Mentari di Tabalong pagi itu bersinar dengan malu-malu, menembus celah dedaunan pohon karet yang berbaris rapi di sepanjang jalan menuju kompleks perumahan dinas di Tanjung Murung Pudak. Aroma khas embun pagi bercampur bau asap kayu bakar dari dapur tetangga, menciptakan suasana pedesaan yang damai, kontras dengan hiruk pikuk kota metropolitan.
Di rumah tipe 45 yang sederhana namun tertata rapi, alarm salat Subuh dari ponsel Muhammad Hifni berbunyi nyaring.
"Masss... Subuh," Rina Rufida menggeliat pelan, suaranya serak khas bangun tidur, sembari menepuk lengan suaminya yang masih terbungkus selimut.
Hifni, PNS di Bagian Umum Kantor Bupati Tabalong, menggumam tak jelas. "Lima menit lagi, Bu Guru. Semalam rapat sampai larut."
Rina tak kehilangan akal. Ia bangkit, melangkah ke kamar mandi sebentar, lalu kembali dengan tangan basah. Cipratan air dingin mendarat tepat di wajah Hifni.
"Astaghfirullah, Rina! Dinginnya!" Hifni langsung terduduk, matanya terbelalak.
Rina terkikik geli. "Makanya bangun. Nanti telat salat jamaah di masjid. Kan Pak RT kita galak kalau ada PNS yang jarang kelihatan Subuh," candanya, merujuk pada Pak RT mereka yang memang disiplin soal ibadah.
Hifni menghela napas, pasrah. Ia segera beranjak mengambil air wudhu. Lima belas menit kemudian, pasangan suami istri itu sudah rapi dengan pakaian salat masing-masing, siap menjalankan kewajiban pertama di hari itu. Hifni menjadi imam, suaranya yang pas-pasan mengalun pelan membaca surah-surah pendek.
Usai salat, mereka duduk sebentar di ruang tamu, berzikir dan berdoa bersama. Momen ini adalah charger spiritual mereka sebelum menghadapi realitas birokrasi dan pendidikan.
"Ya Allah, mudahkan urusan kami hari ini, jauhkan dari fitnah kantor, dan jadikan Khalisa anak yang salihah," doa Hifni diamini Rina dengan khusyuk.
Ketika doa selesai, suasana berubah tegang—tegang karena kejar-kejaran waktu.
"Hifni, kamu mandikan Khalisa ya? Aku mau siapkan sarapan dan setrika seragam khaki-mu yang belum kering sepenuhnya," pinta Rina sambil melesat ke dapur.
"Siap, Bu Komandan!" Hifni beranjak ke kamar anak mereka.
Khalisa Salsabilla, si kecil berusia 5 tahun, masih tidur pulas memeluk boneka beruang. Hifni mencium pipi anaknya gemas.
"Anak Ayah, bangun yuk. Nanti Ayah telat apel pagi," bisiknya.
Suatu
Khalisa menggeliat, membuka mata bulatnya, dan langsung tersenyum. "Ayah! Mau gendong," rengeknya manja. Drama pagi pun dimulai.
Di dapur, Rina Rufida, guru PNS Bahasa Inggris di salah satu SMP unggulan di Tabalong, bergerak cekatan. Nasi goreng sederhana dengan toping telur ceplok adalah menu andalan pagi hari yang anti ribet. Sambil menunggu nasi goreng matang, ia melirik jam dinding. Pukul 06.30 WITA. Waktu tempuh ke kantor Hifni sekitar 15 menit, dan ke sekolah Rina sekitar 20 menit. Masih aman, insya Allah.
"Sarapan siap!" teriak Rina dari meja makan.
Hifni muncul dengan Khalisa yang sudah rapi mengenakan seragam TK Islamnya, rambut dikepang dua oleh Hifni dengan hasil yang sedikit miring.
"Masya Allah, Mas, kepangannya kok kayak gini?" Rina menahan tawa melihat hasil karya suaminya.
Hifni nyengir. "Yang penting niatnya, Bu. Setidaknya Khalisa nggak kelihatan habis disambar petir."
Mereka duduk, makan dengan lahap diiringi celoteh Khalisa tentang mimpinya bertemu peri. Pagi di Murung Pudak itu, di rumah kecil mereka, kebahagiaan terasa lengkap. Kehidupan PNS yang mungkin terlihat biasa di mata orang lain, bagi mereka adalah anugerah terindah.
Setelah sarapan, ritual berangkat kerja dimulai. Hifni mengenakan seragam khaki kebanggaannya, Rina dengan setelan batik korpri, dan Khalisa dengan seragam TK birunya.
"Assalamualaikum, kita berangkat dulu ya, Bu Haji!" Hifni berpamitan pada tetangga sebelah, seorang ibu paruh baya yang sedang menyiram bunga.
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan Pak Hifni, Bu Rina! Jangan ngebut, rezeki nggak kemana," balas Bu Haji sambil tersenyum.
Mobil dinas sederhana Hifni melaju perlahan meninggalkan kompleks perumahan. Pagi di Bumi Sarabakawa (julukan lain untuk Tabalong yang berarti 'Naga Bermata Satu') baru saja dimulai, menjanjikan cerita baru, tantangan birokrasi, dan komedi kehidupan sehari-hari yang siap mereka hadapi dengan senyum dan iman.
