.
Meskipun ia adalah seorang penjaga kenangan, ia tidak bisa terus-menerus hidup di masa lalu. Ia harus menemukan cara untuk merangkul masa kini, seberapa pun sakitnya ia tahu akhir dari setiap kisah yang baru. Ia harus menghadapi musim dingin yang akan datang, seperti yang telah ia lakukan selama ratusan tahun.
