Karina berdiri di depan lemari pakaiannya. Matanya menatap deretan pakaian yang selama ini menjadi andalannya. Celana jeans ketat, blus-blus minim, dan gaun-gaun tanpa lengan yang selalu membuatnya terlihat modis. Pakaian-pakaian itu adalah identitasnya sebagai mahasiswi modern, bagian tak terpisahkan dari dirinya yang dulu. Namun, kini, semua pakaian itu terasa asing.
Setelah percakapannya dengan Adam tentang ketenangan hati dan kebahagiaan yang sejati, ada sesuatu yang berubah dalam diri Karina. Ia tidak lagi merasa nyaman mengenakan pakaian yang terlalu terbuka. Rasanya seperti ada sebuah penghalang yang terbentuk di antara dirinya dan Sang Pencipta, dan pakaian-pakaian ini adalah salah satu dari penghalang itu.
Dengan perlahan, ia mulai menyingkirkan pakaian-pakaian yang tidak lagi sesuai dengan panggilan hatinya. Ia memilahnya dengan hati-hati, memisahkan yang bisa disumbangkan dan yang harus dibuang. Saat tangannya menyentuh sebuah gaun pesta berwarna merah yang sering ia kenakan, kenangan-kenangan masa lalu melintas di pikirannya. Ia teringat akan pujian-pujian yang ia dapatkan, tawa riang bersama teman-temannya. Namun, ia juga teringat akan kekosongan yang selalu ia rasakan setelah pesta usai.
Ia menghela napas, memasukkan gaun itu ke dalam kantong sumbangan. Kali ini, ia memilih kebahagiaan yang sejati, bukan pujian yang fana.
Beberapa hari kemudian, Karina pergi ke pusat perbelanjaan. Bukan untuk membeli pakaian baru yang modis, melainkan untuk mencari pakaian yang lebih tertutup dan sopan. Ia memilih kemeja-kemeja longgar, celana kain, dan rok-rok panjang. Ia mencoba beberapa hijab, meskipun ia masih merasa terlalu dini untuk memakainya. Ia ingin melangkah perlahan, memberikan ruang bagi dirinya untuk beradaptasi.
Perubahan itu tidak luput dari perhatian teman-temannya. Di kampus, salah seorang temannya, Jessica, menghampirinya dengan heran.
"Karina, kamu sakit? Kok tumben pakai baju begini?" tanya Jessica, menunjuk pakaian Karina yang lebih tertutup.
Karina tersenyum. "Tidak, aku baik-baik saja."
"Tapi... kamu terlihat beda," kata Jessica, wajahnya penuh kebingungan. "Biasanya kamu yang paling modis di antara kita. Kamu ada masalah?"
Karina tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa menceritakan tentang percakapannya dengan Adam, tentang suara azan, atau tentang kekosongan yang ia rasakan. Teman-temannya tidak akan mengerti. Mereka hanya melihat dunia dari permukaan, tidak pernah mencoba menyelam ke dalamnya.
"Tidak ada masalah, kok," jawab Karina. "Aku hanya... ingin mencoba gaya baru."
Jessica mengernyitkan dahi, tidak puas dengan jawaban Karina, namun ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu pergi.
Setelah Jessica pergi, Karina merasa ada konflik batin. Ia merasa bersalah karena tidak jujur, tetapi ia juga merasa takut akan reaksi teman-temannya jika ia jujur. Ia menyadari, bahwa perjalanannya ini tidak hanya akan mengubah dirinya, tetapi juga hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Ia telah memilih jalan yang berbeda, dan konsekuensinya, ia harus bersiap untuk berjalan sendiri. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak benar-benar sendiri. Ada Sang Pencipta yang selalu bersamanya, membimbingnya di setiap langkah. Dan itu, sudah lebih dari cukup.
