Pagi itu, pesawat yang membawa Cindy dari Jakarta mendarat mulus di Bandara Internasional Syamsudin Noor, yang letaknya tidak persis di Banjarmasin melainkan di Banjarbaru, namun tetap menjadi gerbang utama menuju "Kota Seribu Sungai". Udara panas dan lembap langsung menyambutnya begitu ia melangkah keluar dari pintu kedatangan. Sinar matahari terasa jauh lebih terik daripada yang ia kenal di Dresden. Cindy mengernyitkan dahi, merasakan keringat perlahan membasahi bajunya, membuat ia sadar bahwa ini bukan lagi Jerman, melainkan Borneo yang eksotis.
Ia melihat sekeliling. Bandara itu ramai, dengan nuansa arsitektur modern yang berpadu dengan sentuhan ornamen lokal. Pemandangan hijau tropis mendominasi, berbeda jauh dari lanskap Dresden yang didominasi arsitektur Baroque dan pepohonan pinus. Ini adalah kultur syok level ringan yang siap menyambutnya. Cindy tersenyum, menyadari petualangan baru benar-benar telah dimulai.
Sambil mendorong troli berisi koper yang talinya sudah diperbaiki seadanya Cindy mencari-cari keluarganya. Ia melihat sebuah kerumunan kecil, yang terdiri dari orang-orang berwajah mirip dengannya, melambaikan tangan dengan antusias. Senyum cerah langsung terpancar di wajah Cindy.
"CINDY! DI SINI!" teriak Tante Rosa, adik dari ibu Cindy, dengan suara yang riang. Tante Rosa, seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat, langsung memeluk Cindy erat. "Ya ampun, kamu makin cantik saja! Kapan terakhir kita bertemu?"
Cindy tertawa dalam pelukan. "Sudah lama sekali, Tante. Mungkin waktu aku masih sekolah," jawabnya.
Di samping Tante Rosa, ada Pakde Harun yang mengangguk ramah, dan sepupu-sepupu lain yang menyalami dan memeluknya. Namun, dari kerumunan itu, Cindy mencari-cari satu sosok yang hilang.
"Lev mana, Tante?" tanya Cindy pelan, setelah melepaskan pelukan Tante Rosa.
Wajah Tante Rosa berubah muram. "Dia tidak mau ikut. Bilang saja tidak enak badan," jawabnya dengan nada sedih. "Sejak Vania... dia memang lebih sering mengurung diri."
Hati Cindy mencelos. Ia tahu Lev berduka, tapi mendengar bahwa ia bahkan tak mau menyambutnya sepupu yang sudah jauh-jauh datang membuatnya merasa ada yang salah. Ini bukan sekadar kesedihan biasa. Ini adalah duka yang telah menggerogoti.
"Tidak apa-apa, Tante. Aku akan ke rumah nanti," kata Cindy, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Di perjalanan menuju Banjarmasin, Tante Rosa terus mengajak Cindy mengobrol, berusaha membuat suasana kembali ceria. "Bagaimana di Jerman? Kamu tidak bawa oleh-oleh apa-apa? Cokelatnya yang enak itu?"
"Tentu saja, Tante," jawab Cindy. "Tapi aku juga bawa 'terapi khusus' untuk Lev. Semoga manjur."
Tante Rosa tertawa, meski tawanya terdengar getir. "Semoga saja. Kami semua sudah kehabisan akal."
Di dalam mobil, Cindy memperhatikan pemandangan di luar. Pohon-pohon tropis yang rimbun, rumah-rumah kayu di pinggir jalan, dan kanal-kanal kecil yang sesekali terlihat. Ini adalah Banjarmasin. Kota yang begitu asing, namun menyimpan kerinduan dan kepedihan keluarganya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba di sebuah rumah besar dengan halaman yang luas, dipenuhi pepohonan rindang. Suasana di rumah itu terasa tenang, namun ada aura melankolis yang tak bisa disembunyikan. Cindy melihat ke arah salah satu jendela di lantai dua. Jendela itu tertutup rapat. Itu pasti kamar Lev.
Hatinya berdesir. Misi "Operasi Senyum" akan dimulai di sini. Di balik jendela yang tertutup rapat itu. Cindy menarik napas dalam-dalam, mengambil tasnya, dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia siap menghadapi tantangan terbesarnya: menjangkau hati yang terkunci rapat oleh duka.
