Kegagalan Kue Rangai kemarin sore tidak menyurutkan semangat kuliner keluarga Rahmat. Kali ini, giliran Aisyah yang menjadi motor penggerak. Sejak pagi, Aisyah sudah uring-uringan, scroll terus menerus FYP (For You Page) TikTok-nya.
"Yah, Bu, Aisyah stres nih!" rengeknya di meja makan, saat yang lain sedang menikmati Lamang (ketan bambu khas Banjar) yang dibeli Ibu Salma di pasar pagi.
"Stres kenapa, Nak? Nilai sekolah jelek?" tanya Ayah Rahmat khawatir, berhenti mengunyah lamangnya.
"Bukan! Ini lho! Mi Bangladesh lagi viral banget di TikTok! Semua orang cobain, Aisyah belum!" Aisyah menunjukkan layar ponselnya, memperlihatkan video-video orang makan mi instan yang dimasak dengan bumbu melimpah ruah, pedas, dan kental.
Ayah Rahmat menghela napas lega, tapi kemudian tawanya pecah. "Ya Allah, Ais, gara-gara mi instan doang kamu stres? Bisa dibeli di warung sebelah kan bumbu utamanya?"
"Bukan gitu, Yah! Vibe-nya beda! Rasanya beda! Ayah mana ngerti," Aisyah cemberut. "Bikin di rumah kayaknya enggak bakal seenak yang di video."
Melihat drama pagi Aisyah, Ayah Rahmat yang dasarnya humoris dan suka tantangan, langsung berdiri tegak. "Baiklah, Nona Aisyah. Hari ini, Ayahmu ini akan turun tangan ke dapur. Kita akan taklukkan Mi Bangladesh viral itu! Challenge accepted!"
Sarah dan Ibu Salma saling pandang, menahan tawa melihat kepercayaan diri Ayah Rahmat. Ayah Rahmat memang pandai memasak masakan Banjar, tapi untuk urusan mix and match makanan viral modern, kemampuannya masih dipertanyakan.
Siang itu, dapur keluarga Rahmat yang biasanya damai, berubah jadi medan eksperimen kuliner. Ayah Rahmat memimpin jalannya masak, dibantu Zaki sebagai asisten setia, dan Aisyah sebagai pengawas kualitas yang terus membandingkan dengan video TikTok.
Bahan-bahan disiapkan: Mi instan, bumbu kari tambahan, cabai rawit melimpah, telur, irisan tomat, dan bumbu-bumbu rahasia Ayah Rahmat yang diambil dari lemari rempah Ibu Salma.
"Ayah, di video itu bumbunya dioseng dulu sampai harum," instruksi Aisyah.
"Iya, sabar, Nak. Feeling chef Ayah lagi main," jawab Ayah Rahmat, mulai menumis bumbu dengan gaya sok profesional.
Masalah mulai muncul. Karena terlalu semangat menumis, Ayah Rahmat lupa mengecilkan api. Bumbu yang seharusnya harum, malah sedikit gosong dan asap mulai mengepul di dapur.
"Ayah! Gosong!" teriak Zaki.
"Astaghfirullah!" Ibu Salma yang sedang menjahit di ruang tengah langsung lari ke dapur dan sigap membuka jendela, sementara Sarah mematikan kompor.
Ayah Rahmat nyengir kuda. "Sedikit saja kok gosongnya, Bu. Justru itu yang bikin rasanya unik, ada sensasi smoky-nya."
Ibu Salma hanya geleng-geleng kepala. "Ya sudah, buang bumbu yang gosongnya, kita mulai lagi. Kali ini Ibu yang pegang kompor."
Eksperimen kedua berjalan lebih lancar di bawah pengawasan Ibu Salma. Setelah mi matang dan semua bumbu tercampur sempurna dalam kuah kental berwarna oranye kemerahan yang menggoda, hidangan Mi Bangladesh ala keluarga Rahmat siap disajikan.
Mereka berkumpul di meja makan. Aisyah mengambil sendok dan garpu, tangannya sedikit gemetar karena antusias. Dia merekam momen suapan pertama untuk TikTok-nya.
"Bismillah... Momen kebenaran, guys!"
Satu suapan masuk ke mulutnya. Mata Aisyah langsung membulat, bukan karena pedas, tapi karena rasanya.
"Gimana, Kak?" tanya Zaki penasaran.
"Astaga... Enak banget!" seru Aisyah jujur. Rasanya persis seperti yang dia bayangkan dari video viral, gurih, pedasnya pas, kental, dan ada sentuhan khas bumbu dapur Ibu Salma yang membuatnya terasa lebih 'rumahan'.
Ayah Rahmat tersenyum bangga. "Tuh kan, Ayah bilang apa. Chef Rahmat enggak pernah gagal."
Sarah mencicipi sedikit. "Iya, Yah, enak banget ini. Fix bisa jadi menu jualan nih kalau kita serius."
Hari itu, demam makanan viral berhasil ditaklukkan oleh kekompakan keluarga Rahmat. Mereka belajar bahwa makanan viral modern pun bisa dimasak di rumah dengan sentuhan cinta dan kebersamaan, menghasilkan rasa yang jauh lebih nikmat daripada sekadar tren sesaat. Perut kenyang, hati senang, dan stok konten TikTok Aisyah bertambah satu.
