Pintu masuk gletser adalah retakan besar di es, memancarkan aura dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Dingin banget!” Vania menggosokkan tangannya, meskipun jubahnya seharusnya membuatnya hangat. Sihir penahan dingin dari jubah itu bekerja, tapi suhu ekstrem masih terasa.
Lev mengeluarkan Sippy dan Chicky. Chicky langsung melompat dari bahu Lev dan mulai mematuk-matuk es di tanah dengan antusias, seolah mencari cacing beku. Sippy merayap pelan, meninggalkan jejak lendir yang langsung membeku.
“Oke, masuk!” Vania memimpin jalan, busurnya sudah siap.
Lantai pertama dungeon ini adalah labirin gua es alami. Dindingnya memancarkan cahaya biru redup, dan kristal es runcing menjuntai dari langit-langit. Pijakannya licin dan berbahaya.
“Hati-hati, licin,” peringat Anastasya, berjalan dengan hati-hati tapi seimbang.
Mereka bertemu monster pertama: Ice Wolf (Serigala Es). Empat serigala dengan bulu putih salju dan mata biru dingin menggeram saat melihat penyusup.
“Aku yang urus!” Vania menembakkan tiga panah cepat, mengenai tiga serigala. Mereka terluka, tapi tidak mati, dan malah berlari lebih cepat ke arah Vania.
“Mereka cepat!” Vania menghindar dari serangan gigitan serigala pertama, tapi hampir jatuh terpeleset es.
Anastasya bersiap meluncurkan sihir api, tapi Lev menghentikannya. “Tunggu! Aku punya strategi!”
Lev menatap Chicky, si ayam tempur, yang masih sibuk mematuk es. “Chicky, Peck Attack! Target: Serigala yang paling dekat dengan Vania!”
Chicky menoleh, melotot ke arah serigala es, dan dengan kokokan nyaring ‘Kukuruyukkk!’, berlari kencang ke arah serigala itu. Serigala itu bingung melihat ayam kecil menyerangnya, mengabaikan Vania sejenak. Chicky melompat dan mulai mematuk mata serigala itu berulang kali.
Serigala es itu panik, melolong kesakitan dan mencoba mengibaskan Chicky.
“Vania, sekarang!” teriak Lev.
Vania mengambil kesempatan, menembakkan panah terakhirnya tepat ke kepala serigala yang sedang panik. Serigala itu tumbang.
“Sippy, Scented Slime! Ke arah kaki serigala yang lain!” perintah Lev lagi.
Sippy meluncurkan lendir mawar super licinnya ke area sekitar tiga serigala yang tersisa. Para serigala, yang terdistraksi oleh Chicky yang berani, tergelincir dan jatuh ke lantai es yang sudah licin.
“Frost Shard,” Anastasya meluncurkan sihir esnya (karena slime es lebih efisien), membekukan serigala yang tidak bisa bergerak di lantai es.
Pertarungan selesai. Vania menatap Lev, terkejut. "Wow! Strategimu lumayan efektif! Aku nggak nyangka ayam dan siput bisa berguna."
“Unique summoner bukan cuma tentang monster kuat, tapi strategi unik!” kata Lev bangga, memanggil Chicky kembali. Chicky kembali ke bahu Lev, memamerkan bulu dadanya dengan bangga.
Mereka melanjutkan perjalanan. Lantai pertama dipenuhi banyak monster es lain seperti landak es dan yeti muda, tapi dengan strategi unik Lev yang mengkombinasikan gangguan dari Chicky dan kelincahan Vania, serta damage es Anastasya, mereka maju dengan lancar.
Mereka menemukan jalan turun menuju lantai dua di sebuah ceruk gua yang tertutup tirai es.
“Lantai dua, ini dia!” Vania bersemangat.
“Level up!” Suara sistem terdengar lagi di benak Lev. “Lev Ryley reached Level 3.”
Lev tersenyum puas. Pengalaman dari Gletser Frostfire jauh lebih baik daripada selokan kota. Tim "Tiga Sekawan" siap untuk tantangan selanjutnya di dalam novel RPG fantasi yang semakin seru ini.
