Kisah inspiratif perjalanan haji jalur laut tahun 1795 dari Martapura, Kalimantan Selatan. Ikuti petualangan kocak dan religius keluarga Muhammad Hifni, Rina Rufida, dan si kecil Khalisa dalam menunaikan Rukun Islam kelima.
Judul Novel Islami: Bahtera Rindu ke Tanah Haram - Perjalanan Haji Martapura 1795
Bab 1: Rahasia di Balik Debu Loteng dan Gaji yang Berdebu
Martapura, Kalimantan Selatan – Januari 2026
Pagi itu di Martapura tidak seperti biasanya. Udara dingin sisa hujan semalam masih menggelayut di atas Sungai Martapura yang mengalir tenang. Di sebuah rumah panggung tua yang masih kokoh berdiri dengan kayu ulin hitamnya, Zain, seorang pemuda berusia 25 tahun, sedang bergelut dengan tumpukan barang antik di loteng rumah neneknya.
"Zain! Jangan lupa kardus-kardus di pojok kanan itu dibawa turun!" teriak ibunya dari lantai bawah.
Zain menyeka keringat di dahi. Sebagai generasi Z yang terbiasa dengan layar sentuh, menyentuh debu setebal dua sentimeter adalah siksaan. Namun, saat ia menggeser sebuah lemari kayu jati, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa. Sebuah peti kecil dari kayu ulin dengan ukiran khas Banjar yang sangat detail. Peti itu tidak menggunakan gembok besi modern, melainkan mekanisme slot kayu kuno.
"Peti apa ini?" gumam Zain.
Dengan hati-hati, ia membukanya. Bau kayu manis, cengkeh, dan kertas tua yang khas langsung menyeruak, memicu rasa ingin tahu yang besar. Di dalamnya, terbungkus kain sutra kuning yang sudah memudar, terdapat sebuah buku catatan tebal bersampul kulit kijang.
Zain membuka halaman pertama. Tulisan tangan di dalamnya menggunakan aksara Arab Melayu (Jawi) yang sangat rapi. Beruntung, Zain pernah belajar membaca Jawi saat di pesantren.
“Catatan Perjalanan Menjemput Ridho Illahi – Ditulis oleh Muhammad Hifni, Juru Tulis Kesultanan Banjar, dimulai pada bulan Rajab 1210 Hijriah (1795 Masehi).”
Zain terduduk di lantai kayu yang berderit. Ia mulai membaca, dan seketika, suasana tahun 2026 di sekitarnya memudar, digantikan oleh hiruk pikuk Martapura dua ratus tiga puluh satu tahun yang lalu.
Martapura, Februari 1795 Masehi
Muhammad Hifni sedang menghitung kepingan uang di atas meja kayu di kantor administrasi Kesultanan Banjar. Sebagai seorang pegawai (PNS zaman itu), ia dikenal paling teliti soal angka, namun paling pelupa soal di mana ia menaruh pecinya.
"Satu, dua, sepuluh... ah, kenapa hitungannya jadi berkurang?" Hifni menggaruk kepalanya yang tertutup sorban miring.
"Mungkin karena kau memakainya untuk membeli kitab baru kemarin, Bah," suara lembut namun bernada jenaka muncul dari balik pintu.
Itu adalah Rina Rufida, istrinya. Rina bukan perempuan biasa pada masanya. Ia adalah putri seorang saudagar yang sempat belajar bahasa dari pedagang-pedagang asing di pelabuhan. Di umur yang sama dengan Hifni, 30 tahun, Rina adalah sosok yang cerdas, praktis, dan punya satu kegemaran aneh: menyelipkan kata-kata bahasa Inggris yang ia dengar dari kapal-kapal VOC atau Inggris ke dalam percakapan sehari-hari.
"Hifni, look at me," ujar Rina sambil tersenyum lebar. "Uang itu tidak akan bertambah dengan kau tatap terus. Tapi cukup tidak untuk kita naik kapal ke Mekah?"
Hifni menghela napas panjang, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Jika kita menghemat uang belanja ikan patin dan iwak karing selama tiga bulan ke depan, Insya Allah, kita akan melihat Ka'bah, Rina."
Tiba-tiba, seorang anak kecil berusia 5 tahun berlari masuk dan memeluk kaki Hifni. Itu Khalisa Salsabilla.
"Abah! Tadi di pasar Khalisa dengar orang bilang di laut ada naga besar yang suka makan kapal. Apa kita nanti dimakan naga kalau mau ke rumah Allah?" tanya Khalisa dengan mata bulat yang polos.
Hifni mengangkat Khalisa ke pangkuannya. "Naga itu hanya cerita orang yang takut berlayar, Sayang. Kita punya Allah yang menjaga lautan. Lagipula, kalau ada naga, nanti Ummi-mu yang akan bicara bahasa Inggris padanya sampai naganya pusing dan pergi."
Rina tertawa kecil sambil mencubit lengan suaminya. "Abah ini, selalu saja bercanda! Tapi benar, Hifni, perjalanan ini akan memakan waktu berbulan-bulan di atas kapal kayu. Apa kau sudah siap mental jika aku terus mengoceh tentang tata bahasa Inggris sepanjang Samudera Hindia?"
"Asalkan kau tidak memintaku menerjemahkannya ke bahasa Banjar di depan Sultan, aku siap," balas Hifni jenaka.
Di hari itu, di tengah kesederhanaan rumah mereka di Martapura, keputusan besar diambil. Mereka akan menjual sebagian perhiasan Rina dan menggunakan seluruh tabungan gaji Hifni untuk menunaikan Rukun Islam kelima. Mereka tidak tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi petualangan yang akan diceritakan kembali oleh cucu-cucu mereka ratusan tahun kemudian.
Kembali ke Tahun 2026
Zain terpaku. Ia membelai kertas tua itu dengan ujung jarinya. "Jadi ini awal mulanya? Kakek Hifni yang pelupa dan Nenek Rina yang jago bahasa Inggris..."
Zain menyadari satu hal: ia baru saja menemukan harta karun yang lebih berharga daripada emas. Ia menemukan identitasnya. Dengan semangat, ia membawa buku itu turun.
"Ibu! Jangan buang peti ini! Kita punya cerita yang harus diterbitkan!"
Poin Menarik Bab Selanjutnya (Bab 2):
Bagaimana Hifni harus menghadapi atasannya di Kesultanan untuk meminta izin cuti panjang (yang hampir mustahil).
Persiapan Rina mengemas barang bawaan yang super repot (termasuk membawa ulekan sambal ke atas kapal).
Kekhawatiran lucu Khalisa tentang apakah di Mekah ada es lilin.
Bagikan kisah ini jika Anda ingin tahu bagaimana perjuangan PNS zaman dulu berhaji dengan kapal layar!
Nantikan Bab 2 bulan depan: "Gaji Kesultanan dan Diplomasi Ulekan Sambal"
