Minggu kedua persiapan adalah puncaknya kekacauan logistik di rumah keluarga Ryley. Jika Bab 2 adalah tentang perencanaan strategis, Bab 3 adalah tentang eksekusi yang kacau balau, didominasi oleh Anindya Putri, sang influencer belanja online lokal dengan ribuan pengikut.
Lev, si pekerja IT yang rapi, mulai merasa stres tingkat dewa. Ruang tamu mereka kini mirip gudang ekspedisi.
"Bu, ini kardus apalagi?" tanya Lev pasrah, menunjuk tumpukan kardus bertuliskan fragile dan logo berbagai marketplace.
Anindya, dengan headset Bluetooth di telinga kanannya (sedang call dengan supplier jaket) dan ponsel di tangan kirinya (live Instagram), melambaikan tangannya tanpa menoleh. "Itu thermal wear, Yah! Penting! Biar nggak beku di Swiss. Nanti kan Ayah mau main salju sama Rayyan."
"Main salju pakai baju beginian? Kayak astronot!" gerutu Lev. "Lagipula, kan kita sudah beli jaket tebal yang diskon itu."
"Beda, Yah. Kualitas premium dari Korea. Followers Ibu banyak yang nanya link-nya nih," Anindya tersenyum ke kamera ponselnya.
Sejak ide liburan tercetus, Anindya memang jadi makin aktif. Grup WhatsApp "Misi Eropa Ryley" yang dibuat Aisyah isinya 80% adalah link belanja dari Anindya. Aisyah sebagai admin sampai kewalahan membisukan notifikasi.
"Yah, Aisyah mute grupnya dulu ya. Handphone Aisyah hang gara-gara link snow boots," lapor Aisyah sambil tertawa.
Di tengah kekacauan belanja online, masalah koper muncul. Mereka punya enam orang, tapi hanya empat koper ukuran sedang yang layak pakai.
"Kita butuh koper baru, Yah!" seru Anindya, yang entah sejak kapan sudah selesai dengan live Instagram-nya dan kini berdiri di depan koper-koper lama. "Yang ini rodanya sudah agak seret, yang ini bahannya gampang robek."
Lev mengusap wajahnya lelah. "Pakai yang ada dulu, Bu. Nanti di sana kalau perlu baru beli."
"Nggak bisa dong, Yah! Koper itu bagian dari fashion perjalanan. Harus seragam, biar keren difoto di bandara."
Anindya sudah mulai scroll aplikasi belanja lagi.
Drama koper memuncak saat Anindya menemukan koper set 6 in 1 berwarna mint green yang estetik. Lev berusaha keras menolak, tapi akhirnya luluh saat Anindya berjanji akan menghemat di pos belanja oleh-oleh. Janji yang entah bisa ditepati atau tidak.
Maryam, si pendiam, mengamati drama orang tuanya sambil dengan sabar membantu Aisyah membuat checklist barang bawaan di atas kertas karton besar.
"Kak Aisyah, Maryam sudah catat: Pakaian hangat, kaus kaki tebal, sarung tangan, syal, obat-obatan pribadi, charger, Al-Qur'an kecil, dan sketchbook baru," lapor Maryam dengan teliti.
"Bagus, Maryam. Kamu paling rapi," puji Aisyah. "Ghina sama Rayyan sudah packing mainan mereka?"
Ghina dan Rayyan sedang sibuk memilih boneka bekantan dan mobil-mobilan mana yang layak ikut terbang ke Eropa. Prioritas mereka jelas berbeda dari yang lain.
"Ini wajib ikut, Kak!" seru Rayyan, menunjukkan boneka bekantan kesayangannya. "Biar Kakek Wali di sana tahu bekantan itu apa!"
"Rayyan, bekantan itu binatang khas Kalimantan, nggak ada hubungannya sama Wali Songo atau Wali di Eropa," jelas Aisyah sambil tertawa geli.
Di kantornya, Lev juga disibukkan dengan urusan cuti dan pendelegasian tugas IT. Rekan kerjanya, Pak Usman, sampai geleng-geleng kepala.
"Mau liburan apa mau pindahan, Lev? Persiapanmu kayak mau naik haji bertahun-tahun," canda Pak Usman.
"Namanya juga bawa keluarga besar, Pak. Logistiknya memang ribet. Doakan selamat sampai tujuan ya, Pak," jawab Lev sambil tersenyum.
Di sela-sela kepusingan itu, ada momen refleksi. Malam sebelum keberangkatan, keluarga Ryley berkumpul di ruang salat mereka. Lev memimpin salat Isya, dan dilanjutkan dengan doa bersama.
"Ya Allah, lancarkanlah perjalanan kami. Mudahkanlah segala urusan kami. Jauhkan kami dari segala marabahaya dan kesulitan," doa Lev dengan khusyuk.
Anindya, di sampingnya, mengamini dengan mata berkaca-kaca. Di balik semua kehebohan belanja online dan komedi drama koper, ada rasa syukur yang mendalam di hatinya. Bisa mengajak keenam anggota keluarga kecilnya ini berpetualang adalah mimpi yang menjadi nyata.
Mereka membuktikan bahwa persiapan perjalanan internasional dengan empat anak bisa jadi sangat chaos, penuh tawa, dan tantangan logistik yang nyata. Tapi di setiap kardus paket dan tumpukan koper, terselip benang-benang cinta dan kebersamaan yang menguatkan.
Rumah kontrakan di Sungai Jingah itu kini sunyi, semua sudah terlelap, siap menyambut petualangan terbesar mereka. Koper-koper mint green berjejer rapi di ruang tamu, saksi bisu persiapan yang penuh perjuangan. Manchester dan Swiss, siap-siap, keluarga Ryley datang!
