Hari Jumat adalah hari yang istimewa di komplek perumahan keluarga Levℛyley. Selain ibadah salat Jumat, ada agenda rutin musyawarah warga setelah salat Ashar di musala komplek. Musala yang kini semakin nyaman dengan karpet sajadah Turki baru sumbangan dari Anindya Putri dan hasil checkout massal ibu-ibu majelis taklim.
Sore itu, Anindya dan Levℛyley sudah siap di musala. Levℛyley didapuk menjadi pemimpin rapat, sementara Anindya menjadi sekretaris dadakan yang mencatat semua usulan di ponselnya.
"Baik, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Agenda sore ini adalah persiapan Maulid Nabi Muhammad SAW," buka Levℛyley dengan suara tenang. "Ada usulan untuk konsumsi, penceramah, dan yang paling penting, dana."
Seorang bapak-bapak yang sering disapa Pak RT angkat bicara. "Untuk konsumsi, kita serahkan ke seksi ibu-ibu saja, Pak Lev. Mereka ini kan jago masak dan jago cari diskon bahan makanan di toko online."
Warga lain tertawa. Julukan "Gang Paket" untuk komplek mereka memang sudah melekat erat.
Anindya tersenyum malu-malu. "Siap, Pak RT. Nanti saya buatkan grup WhatsApp khusus 'Konsumsi Maulid' dan kita share link toko yang jual beras, minyak, dan bumbu dapur dengan harga grosir dan gratis ongkir."
Diskusi berlanjut, dan akhirnya fokus pada penggalangan dana. Uang kas musala belum mencukupi untuk mengundang penceramah kondang yang diinginkan warga.
Tiba-tiba, Aisyah, yang ikut hadir karena sedang libur kuliah, mengangkat tangannya. "Bagaimana kalau kita adakan bazaar online, Ayah, Ibu?"
Semua mata tertuju pada Aisyah. Ide itu terdengar asing di telinga sebagian besar warga yang rata-rata sudah senior.
"Bazaar online gimana maksudnya, Nak?" tanya Levℛyley.
"Jadi, kita buat landing page atau akun media sosial khusus Musala Al-Hikmah. Kita jual produk-produk buatan warga komplek, seperti kue-kue khas Banjar, kerajinan tangan Maryam, atau mungkin ada ibu-ibu yang pandai jahit mukena," jelas Aisyah antusias, menerapkan ilmu kewirausahaan yang dia dapat di ULM. "Keuntungannya nanti masuk ke kas musala. Kita juga bisa terima donasi online via transfer."
Ide Aisyah disambut dengan riuh. Warga yang tadinya bingung kini mulai tertarik. "Wah, keren itu, Mbak Aisyah! Musala kita bisa go online!" seru salah satu ibu.
Levℛyley tersenyum bangga pada putri sulungnya. "Ide brilian, Nak. Ini namanya memanfaatkan teknologi untuk kemaslahatan umat. Dakwah digital yang sesungguhnya."
Anindya langsung mengeluarkan ponselnya lagi. "Oke, deal! Aku yang urus bagian marketing dan SEO-nya! Kita harus pastikan toko online musala kita muncul di halaman pertama pencarian Google saat orang mencari 'Donasi Masjid Banjarmasin' atau 'Jual Kue Khas Banjar Online'."
Malam harinya, di rumah Levℛyley, suasana seperti startup digital yang sedang brainstorming. Aisyah membuat wireframe website sederhana, Anindya menyiapkan copywriting yang menarik, dan Maryam mulai membuat sketsa desain logo Musala Al-Hikmah online. Ghina dan Rayyan bertugas mencicipi sampel kue-kue dari tetangga yang akan dijual, memastikan kualitasnya terjamin.
"Enak nih kuenya, Bu! Bintang lima!" komentar Ghina sambil mengacungkan jempolnya, sudah mirip food blogger.
Di sudut ruangan, Levℛyley mengawasi semua aktivitas itu sambil tersenyum. Dia bersyukur, di tengah gempuran tren digital dan budaya konsumtif, keluarganya bisa menemukan cara untuk tetap terhubung dengan nilai-nilai Islami dan sosial kemasyarakatan.
Banjarmasin mungkin dikenal dengan budaya sungainya yang tradisional, tapi keluarga Levℛyley membuktikan bahwa kehidupan Islami modern dan kemajuan teknologi bisa berjalan beriringan. Musyawarah warga digital malam itu menjadi tonggak baru bagi komplek mereka, yang kini tidak hanya dikenal karena "Gang Paket"-nya, tapi juga karena inisiatif digitalnya yang inspiratif.
