Kael berjalan tanpa tujuan selama berhari-hari. Tanpa petunjuk dari gema kartu Elara, ia hanya mengikuti nalurinya, menjauh dari wilayah Mortii dan kegelapan yang menyelimutinya. Malam-malam yang dilaluinya terasa panjang dan sunyi, hanya ditemani oleh suara angin dan bayang-bayang yang menari. Perasaan bersalah dan penyesalan terasa begitu berat di hatinya, lebih berat dari tas punggung yang ia bawa. Ia merasa seperti telah mengkhianati Lyra dan Brokk, dua orang yang mulai ia percayai.
Dalam kegelapan, ia sering kali melihat bayangan. Bayangan Lyra, dengan mata zamrudnya yang penuh kekecewaan, dan bayangan Brokk, dengan raut wajah muramnya yang penuh dengan kemarahan. Bayangan-bayangan itu menghantuinya, dan ia tidak bisa tidur nyenyak. Ia merasa seolah-olah ia telah kehilangan segalanya.
Suatu hari, setelah berjalan melewati hutan yang gersang dan dipenuhi pepohonan mati, Kael melihat sebuah gua yang tersembunyi di balik semak belukar. Gua itu tidak terlihat berbahaya, namun ia bisa merasakan aura kuno yang menguar dari sana. Gema yang ia rasakan dari dalam dirinya, suara bijak misterius yang ia dengar, terasa lebih kuat.
Kael memberanikan diri masuk ke dalam gua. Di dalamnya, ia menemukan suasana yang aneh. Gua itu dingin dan gelap, tetapi sebuah patung kuno, terbuat dari batu andesit yang sama seperti yang ia lihat di wilayah Neander, berdiri di tengah. Patung itu menggambarkan seorang wanita, dengan ekspresi sedih dan menyesal di wajahnya.
Tiba-tiba, sebuah bisikan terdengar dari dalam gua, bukan dari patung, tetapi dari dalam diri Kael.
"Apakah kau datang untuk menebus dosa-dosamu?" bisik suara itu, terdengar seperti suara wanita yang sangat tua.
Kael terkejut. "Siapa kau?" tanyanya, melihat sekeliling.
"Aku adalah Kili Suci," jawab suara itu, namun tidak ada siapa pun di sana. "Aku adalah bijak yang kau cari, pembuat kartu yang naif. Aku bersembunyi di sini, bertapa, untuk menebus dosa-dosa masa lalu."
Kael merasa bingung. "Dosa apa?"
"Aku adalah penyebab dari semua perang ini," jawab suara itu, terdengar penuh penyesalan. "Aku adalah putri mahkota dari sebuah kerajaan yang sekarang telah tiada. Aku dulu menolak cinta, dan karena itu, aku mengkhianati banyak orang. Aku menciptakan konflik yang memicu perang antar fraksi. Karena dosa-dosaku, aku memilih untuk mengasingkan diri dan bertapa di sini."
Kael tidak mengerti. "Kenapa kau memberitahuku ini? Bagaimana aku bisa membantumu?"
"Kau tidak bisa membantuku," jawab suara itu. "Kau harus membantu dirimu sendiri. Kau harus mengerti bahwa kekuatan terbesar bukanlah kekuatan fisik atau sihir, tetapi kekuatan untuk memaafkan. Memaafkan dirimu sendiri, memaafkan orang lain."
"Aku tidak bisa memaafkan," kata Kael, mengingat wajah Malakor yang kejam.
"Itu adalah pilihanmu," jawab suara itu. "Tetapi, jika kau ingin menyelamatkan adikmu, jika kau ingin mengakhiri perang, kau harus belajar memaafkan. Kau harus belajar mengendalikan kekuatan terbesarmu, gema dari jiwamu."
Tiba-tiba, suara itu menghilang. Kael merasa sendirian lagi, tetapi kali ini, ia merasa lebih yakin. Ia tidak hanya harus menyelamatkan Elara, tetapi juga harus mengerti arti dari kekuatan yang ia miliki. Ia harus belajar memaafkan. Ia harus belajar mengendalikan gema dari jiwanya.
Dengan tekad baru, Kael meninggalkan gua itu. Ia tahu perjalanannya akan sulit, tetapi ia tidak lagi takut. Ia telah menemukan bijak misterius, dan ia telah mendapatkan petunjuk tentang apa yang harus ia lakukan. Ia harus kembali ke wilayah Mortii, menghadapi Malakor, dan membebaskan Elara. Dan ia harus melakukannya dengan kekuatan yang baru, kekuatan yang lebih kuat dari kekuatan fisik atau sihir, kekuatan untuk memaafkan.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
