Setelah berhari-hari menyelami lautan ilmu di perpustakaan, membaca setiap lembar buku dengan penuh hasrat, Karina merasa hatinya semakin mantap. Konsep tauhid yang dijelaskan Adam terus bergaung di benaknya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat alam semesta, melainkan sebagai hamba yang harus tunduk pada Sang Pencipta. Kekosongan yang dulu ia rasakan kini perlahan terisi, bukan oleh materi atau pencapaian, melainkan oleh kedamaian yang mendalam.
Pada suatu malam yang dingin, Karina duduk di balkon apartemennya, menyeruput teh hangat. Di depannya terhampar pemandangan kota Manchester yang gemerlap, namun kini, gemerlap itu terasa hambar. Ia memikirkan semua yang telah ia lalui sejak tiba di sini. Dari mahasiswi ambisius yang hanya memikirkan karier, hingga kini menjadi pencari makna yang menemukan ketenangan dalam hal-hal sederhana.
Ia teringat akan pertanyaan-pertanyaan teman-temannya tentang perubahan dirinya. Tentang kebohongan-kebohongan kecil yang ia ucapkan. Rasa bersalah itu masih ada, namun ia tahu, ia harus melangkah maju. Ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan keraguan.
Karina mengambil ponselnya, membuka pesan dari Adam. Pesan terakhir yang ia kirimkan adalah tentang kebimbangan hatinya. Adam membalas dengan sebuah ayat Al-Qur'an, "Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." [Al-Qaf:16]
Ayat itu terasa seperti air dingin yang membasahi dahaganya. Karina merasa Allah selalu bersamanya, bahkan di saat ia merasa sendirian. Keyakinan itu memberinya kekuatan. Ia menyadari, keputusannya ini tidak bisa ditunda lagi. Ia harus membulatkan tekadnya.
Karina mengirim pesan kepada Adam. "Adam, aku rasa aku siap. Aku siap untuk bersyahadat."
Pesan itu terkirim, dan Karina menunggu balasan dengan jantung berdebar. Beberapa menit kemudian, balasan datang. "Alhamdulillah, Karina. Semoga Allah memudahkan langkahmu."
Karina tersenyum. Senyum yang tulus, yang datang dari hati yang paling dalam. Ia merasa, akhirnya, ia telah menemukan jalan pulang. Jalan pulang menuju ketenangan yang sejati, menuju Sang Pencipta.
Ia kembali menatap gemerlap kota Manchester. Kini, ia tidak lagi merasa hampa. Ia merasa penuh, penuh dengan harapan dan keyakinan. Ia tahu, perjalanannya tidak akan mudah. Mungkin akan ada penolakan, mungkin akan ada rintangan. Tapi ia yakin, dengan keyakinan yang ia miliki, ia bisa melewatinya.
Di malam itu, Karina membuat sebuah keputusan besar. Sebuah tekad yang akan mengubah hidupnya selamanya. Ia akan mengubah identitasnya, bukan hanya di atas kertas, tetapi juga di dalam hatinya. Ia akan menjadi Anindya Putri, seorang hamba yang menemukan hidayahnya di tengah gemerlap kota Manchester.
