Pagi ini, Anindya Putri, sang influencer belanja online, memiliki misi baru yang sangat pribadi. Misi ini tidak bisa dinegosiasikan. Destinasinya: Trafford Centre, salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan paling ikonik di Inggris Raya, terkenal dengan arsitektur Art Deco yang mewah dan kubah kacanya yang megah.
"Ayah, hari ini jadwal kita ke Trafford Centre ya. Wajib hukumnya!" Anindya mengatakannya dengan nada mutlak saat sarapan.
Lev langsung merasakan hawa dingin di tengkuknya. "Bu, kita kan sudah belanja di toko suvenir MU kemarin. Budget-nya..."
"Ayah, please," Anindya memasang ekspresi memelas andalannya. "Ini kan bagian dari napak tilas juga. Dulu Ayah sering ke sana cuma buat lihat-lihat, kan? Sekarang kita ke sana buat merayakan keberhasilan kita!"
Aisyah tersenyum. Dia tahu betul hasrat belanja ibunya. "Ayah, Aisyah bantu jagain Ibu deh. Kita cuma lihat-lihat yang penting aja."
Akhirnya Lev mengalah. "Oke, tapi janji nggak borong yang aneh-aneh, ya."
Mereka naik bus umum yang nyaman menuju Trafford Centre. Begitu tiba, kemegahan bangunan itu langsung memukau semua anggota keluarga. Interior yang mewah, pilar-pilar marmer, dan lampu gantung kristal membuat Ghina dan Rayyan ternganga.
"Ini beneran mal, Yah? Bukan istana?" tanya Ghina polos.
"Iya, Nak. Mall super besar," jawab Lev, sambil memegang dompetnya erat-erat.
Anindya langsung on fire. Ia memulai live Instagram-nya begitu masuk. "Assalamualaikum followers! Masya Allah, lihat nih kemegahan Trafford Centre di Manchester! Mewah banget kan? Ibu mau hunting barang diskonan nih! Stay tuned ya!"
Misi belanja dimulai. Anindya melesat bagai kilat, dari satu toko ke toko kosmetik lainnya. Lev berusaha keras mengimbangi langkah istrinya sambil mengawasi anak-anak.
"Bu, kita ke toko pakaian anak-anak dulu, ya. Mereka butuh kaus kaki," Lev mencoba mengalihkan perhatian Anindya dari toko makeup mahal.
"Iya, Yah, habis ini," jawab Anindya, matanya sudah terpaku pada etalase lipstik bermerek.
Aisyah, sang asisten belanja dadakan, berusaha membantu ibunya memilih barang yang fungsional. "Bu, mending beli hand cream buat di Swiss nanti. Udara dingin bikin kulit kering."
"Ide bagus, Aisyah!" Anindya langsung memborong beberapa hand cream dengan berbagai aroma. Lev menghela napas lega, setidaknya barangnya berguna.
Maryam, si seniman, asyik duduk di salah satu bangku di area tengah mal, membuat sketsa kubah kaca yang megah. Ghina dan Rayyan menikmati suasana, terhibur dengan air mancur dan berbagai dekorasi di dalam mal.
Puncak drama terjadi di sebuah toko pakaian branded. Anindya menemukan mantel musim dingin yang sangat cantik dan sedang diskon besar.
"Yah, lihat nih! Diskon 70%! Cuma dua juta!" seru Anindya dengan mata berbinar.
"Bu, kita kan sudah beli jaket tebal di Banjarmasin!" Lev mencoba mengingatkan.
"Tapi yang ini branded, Yah! Bahannya beda! Bisa buat gaya di Swiss nanti. Followers pasti suka kalau Ibu pakai ini!" Anindya mulai merengek.
Perdebatan sengit pun terjadi di tengah mal. Aisyah, Maryam, Ghina, dan Rayyan jadi penonton setia drama orang tua mereka.
"Ayah, kasihan Ibu. Jarang-jarang loh ke sini," bisik Aisyah, mencoba berpihak pada ibunya.
Lev menatap Anindya. Wajah istrinya penuh harapan. Di balik sikap humoris dan hasrat belanjanya, Lev tahu Anindya adalah istri yang hemat dan jarang meminta yang aneh-aneh. Perjalanan ini adalah hadiah untuknya juga.
"Oke, deal," kata Lev akhirnya, membuat Anindya bersorak kegirangan. "Tapi ini belanja terakhir di Manchester, ya! Di Swiss nggak ada belanja-belanja branded lagi!"
"Siap, Pak Suami terbaik di dunia!" Anindya langsung memeluk Lev.
Mereka keluar dari toko dengan Anindya menenteng tas belanja besar berisi mantel barunya. Wajahnya berseri-seri. Lev, di sisi lain, wajahnya agak pucat, tapi hatinya hangat melihat kebahagiaan istrinya.
Sebelum pulang, mereka makan siang di area food court yang luas, mencari makanan halal dengan menu ayam goreng yang mirip makanan Indonesia.
Trafford Centre menjadi saksi bisu kehebohan keluarga Ryley. Di sini, hasrat belanja Anindya bertemu dengan kepanikan Lev, diselingi tawa dan negosiasi manis. Hari itu, mereka kembali ke penginapan dengan koper yang mulai penuh, dompet yang menipis, tapi kenangan yang bertambah. Manchester, kota industri, kini juga menjadi kota mode dan belanja bagi keluarga Ryley.
