Rahasia Terungkap: Vania Larasati Didiagnosis Kanker dan Kisah Cinta Mahasiswa ULM di Banjarmasin.
"Ada sedikit masalah kesehatan, Lev. Tapi tidak serius kok." Kalimat Vania di kantin ULM terus terngiang di benak Lev Ryley. Ia tahu, Vania berbohong. Ada yang lebih dari sekadar "sedikit masalah".
Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah taman yang lebih sepi, jauh dari keramaian kampus. Mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang, angin sore berembus sejuk, membawa aroma bunga-bunga yang mekar. Namun, Lev tidak merasakan ketenangan. Hatinya berdebar, menunggu pengakuan yang ia takutkan.
Vania menunduk, memainkan jari-jarinya. Tangannya bergetar. "Lev... Aku... aku harus jujur."
"Aku tahu, Vania. Aku tahu ada yang tidak beres," ucap Lev, menggenggam tangan Vania erat. "Kamu bisa ceritakan semuanya padaku."
Vania menarik napas dalam, berusaha menguatkan diri. Matanya berkaca-kaca. "Beberapa minggu ini, aku sering merasa nyeri di perut. Pusing... lelah..." Suaranya bergetar. "Kemarin, setelah kamu melihat perban di tanganku... aku ke rumah sakit. Sendirian."
Lev merasakan jantungnya mencelos. "Lalu?"
"Hasilnya... sudah keluar," Vania berhenti sejenak, tak sanggup melanjutkan. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku... aku didiagnosis kanker, Lev."
Dunia Lev Ryley runtuh. Kata-kata Vania terasa seperti pukulan keras di dadanya. Kanker. Kata yang selama ini hanya ia baca di novel romantis dengan alur yang tragis. Kini, kata itu nyata, diucapkan oleh orang yang paling ia cintai, mahasiswa PGSD ULM yang selalu ceria, Vania Larasati.
Lev terdiam, mencerna semuanya. Ia melihat Vania yang menangis, rapuh. Perasaan marah, sedih, dan tidak percaya bercampur aduk. Ia ingin berteriak pada takdir yang begitu kejam. Mengapa harus Vania? Mengapa harus kisah cinta mahasiswa mereka?
"Kenapa... kenapa kamu tidak bilang dari awal, Vania?" tanya Lev, suaranya parau.
"Aku tidak ingin kamu khawatir, Lev. Aku tidak ingin menjadi beban," isak Vania. "Aku takut... takut kamu pergi."
Lev menarik Vania ke dalam pelukannya. "Jangan pernah bilang begitu. Kamu bukan beban, Vania. Kamu adalah bagian dari hidupku. Kita akan hadapi ini bersama. Seperti yang kita janjikan di Takisung. Dalam suka dan duka. Aku tidak akan pergi. Tidak akan pernah."
Di bawah langit sore Banjarmasin yang perlahan gelap, Lev dan Vania berpelukan erat. Air mata Lev ikut menetes, membasahi rambut Vania. Senja yang biasanya indah, kini terasa suram. Kisah cinta mahasiswa mereka memasuki babak yang paling sulit. Ini bukan lagi tentang perbedaan karakter, atau kesibukan. Ini adalah perjuangan cinta melawan penyakit mematikan. Ini adalah awal dari novel romantis sad ending yang tak pernah mereka bayangkan.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Vania Larasati akhirnya mengungkapkan rahasianya. Bagaimana Lev Ryley akan menghadapi kenyataan pahit ini?
Apakah kisah cinta mahasiswa ULM ini akan berakhir tragis? Ikuti terus perjuangan mereka dalam novel romantis ini!
Cinta diuji bukan hanya dengan bahagia, tapi juga dengan duka. #NovelRomantisSadEnding #VaniaKanker #MahasiswaULM #Banjarmasin #KisahCinta #PerjuanganCinta
