Kael berlari tanpa henti, meninggalkan gemerlapnya Heart of the Sanctuary dan kehampaan yang terasa membakar hatinya. Ledakan energi yang ia ciptakan dengan gema kartunya berhasil menciptakan celah di sihir Mortii, tetapi hanya cukup untuk melontarkan dirinya. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk menyelamatkan Lyra dan Brokk. Beban kegagalan itu terasa lebih berat daripada bebatuan terjal yang ia lewati.
Di luar gua, udara dingin pegunungan menyambutnya, namun Kael tidak merasa sejuk. Kemarahan dan keputusasaan membakar di dalam dadanya. Ia telah dibodohi. Malakor tidak hanya menculik Elara, tetapi juga memanipulasi mereka. Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Kael telah memercayai jejak yang ia rasakan. Ia telah memimpin teman-temannya ke dalam sebuah perangkap.
Kael terus berlari, napasnya memburu, namun ia tidak peduli. Tiba-tiba, ia terjatuh, kakinya tersandung akar pohon yang meliuk-liuk seperti ular. Ia tergeletak di tanah yang dingin, napasnya tersengal-sengal. Ia mengeluarkan kartu Elara, menggenggamnya erat-erat. Gema yang dulu memberinya harapan kini terasa seperti bisikan pengkhianatan. Gema itu tidak lagi berbicara tentang cinta dan harapan, melainkan tentang ketidakberdayaan dan keputusasaan.
"Maafkan aku, Elara," bisik Kael, air mata mengalir di pipinya. "Maafkan aku, Lyra... maafkan aku, Brokk."
Ia merasa sendirian, lebih sendirian daripada yang pernah ia rasakan. Ia telah kehilangan desanya, ia telah kehilangan adiknya, dan kini ia telah mengorbankan dua teman yang mulai ia percayai.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gema yang berbeda. Itu bukan gema kartu Elara, melainkan gema yang berasal dari dalam dirinya. Itu adalah suara bijak misterius yang disebutkan oleh Malakor dan Elara.
Carilah... bijak... misterius...
Suara itu terdengar samar, namun cukup kuat untuk mengembalikan fokus Kael. Ia harus bangkit. Ia tidak bisa menyerah. Ia masih memiliki harapan. Ia masih memiliki tugas yang belum selesai.
Kael bangkit berdiri. Ia menghapus air matanya, dan menatap ke arah pegunungan. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, tetapi ia tahu ia tidak bisa kembali. Ia harus menemukan bijak misterius itu. Ia harus mengerti apa yang terjadi.
Dengan tekad baru, Kael memulai perjalanan lagi. Ia tidak lagi dipandu oleh gema kartu Elara, melainkan oleh gema yang ia rasakan dari dalam dirinya. Gema yang berbicara tentang kebenaran, gema yang berbicara tentang harapan. Gema yang akan membawanya ke bijak misterius, dan mungkin, ke jawaban atas semua pertanyaan yang ia miliki.
Ia berjalan di malam hari, meninggalkan wilayah Mortii yang penuh kegelapan, menuju ke tempat yang tidak ia ketahui. Ia tahu perjalanannya akan sulit. Ia tahu ia harus menghadapi bahaya sendirian. Tetapi ia tidak lagi takut. Ia telah kehilangan segalanya, dan ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk kehilangan. Ia hanya memiliki satu tujuan: menemukan kebenaran.
