Emily duduk di kafe, masih berusaha menahan tawanya. Wajah Lev yang memerah karena malu dengan pakaiannya yang kebesaran adalah pemandangan yang langka dan sangat menghibur. Emily tahu, di balik sikap sok serius Lev, ada jiwa yang rapuh dan sedikit kikuk. Dan itu justru membuatnya semakin menarik.
"Jadi," kata Emily, setelah berhasil mengendalikan tawanya. "Kopermu hilang?"
Lev mengangguk pasrah. "Di bandara. Semua pakaian, termasuk kemeja favoritku. Aku hanya punya ini sekarang," katanya sambil menunjuk pakaian konyolnya.
Emily melihat pakaian Lev lagi, dari jaket tebal yang menggantung di bahunya, kaus band yang aneh, hingga celana jeans sobek. "Aku harus mengakui, ini adalah fashion statement yang berani," kata Emily, dengan seringai di wajahnya.
"Sangat lucu," Lev menyindir. "Aku harap kamu tidak memotretku."
"Aku sudah melakukannya," kata Emily sambil menunjukkan ponselnya. Layar ponselnya menampilkan foto Lev dengan pose canggung, memegang cangkir kopi, dengan latar belakang jendela kafe yang basah.
Lev mendesah. "Ya ampun, Emily. Aku akan menghapus foto itu."
"Tidak akan," Emily membalas, sambil menyimpan ponselnya. "Ini bukti bahwa kamu adalah petualang yang tidak pernah kehabisan kejutan."
Mereka berdua menghabiskan waktu di kafe itu, saling bercerita tentang pengalaman masing-masing sejak mereka berpisah di Ankara. Emily menceritakan tentang pertemuannya dengan beberapa antropolog yang sedang melakukan penelitian di sana, dan bagaimana ia menemukan beberapa data menarik tentang komunitas Muslim setempat. Lev bercerita tentang kebingungannya saat menyadari ia berada di kota yang salah, dan bagaimana ia akhirnya menemukan keindahan yang berbeda dari yang ia bayangkan.
"Ngomong-ngomong, boneka kelinciku aman?" tanya Lev, tiba-tiba teringat.
Emily tertawa. "Aman. Tapi aku tidak bisa berjanji kalau ia tidak akan mencuri kemeja konyolmu saat tidur."
"Emily!"
Hujan di Manchester akhirnya berhenti. Mereka berdua keluar dari kafe dan berjalan menyusuri jalanan yang kini basah dan berkilauan. Udara terasa dingin, tetapi persahabatan mereka terasa hangat. Lev dan Emily berjalan beriringan, menikmati pemandangan kota Manchester yang modern dan ramai.
Emily melihat sebuah pasar yang ramai. "Ayo kita ke sana! Aku yakin kamu bisa menemukan kemeja pengganti yang lebih bagus."
Lev mengangguk, senang dengan ide itu. Mereka berjalan menuju pasar, melewati toko-toko yang ramai dan gerai-gerai makanan yang menggoda. Lev melihat beberapa barang antik yang menarik, dan ia mulai memotret lagi, kali ini dengan perasaan yang lebih rileks.
"Lihat itu," kata Emily, menunjuk ke sebuah gerai yang menjual pakaian-pakaian bekas. "Mungkin kamu bisa menemukan harta karun di sana."
Lev dan Emily memasuki gerai itu. Bau pakaian bekas yang khas memenuhi udara. Lev mulai mencari-cari, sementara Emily melihat-lihat dengan antusias.
"Ini cocok untukmu," kata Emily, sambil menunjukkan sebuah kemeja kotak-kotak berwarna hijau yang tampak usang.
"Emily, itu seperti kemeja kakekku," protes Lev.
"Tapi itu terlihat lucu! Kamu akan terlihat seperti seorang musisi indie yang gagal," Emily tertawa.
Lev menolak ide Emily, dan terus mencari. Akhirnya, ia menemukan sebuah kemeja berwarna biru muda yang terlihat cukup bagus. Ia mencobanya, dan kemeja itu pas di badannya.
"Bagaimana?" tanya Lev kepada Emily.
"Lumayan," kata Emily. "Tapi aku lebih suka yang kotak-kotak."
Lev mendengus. "Aku akan ambil yang ini."
Mereka membayar kemeja itu dan keluar dari gerai. Hujan mulai turun lagi, tetapi kali ini mereka berdua tidak peduli. Mereka berjalan di bawah rintik hujan, tertawa dan bercanda.
Lev menyadari bahwa ia tidak lagi merasa malu dengan pakaiannya yang konyol. Dengan Emily di sisinya, ia merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa petualangan ini bukan hanya tentang memotret keindahan dunia, tetapi juga tentang menemukan keindahan dalam persahabatan. Dan di bawah rintik hujan Manchester, Lev Ryley dan Emily menemukan bahwa mereka adalah tim yang tak terkalahkan, tim yang siap menghadapi segala tantangan, termasuk kehilangan koper dan pakaian konyol.
