Setelah insiden video call dengan orang tuanya, Anindya menjalani hari-hari yang berat. Hubungannya dengan keluarga membeku, komunikasi terhenti total. Setiap hari, ada rasa rindu dan sedih yang mendalam, namun ia mencoba tegar. Ia tahu, ia telah memilih jalannya, dan ia harus siap dengan konsekuensinya.
Satu per satu, pertemanan lamanya mulai runtuh. Jessica dan Maya semakin menjauh, dan David bahkan sempat mengirim pesan bernada sindiran. Anindya mencoba membalas pesan-pesan itu dengan sabar, menjelaskan bahwa ia tidak berubah, hanya menjadi lebih baik. Namun, mereka tidak ingin mendengarkan. Mereka lebih memilih untuk mengenang Karina yang lama, yang mereka anggap lebih menyenangkan.
Rasa kehilangan itu begitu nyata. Anindya merasa ia telah merelakan pertemanan yang sudah terjalin lama demi sebuah keyakinan yang baru ia temukan. Ia mencoba melupakan, tetapi kenangan-kenangan lama terus menghantui. Malam-malam yang dulu penuh tawa kini terasa sunyi.
Di tengah kesendirian itu, Anindya semakin mendekat pada Allah. Ia semakin sering salat malam, memohon kekuatan dan ketenangan. Di setiap sujud, ia menumpahkan seluruh kesedihan dan rasa sakitnya. Ia menyadari, ini adalah bagian dari proses. Ia harus belajar ikhlas. Ikhlas merelakan apa yang dulu ia miliki demi sesuatu yang jauh lebih berharga.
Fatimah dan Adam terus mendampingi Anindya. Mereka mengajaknya dalam kegiatan-kegiatan komunitas, seperti berbagi makanan kepada tunawisma di sekitar Manchester atau sekadar membaca Al-Qur'an bersama di masjid. Aktivitas-aktivitas ini membantu Anindya untuk mengalihkan pikirannya dari kesedihan. Ia menyadari, ada kebahagiaan lain yang bisa ia temukan, kebahagiaan yang datang dari memberi dan melayani.
Suatu hari, saat sedang membantu di sebuah dapur umum, Anindya melihat seorang nenek tua tersenyum tulus kepadanya. Senyum itu mengingatkannya pada senyum ibunya. Air matanya hampir tumpah, namun ia menahannya. Ia menyadari, meskipun ia jauh dari ibunya, ia bisa menebar kebaikan kepada orang lain, dan itu adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa ia tidak berubah menjadi orang jahat.
Anindya mulai belajar untuk ikhlas. Ikhlas melepaskan pertemanan yang tidak lagi sejalan, ikhlas menerima penolakan dari keluarga. Ia tahu, ia tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima keputusannya. Ia hanya bisa menunjukkan kepada mereka bahwa ia bahagia, bahwa ia telah menemukan ketenangan yang sejati.
Proses belajar ikhlas itu tidak mudah. Kadang, ia merasa ingin menyerah, kembali ke masa lalu di mana semuanya terasa lebih mudah. Namun, setiap kali keraguan itu datang, ia teringat pada kedamaian yang ia rasakan setiap kali ia salat. Kedamaian itu adalah pengingat bahwa ia berada di jalan yang benar.
Malam itu, saat salat tahajud, Anindya memohon kepada Allah, "Ya Allah, ajarkan hamba untuk ikhlas. Ikhlas menerima semua ujian ini. Ikhlas melepaskan segala yang bukan milik hamba. Dan kuatkanlah hamba untuk tetap berjalan di jalan-Mu."
Setelah salat, Anindya merasakan hatinya terasa lebih ringan. Ia tahu, ia masih harus melewati banyak ujian, tetapi ia tidak lagi takut. Ia telah belajar ikhlas. Dan dengan ikhlas, ia merasa lebih dekat dengan Tuhannya, lebih dekat dengan ketenangan yang ia cari. Ia telah melepaskan masa lalunya, dan kini siap untuk menyambut masa depannya.
