Musim kemarau datang, dan Hutan Rimba yang biasanya hijau kini mulai mengering. Rumput-rumput menguning, dan pohon-pohon mulai meranggas. Kiko, Momo, dan Pipi merasa sedih. Mereka rindu bermain di bawah pohon yang rindang, tetapi kini mereka hanya bisa bermain di tepi danau yang masih memiliki air.
Suatu hari, Lala Lumba-Lumba mengajak mereka ke tepi danau. "Lihat," katanya, menunjuk ke arah sebatang pohon yang sudah kering. "Dulu, pohon ini sangat besar. Ia memberikan buah yang enak dan daun yang rindang. Sekarang, ia sudah tidak lagi berbuah."
Kiko, Momo, dan Pipi melihat pohon itu dengan sedih. Kiko, yang kini lebih peka, bertanya, "Apakah kita bisa membantu pohon itu?"
Lala tersenyum. "Pohon itu sudah tidak bisa dibantu, Kiko. Tapi, kita bisa membantu pohon-pohon lain. Mari kita menanam biji."
Momo, Kiko, dan Pipi merasa bingung. "Menanam biji? Di mana?" tanya Momo.
Lala mengambil sebutir biji mungil dari sakunya. "Biji ini adalah biji pohon yang kuat. Jika kita tanam, ia akan tumbuh menjadi pohon yang besar dan rindang."
Mereka semua bersemangat. Mereka mulai mencari biji-biji yang jatuh dari pohon-pohon lain. Mereka menemukan biji apel, biji mangga, dan biji jeruk. Mereka menanam biji-biji itu di tanah yang masih basah. Mereka menyiraminya setiap hari, dan menunggu dengan sabar.
Suatu hari, biji yang mereka tanam mulai tumbuh. Tunas-tunas kecil mulai muncul dari tanah. Mereka sangat gembira. Mereka menyadari, biji yang kecil bisa tumbuh menjadi pohon yang besar. Dan mereka, anak-anak kecil, juga bisa melakukan hal-hal besar.
Momo, yang biasanya lincah dan tidak sabaran, belajar untuk sabar. Ia menyirami tanamannya setiap hari, dengan penuh kasih sayang. Kiko, yang biasanya cerdik dan licik, belajar untuk ikhlas. Ia menanam biji tanpa mengharapkan apa pun, hanya berharap pohonnya tumbuh. Pipi, yang biasanya pemalu dan pendiam, belajar untuk berani. Ia berani mengajak teman-temannya untuk menanam biji, dan ia berani bermimpi untuk melihat hutan menjadi hijau kembali.
Lala tersenyum melihat teman-temannya. Ia tahu, biji yang mereka tanam tidak hanya akan tumbuh menjadi pohon, tetapi juga akan tumbuh menjadi karakter yang baik. Mereka akan menjadi pohon yang kuat, yang akarnya menancap dalam di tanah, dan dahannya menjulang tinggi ke langit. Mereka akan menjadi pohon yang memberikan buah yang enak dan daun yang rindang, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Beruang Bijak datang dan tersenyum. "Ingat, anak-anak," katanya. "Setiap biji yang kalian tanam, adalah harapan. Harapan untuk masa depan yang lebih baik. Harapan untuk dunia yang lebih indah."
Dan mereka semua tersenyum. Mereka tahu, mereka tidak hanya menanam biji, tetapi juga menanam harapan. Harapan untuk diri mereka sendiri, dan harapan untuk semua makhluk di Hutan Rimba.
